
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian rumahan, Naynay mendekati Afif yang sibuk dengan hpnya di atas tempat tidur. Ia ikut duduk sambil bersandar di samping suaminya itu.
"Ini Hpmu," ucap Afif memberikan benda yang sempat dia sita dan utak-atik itu kepada Naynay. "Dan ini untukmu juga, gunakan semaumu."
Naynay memandang Black Card di tangannya. "Terima kasih, Kak."
'Ini bentuk nafkahnya kepadaku, kan?'
Mata Naynay beralih memandang tumpukan paket yang berada di depan sofa. Apa suaminya itu yang memesan semua itu?
"Ayo kita buka paketmu." Afif turun dari tempat tidur dan membawa Naynay duduk di karpet bulu yang terbentang di depan tumpukan paket itu. Afif masih memakai pakaian kerjanya tadi karena tidak sabar melihat reaksi si Koala Bunting yang menggemaskan ini.
"Naynay nggak pesan apapun perasaan," ucap Naynay terkejut ketika mereka sudah duduk.
"Coba kau buka dulu," ucap Afif sambil menyerahkan satu paket berukuran kecil dan cutter kecil.
Naynay membuka paket itu dan terkejut mendapati sepatu berwarna putih. Sepatu yang seingatnya mirip dengan model sepatu yang dia simpan di hpnya.
Naynay membuka paket itu satu per satu dan semua barang itu adalah bentuk nyata dari barang yang dia capture dari sosial media. Ini pasti ulah makhluk tampan di sampingnya ini.
"Ini Kakak semua yang beliin?" tanya Naynay menatap suaminya yang sok sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?" Afif malah balik bertanya.
"Nay suka, tapi ini terlalu berlebihan." Naynay menggaruk tengkuknya.
"Apa aku salah jika membahagiakan istri sendiri?" Wajah tampan itu sudah mulai tidak enak dipandang, tangannya juga sudah menyilang di depan dada.
"Bukan gitu," ucap Naynay gelagapan karena suaminya itu salah paham.
"Terus?" Afif mengangkat sebelah alisnya.
Naynay memutar tubuhnya menghadap suaminya yang wajahnya masih belum berubah. "Gini, Naynay memang suka dan seneng banget sama semua ini. Barang-barang ini memang ingin Naynay beli, tapi buat anak di panti."
"Semua yang Nay capture itu adalah barang-barang yang diinginkan anak-anak sebenarnya," jelas Naynay membuat Afif menyunggingkan senyum lebar.
"Aku pikir kau tidak suka," ucap Afif membuat Naynay menggeleng.
"Baiklah, besok kau ikut aku ke suatu tempat." Afif berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Naynay yang menatap bingung semua barang di depannya. Semua barang itu sesuai dengan ukurannya, jadi tidak ada pilihan lain selain memakai semuanya.
Naynay memanggil pelayan untuk mencuci semua pakaian dan sepatu. Dia tidak bisa memakai barang-barang itu sebelum dicuci terlebih dahulu. Sedangkan segala aksesori, Naynay membersihkannya dengan tisu yang diberi carian khusus agar terhindar dari kuman. Ini sudah menjadi kebiasaannya, karena Naynay termasuk orang yang parno akan penyakit.
***
Karena besok libur, jadi Naynay memutuskan untuk nonton drakor sampai puas. Sedangkan Afif sudah tidur sejak tadi di samping Naynay seraya memeluk perut istrinya itu. Naynay tadi memilih menonton dengan berbaring di karpet bulu. Afif hanya menonton sebentar karena kurang suka dengan tontonan itu, jadi dia memilih tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, perut Naynay sudah dilanda lapar. Dia melepaskan pelukan Afif dengan hati-hati dan mematikan tv. Dia keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ke dapur dan mengacak isi lemari pendingin.
"Apa yang kau lakukan?"
Naynay yang sedang membuka lemari pun menoleh ke arah sumber suara. Di samping meja makan, Qiara berdiri sambil menatap tajam padanya. Ahh, sekali saja coba untuk tidak memberikan tatapan seperti itu, Naynay sudah bosan melihatnya.
