My Perfect Husband

My Perfect Husband
Ancaman pria sombong



Afif menatap Ryan, dari sorot matanya bisa dilihat kalau ada perintah di baliknya.


"Kami tidak ingin berbasa-basi, jadi kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar putri Anda. Lebih tepatnya, Tuan Afif menginginkan Nona Naynay untuk menjadi istrinya." Ryan menatap Hendrayan dan Yasmin yang tampak terkejut dengan alasan kedatangan mereka, begitupun dengan Naynay.


"Maaf, kami tidak bisa menerima lamaran ini!" tegas Hendrayan.


"Anda pasti tahu siapa saya, mudah bagi saya mengakuisisi perusahaan Anda." Afif mengancam dengan nada angkuhnya.


Hendrayan mengebrak meja kayu di depannya, dia begitu merasa marah mendengar ancaman CEO muda ini. "Apa seperti ini sikap dari CEO yang terkenal itu?" cibir Hendrayan.


Ryan ingin membalas, tapi tatapan Afif membuatnya memilih untuk diam.


"Saya bahkan bisa berbuat lebih, menyebarkan bahwa dia hamil, misalnya." Tersenyum setelah melirik Naynay yang wajahnya sudah pucat.


"Sialan!" Hendrayan berdiri dengan tangan mengepal, Yasmin segera menenangkannya.


"Tenang dulu, Pa!" ucap Yasmin sambil membawa suaminya itu untuk duduk kembali. Hendrayan duduk dengan mata menatap tajam Afif yang menatapnya datar. Sedangkan Ryan, dia diam menonton atas perintah tak terlihat dari Tuan Mudanya.


"Jika Anda sudah tahu kalau Naynay hamil, kenapa Anda mau menikahinya?" tanya Yasmin dengan ciri khasnya yang bicara lembut, nada suaranya tidak pernah meninggi sama sekali.


"Apa saya perlu mengatakannya?" Afif mengangkat sebelah alisnya.


"Kau ingin memperistri anak orang, Sialan! Dan dia sedang hamil, kenapa kau mau menikahinya?" bentak Hendrayan berapi-api, untungnya dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan darah tinggi. Mungkin sebentar lagi dua penyakit itu akan menggerogoti tubuhnya, jika memiliki menantu seorang Afif.


"Tidak ada alasan khusus untuk itu, saya hanya ingin dia menjadi istri saya." Masih dengan nada angkuhnya, matanya sedikit melirik Naynay yang hanya diam sejak tadi.


"Tidak, aku tidak akan menikahkan putriku denganmu!" Hendrayan masih tegas menolak.


"Tampaknya Anda tidak peduli dengan kehidupan para karyawan perusahaan, ya." Afif mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kau mengancamku lagi?" Hendrayan membuka sebelah sendalnya dan ingin melemparkannya pada Afif. Sejauh ini, hanya Hendrayan yang begitu berani pada Tuan Muda ini.


"Jaga batasan Anda, Tuan!" ucap Ryan dingin.


"Kau pikir aku takut pada kalian? Ambil perusahaan itu dan pergi dari rumahku!" Hendrayan berdiri dengan masih memegang sebelah sandalnya.


"Pa." Naynay berdiri dan memegang tangan Hendrayan yang memegang sandal.


"kamu duduk aja, biar Papa yang ngurus orang-orang sombong ini!" ucap Hendrayan dengan napas memburu.


"Ihh, pake dulu itu sandalnya!" Naynay mengambil sandal yang dipegang papanya itu dan menaruhnya di samping kaki papanya.


"Itu buat Papa lempar, Nay." Tapi kakinya bergerak memakai sandalnya, dasar Hendrayan.


Afif tersenyum menatap Naynay yang punya cara sendiri menenangkan Hendrayan yang tadinya seperti orang kesetanan.


"Pa, Papa nggak bisa lepasin perusahaan begitu aja cuma gara-gara Nay. Masa cuma karena satu orang, ribuan karyawan Papa kehilangan tempat kerja," ucap Naynay pelan. "Dan perusahaan itu juga dibangun dengan kerja keras, nanti kakek marah lho sama Papa."


"Kamu lebih penting daripada perusahaan, Nay." Hendrayan memegang bahu Naynay.


"Tapi perusahaan itu penting buat karyawan Papa. Perusahaan kita nggak cuman satu, dan ribuan orang menggantungkan hidupnya di sana!" ucap Naynay membuat Hendrayan terdiam.


"Jadi kamu mau menikah dengan laki-laki sialan itu?" tanya Hendrayan yang sudah menangkap maksud ucapan putrinya.


