
Naynay mengulas senyumnya ketika para tamu undangan mengucapkan selamat dan dibumbui sedikit jilatan kepadanya dan Afif yang berdiri gagah di sampingnya. Kata "SAH" telah diucapkan oleh saksi kedua mempelai setelah Afif menyerukan ijab qabul dengan lantang beberapa jam yang lalu. Sekarang adalah waktu untuk mereka menerima ucapan selamat dari tamu.
Pernikahan diadakan di salah satu hotel mewah milik Cavin Group. Para tamu tidak boleh membawa ponsel mereka, bahkan wartawan pun tidak diizinkan masuk. Afif tidak terlalu suka jika kehidupannya menjadi konsumsi publik, termasuk soal istrinya.
Ryan sudah mengatur semuanya, tak terkecuali ancaman kepada para tamu undangan yang berniat menyebarkan identitas istri Tuan Muda nya. Tentu tidak ada yang berani menentang, karena mereka masih mau hidup. Sekretaris ini bisa menghancurkan hidup mewah mereka jika berani melawan.
Tangan Naynay yang memeluk lengan kiri Afif sudah berkeringat, dia berusaha melawan rasa takutnya dengan sesekali menarik napas panjang. Ternyata kejadian yang membuatnya hamil itu begitu berdampak bagi kesehatan mentalnya.
Afif sedikit melirik Naynay yang masih tersenyum, dia tentu tahu kalau wanita itu sedang melawan ketakutannya. Tapi dia diam saja, ingin melihat sampai di mana wanita yang sudah berstatus istrinya ini bisa menahan rasa takutnya itu.
Rania berada di urutan paling akhir dan langsung memeluk Naynay, dia sudah menemani Naynay sejak proses make-up tadi siang. Kalau sahabatnya itu sudah menikah, berarti mereka akan jarang bisa keluar bersama.
"Selamat, ya. Aku cuma bisa berdoa yang terbaik buat kamu." Rania berucap lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Kok kamu nangis sih, Ran? Cengeng ihh," ledek Naynay sambil melepas pelukannya.
"Aku itu sedih tapi malah kamu ledek, sahabat macam apa itu?" ujar Rania jengkel sambil mengusap air matanya.
"Canda doang, makasih udah doain dan juga nemanin aku sejak tadi siang." Naynay tersenyum, walaupun matanya juga berkaca-kaca karena pikirannya sama dengan yang dipikirkan Rania.
"Yaudah, aku pulang, ya. Sampai jumpa besok di sekolah!" Rania menunduk sebentar kepada Afif dan pergi dari sana.
Naynay melepaskan rangkulan tangannya dari Afif karena acara telah usai. Dia berjalan terburu-buru sambil mengangkat gaunnya ke arah toilet, perutnya sejak tadi sudah terasa tidak nyaman. Afif yang melihat Naynay pergi pun menyusulnya ke toilet.
Di toilet, Naynay memuntahkan apa yang sebelumnya dia makan. Yasmin yang sempat melihat Naynay menuju ke sini tadi juga menyusul dan sedang memijat tengkuk putrinya itu.
"Udah nahan dari tadi, ya?"tanya Yasmin dan membantu membersihkan sisa air di bibir Naynay.
"Udah, Ma," jawab Naynay lemas, matanya terpejam sambil memijit pelipisnya.
Afif yang melihat Naynay ditemani oleh Yasmin, memutuskan untuk pergi menemui Ryan. Dia tidak tahu kenapa Naynay tiba-tiba muntah, tapi dari pertanyaan Yasmin kepada Naynay tadi dia tahu kalau gadis itu sudah merasa tidak nyaman sepanjang acara.
"Suruh sopir mengantarnya pulang! Antar aku ke suatu tempat!" ucap Afif kepada Ryan ketika mereka berjalan menuju mobil.