"Aku mau memasak." Naynay mengambil teflon dan memanaskannya di atas kompor dengan sedikit minyak.
"Lumayan, setidaknya aku masih bisa bertahan hidup jika jatuh miskin." Naynay menuangkan telur yang sudah dikocok dan diberi irisan wortel dan sosis ke atas teflon. Dia bersikap santai menghadapi adik suaminya ini dan memberikan jawaban kurang logis.
"Huh! Aku heran, kenapa kak Afif mau menikahimu yang bahkan jauh dari kata sempurna." Qiara berusaha memancing emosi Naynay.
"Aku tidak bisa menjawab, coba kau tanyakan pada kakakmu agar kau bisa tidur setelah ini." Sambil memasak, Naynay membalas ucapan Qiara.
"Jangan karena kakakku menikahimu, kau bisa seenaknya di rumah ini!" bentak Qiara kesal karena melihat Naynay tidak terpengaruh sedikit pun.
"Aku hanya meminjam dapur ini sampai delapan bulan ke depan, setelah itu kau mungkin tidak akan melihatku lagi." Naynay tersenyum ke arah Qiara yang masih menggeram kesal.
"Jadi kau hanya akan menjadi istri kakakku selama delapan bulan?" tanya Qiara sambil memicingkan matanya.
"Mungkin, tapi kemungkinan besar begitu." Naynay masih tenang, tangannya bergerak memindahkan telur dadar ke atas piring.
"Baguslah, aku harap delapan bulan berlalu dengan cepat." Qiara tertawa dan berjalan meninggalkan dapur setelah meneguk segelas air putih.
Naynay duduk di kursi dan mulai menyantap telur dadar yang diberi saus pedas di depannya. Perasaannya menjadi tidak menentu setelah mengatakan kata-kata tadi pada Qiara. Keinginan untuk menikah dengan orang yang saling mencintai sudah pupus sejak dia hamil. Ditambah sekarang, Naynay merasa menjadi orang yang merusak hubungan kakak dan adik ini.
Setelah makanannya habis, Naynay kembali ke kamar dan mendapati Afif masih berada di karpet bulu tadi. Naynay mengambil selimut dari tempat tidur dan membawanya ke karpet. Dia ikut berbaring di sana dan tak lupa menyelimuti suaminya.
"Semoga delapan bulan ini berjalan dengan lancar, ya, Sayang." Naynay mengelus perutnya sambil mengulas senyum yang menyimpan luka.
Naynay menatap Afif yang tetap tampan walau sedang tidur itu. "Setelah ini berakhir, Nay harap hubungan kalian bisa lebih baik."
Tak lama setelah mengatakan kalimat singkat itu, Naynay sudah lelap dalam tidurnya yang menyamping menghadap Afif.
Mata tajam Afif terbuka dan menampilkan kilat kemarahan. Dia tidak suka mendengar ucapan Naynay yang menyiratkan rasa tidak nyaman jika di dekatnya.
"Kita bahkan belum genap sebulan menikah, tapi kau dengan beraninya mengatakan kalimat-kalimat menjengkelkan itu." Nada bicara Afif benar-benar terdengar menyeramkan.
Sebenarnya dia sudah mendengar semua pembicaraan Naynay dengan Qiara tadi di dapur. Dia tidak mendapati Naynay di sampingnya, jadi dia memutuskan untuk mencari di dapur karena ini adalah jam makan Naynay yang abnormal. Tapi setelah tiba di dapur, telinganya mendadak panas mendengar pembicaraan yang menurutnya menjengkelkan itu.
"Qiara, kau sudah keterlaluan mencampuri urusanku." Tangan Afif mengepal geram karena tindakan sang adik yang buruk.
"Semua keputusan ada di tanganku, kau tidak punya hak untuk menentukan apa yang terjadi ke depannya, Hanaya." Afif tersenyum miring dan membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Diciumnya kening putih mulus istrinya itu bertubi-tubi.
"Terlalu cepat jika aku memintamu melayaniku di ranjang, tapi jangan harap kau bisa lari dari kewajibanmu itu."
Apa kau mulai mempunyai perasaan pada koala bunting itu?
.
.
.
.
.
Selamat membaca ♡