"Jangan buat saya kehilangan kesabaran, Tuan Hendrayan!" ucap Ryan yang telinganya sudah panas karena Hendrayan menyebut Afif laki-laki sialan.


"Hanaya!!" bentak Hendrayan ketika melihat Naynay mengangguk pelan.


"Pa, nanti darah tinggi lho," ujar Naynay yang membuat Yasmin tertawa tanpa suara. Putrinya itu bercanda di situasi yang salah, tapi selalu bisa menurunkan emosi suaminya.


"Papa nggak punya riwayat darah tinggi," ucap Hendrayan sambil menggeleng.


"Ya kalau Papa sering-sering ngomong kayak gitu, siapa yang menjamin kalau....."


"Udah! Apa mau kamu sebenarnya?" Hendrayan mengintrupsi perkataan Naynay yang seakan mendoakannya punya penyakit.


"Pa, Naynay menerima tawaran pernikahan ini. Demi perusahaan, demi karyawan-karyawan Papa, dan demi anak yang Nay kandung." Naynay menghela napas pelan, mempertahankan sikap biasa saja yang dia peragakan sejak tadi. Padahal dalam hatinya, dia begitu takut.


"Nay." Hendrayan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Pa, nanti kalau Pada bangkrut, nanti dedeknya nggak bisa nikmatin apa yang udah Papa beri buat Naynay dan dia. Nanti Nay diadopsi sama Tante Kiran-mama Rania, emangnya Papa mau?" Hanya ini yang bisa Naynay katakan, dia tidak bisa membiarkan Hendrayan mengorbankan perusahaan hanya karena dirinya.


Afif awalnya mengira Naynay menerima tawaran pernikahan ini karena uang, sama seperti wanita luaran sana yang menyukai uang. Tapi setelah mendengar dan melihat bagaimana Naynay tidak mau Hendrayan mengorbankan perusahaan, dia tahu kalau Naynay bukanlah wanita matre.


Hendrayan menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Naynay benar, dia tidak bisa mengorbankan perusahaan begitu saja. Laki-laki sombong yang menjadi tamunya hari ini bisa menghancurkan semuanya dalam sekejap mata. Dan juga, masa depan calon cucunya juga harus dipikirkan.


"Kau sudah mendengar apa kata Naynay, kapan pernikahannya?" tanya Hendrayan kepada Afif yang masih duduk dengan wajah datarnya.


"Empat hari lagi," ucap Afif singkat sambil menatap Naynay yang menunduk menutupi wajah sedihnya.


"Saya sudah menyiapkan semuanya, empat hari lagi saya akan menjemput Nona Nay," ujar Ryan.


Akhirnya, setelah membicarakan masalah pernikahan itu, Afif pulang ke rumahnya. Melemparkan jasnya ke sembarangan arah, Afif menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Mengingat kembali bagaimana ekspresi gadis yang rumahnya dia datangi tadi.


"Kenapa dia terlihat tidak senang bisa menikah denganku? Seharusnya dia bersyukur atau bersujud karena akan menikah dengan laki-laki setampan ini. Sedangkan dia, wajahnya biasa-biasa saja." Bergumam sendiri sambil menatap layar hpnya, Afif sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri.


"Karena roti saja dia tersenyum lebar, tapi mendengar akan menikah denganku dia tidak tersenyum sedikitpun." Masih bergumam sambil menggerutu.


"Tapi dengan tubuh sedikit berisi seperti itu, kenapa dia terlihat menggemaskan? Apalagi caranya menenangkan Tuan Hendrayan yang hampir melemparku dengan sandalnya." Senyum tampan yang sudah lama tidak terlihat, terbit di bibir Afif. Ingatannya kembali memutar kilas balik bagaimana Naynay dengan santainya menyuruh Hendrayan memakai sandalnya kembali.


Afif melihat nomor yang dikirimkan Ryan padanya, nomor telepon Naynay. Dia memikirkan nama apa yang akan dia sematkan untuk Naynay. Afif tersenyum sembari jempolnya mengetik sebuah nama untuk anggota baru daftar kontaknya itu.


"Dia akan semakin menggemaskan dengan nama ini." Afif melemparkan hpnya dengan bibir yang masih tersenyum.


"Tunggu, apa aku harus menyiapkan baju yang lebar untuknya?" Tiba-tiba bersemangat dan bangun dari posisi rebahannya, Afif meraih hpnya kembali.


.


.


.


.


.


Note Ryan hari ini : "Apa yang sebenarnya terjadi dengan manusia sempurna ini?"


...#Vote #Favorite #Rate #Like ♡...