Ryan melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju tempat yang ingin didatangi sang Tuan Muda, setelah sebelumnya dia menghubungi sopir untuk membawa Naynay pulang ke rumah nantinya
Sedangkan Naynay, Yasmin menyuruhnya untuk mengganti pakaian. Ribet nanti kalau memakai gaun pengantin mewah itu di dalam mobil. Yasmin juga membantu menghapus make-up Naynay, dia menolak perias yang menawarkan untuk membantu.
"Ma, nanti kalau Nay pengen makan sesuatu tengah malam, gimana?" tanya Naynay sambil mengikat rambutnya yang sepunggung itu.
"Afif sudah tahu kalau kamu sering lapar tengah malam, bisa jadi dia sudah siap untuk itu." Yasmin tersenyum sambil merapikan poni tipis Naynay.
"Dia tahu dari mana?" tanya Naynay heran, bagaimana bisa laki-laki sombong itu tahu.
"Dia yang bertanya langsung sama Mama," jawab Yasmin yang membuat Naynay terkejut.
"Dia nanya apa aja sama Mama?" Naynay menatap Yasmin meminta jawaban.
"Udah, nggak penting juga. Ayo kita keluar!" ucap Yasmin dan menarik Naynay untuk keluar dari ruang ganti itu. Naynay mengerucutkan bibirnya karena mamanya itu tidak mau menjawab pertanyaannya.
Hendrayan sudah menunggu di depan lobi hotel bersama dengan sopir yang tadi Ryan hubungi. Hendrayan sebenarnya merasa marah karena Afif meninggalkan Naynay, tapi dia tidak mau marah-marah di sini.
"Kamu diantar sopir, Nay. Afif ada keperluan mendesak katanya," ujar Hendrayan jengkel.
"Yaudah, Nay pergi dulu." Naynay memeluk dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Kalau ada apa-apa, kabarin kita!" ingat Yasmin dengan mengangkat jari telunjuknya.
"Iya, bye!" Naynay melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil. Barang-barang Naynay sudah dijemput oleh orang suruhan Ryan tadi pagi, jadi Naynay tidak membawa apapun selain tas kecil yang berisi hp dan dompetnya.
Di dalam mobil, Naynay mengelus pelan perutnya yang masih rata. Dia tersenyum kecut mengingat dirinya sudah menikah. Rasa takutnya kepada laki-laki masih tinggi, tapi sekarang dia sudah menikah dan pastinya akan dihadapkan dengan ketakutannya itu setiap hari.
'Aku harus bertahan, setidaknya delapan bulan ke depan,' batin Naynay menyemangati dirinya.
"Terima kasih, Pak." Naynay tersenyum kepada sopir itu.
"Sama-sama, Nona." Sopir itu membalas dengan semangat karena baru kali ini ada orang rumah ini yang mengucapkan terima kasih padanya. Simpel sekali membuat orang merasa senang, cukup dengan menghargai apa yang mereka lakukan untukmu.
Di depan pintu, seorang pria yang lebih tua dari Hendrayan sudah menunggu Naynay, juga ada puluhan penjaga di samping kanan kiri menyambutnya di rumah ini. "Selamat datang, Nona. Saya kepala pelayan di rumah ini, nama saya Hen. Mari, ikuti saya!" Dia memperkenalkan dirinya dan berjalan memasuki rumah mewah itu.
'Namanya mirip sama nama papa,' batin Naynay tertawa tanpa suara.
Naynay mengikuti Pak Hen yang berjalan didepannya. Mereka menaiki tangga dan berjalan kembali menuju salah satu kamar di sana.
"Silakan masuk, Nona. Barang-barang Anda sudah ada di dalam lemari di ruang ganti." Pak Hen membukakan pintu kamar untuk Naynay.
"Pak Hen, Naynay bisa minta tolong?" tanya Naynay ragu, pasalnya dia tidak pernah meminta kepada orang yang lebih tua sebelumnya. Kalian kan tahu, kalau Naynay selalu melakukan semuanya sendiri.
"Silakan, tidak perlu sungkan, Nona." Pak Hen sedikit terkejut karena istri majikannya ini begitu menghargai orang lain.
"Tolong buatkan teh jahe hangat besok pagi, ya, Pak. Buat Nay minum sebelum berangkat sekolah," ucap Naynay sambil tersenyum.
"Baik. Apa ada lagi, Nona?" tanya Pak Hen.
"Nggak, Pak. Makasih udah nganterin Nay ke kamar," ucap Naynay berterima kasih kepada pria tua itu.
"Tidak masalah, Nona. Selamat istirahat." Pak Hen membungkukkan badannya sebelum berlalu dari sana.
Naynay masuk dan menutup pintu kamar kembali. Dia berjalan menuju pintu yang terbuka. Itu adalah ruang ganti yang isinya lemari kaca semua. Dia mendekati salah satu lemari kaca besar itu, yang ada gantungan kunci bergambar ibu hamil di sana. Gantungan kunci itu sangat imut dan lucu.
Naynay membuka pintu lemari yang menyamping itu, semuanya pakaian baru. Karena memang Afif melarang Naynay membawa pakaiannya ke sini. Hanya laptop dan buku-buku pelajarannya yang dibawa orang suruhan Ryan.
Naynay mengambil satu set piyama tidur dan berjalan ke kamar mandi, untuk mencuci wajah, tangan, dan kakinya sebelum beranjak tidur. Setelah itu dia berdiri cukup lama di samping tempat tidur.
"Tidur di mana, ya?" gumamnya sambil menggigit jari telunjuknya.
"Dia marah nggak, ya, kalau aku matiin AC nya?" Mata Naynay menatap remot AC yang ada di atas nakas.
"Kalau nggak dimatiin, nanti muntah lagi dong." Bimbang, masih menggigit jarinya.
"Matiin aja deh." Naynay meraih remot AC dan mematikannya. Inilah yang membuat Naynay muntah di hotel tadi, dia tidak cocok lagi dengan pendingin udara ini sejak hamil. Bahkan AC di kamarnya sudah diganti kipas angin, karena dia juga merasa panas malam hari. Selimutnya pun dia simpan di dalam lemari karena tidak pernah dipakai lagi.
Naynay mengambil bantal dan berjalan menuju sofa kamar. Dia berbaring terlentang dengan kedua tangan diatas perut. Karena kelelahan, akhirnya Naynay tertidur dengan jari jempol yang sudah berada di depan bibirnya.
Di bawah sana, Afif baru saja pulang dan berjalan menuju kamar, diikuti Pak Hen di belakangnya. Pria tua ini tidak akan tidur sebelum memastikan majikannya pulang, walaupun sudah hampir tengah malam seperti sekarang. Pak Hen hanya mengantar sampai di depan pintu kamar, setelah Afif masuk, dia akan pergi pertanda tugasnya hari ini selesai.
Afif mendekati Naynay yang tertidur di sofa. Dia mendesah dan mengangkat tubuh mungil itu ke tempat tidur. Setelah membaringkan dan menyelimuti tubuh Naynay, Afif masuk ke kamar mandi.
"AC nya mati?" gumam Afif ketika keluar dari kamar mandi dan menyadari kalau suhu kamar terasa berbeda. Pandangannya beralih pada Naynay yang sudah tidak memakai selimut lagi, bahkan kakinya bergerak kecil menendang selimut itu.
Afif naik ke atas tempat tidur dan berbaring menyamping menghadap Naynay. Tangannya memakaikan kembali selimut pada Naynay, tapi kembali ditendang oleh istrinya itu. Tampaknya dia kepanasan memakai selimut.
Afif mematikan lampu dan tidur sambil memeluk selimut yang dia gulung asal-asalan. Tidak menghidupkan AC kembali karena sadar kalau istrinya merasa tidak nyaman kalau dinyalakan.
.
.
.
.
.
Bersambung.....