My Perfect Husband

My Perfect Husband
"Kemari"



Naynay baru saja selesai makan malam. Pak Hen yang mengantarkan makan malam ke kamar atas perintah Afif. Itu karena Naynay terlalu nyenyak tidurnya sejak sore tadi hingga melewatkan jam makan malam. Karena Naynay belum makan sejak pulang sekolah tadi, jadi Afif membangunkannya dan meminta makan malam mereka diantar ke kamar. Afif sendiri juga belum beranjak dari tempat tidur sebelum Naynay bangun tadi.


"Minum susumu!" Afif menyodorkan segelas susu coklat hangat di depan bibir Naynay.


Ketika tangan Naynay bergerak untuk mengambil gelas tersebut, Afif menjauhkan tangannya yang memegang gelas. Naynay paham, itu berarti Afif ingin dia minum dari tangan suaminya itu. Karena tidak mau membuat suaminya kesal, Naynay menempelkan bibirnya di gelas dan meminum susu coklat itu sampai habis.


Afif meletakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja. Matanya beralih menatap kumis tipis Naynay yang basah dengan sisa susu coklat yang tadi diminumnya.


"Kemarilah!" Afif menggerakkan tangannya menyuruh Naynay mendekat.


Naynay menggeser duduknya sampai lututnya menyentuh lutut Afif. Perasaannya menjadi tidak enak karena kata "Kemari" atau sejenisnya yang keluar dari mulut Afif itu selalu membawa dampak buruk bagi jantungnya.


Mata Naynay terbelalak karena Afif tiba-tiba mencium bibirnya. Dadanya berdebar begitu cepat, wajahnya juga memanas dan bisa dipastikan sudah memerah. Tangannya mendorong dada bidang Afif hingga ciuman itu terlepas. Sudah dua kali laki-laki itu menciumnya tiba-tiba seperti ini.


Beruntunglah, hp Naynay yang masih berada di atas tempat tidur berdering. Itu bisa membuat Naynay lari dari rasa canggung yang dia rasakan. Dengan cepat dia berjalan menuju hpnya yang masih berbunyi lumayan nyaring. Afif sendiri mengusap bibirnya sambil tersenyum lebar setelah mencicipi rasa manis bibir Naynay yang bercampur sisa susu coklat tadi.


Mata Naynay berbinar ketika melihat nama Yasmin yang tertera di layar hpnya. Jarinya menggeser tombol hijau dengan semangatnya.


"Halo, Nay!"


"Mama, Nay kangen!" pekik Naynay semangat ketika suara Yasmin terdengar di sana.


"Hahaha... Baru juga dua hari di sana, Nay."


"Kangen ayam pedas manis buatan Mama maksudnya, hehehe."


"Jadi sama Mamanya nggak kangen nih?" Suara Yasmin terdengar sebal di seberang sana.


"25% kangen Mama, 25% kangen papa, dan 50% kangen masakan Mama!"


"Nay, kamu beneran nggak kangen sama Papa?" Suara berat Hendrayan terdengar.


"Kangen, Pa! 25% doang tapi." Naynay tertawa, menular pula pada Afif yang juga tertawa pelan di sofa. Awalnya dia begitu tertegun melihat senyum dan tawa lepas Naynay malam ini.


"Mentang-mentang udah punya suami, jadi lupa sama Papa." Hendrayan juga sebal karena dikerjai oleh anaknya.


"Papa sensian, ihh. Naynay kangen banget sama Papa Mama, kangen banget malahan."


"Papa udah enggak." Suara Hendrayan berubah ketus, diiringi dengan gelak tawa Naynay dan Yasmin.


"Biarin aja Papa, Nay. Udah tua tapi masih aja ngambekan." Terdengar suara Hendrayan yang ngomel-ngomel nggak jelas di sana. Tidak terima diejek oleh istri dan anaknya.


Hp Naynay direbut oleh Afif, ditempelkannya benda pipih itu di telinganya sambil membawa tubuh istrinya itu berbaring di atas tempat tidur. Naynay sudah berusaha meringsut menjauh, tapi tangan kanan Afif melingkar erat di pinggangnya.


"Selamat malam, Mama mertua." Mencium kening Naynay sekilas sambil tersenyum.


"Selamat malam, menantu!" balas Yasmin dengan suara lembutnya.


"Hei, berikan hpnya kepada anakku kembali!" Hendrayan merebut hp dari tangan Yasmin ketika mendengar suara menantu kurang ajarnya.


"Selamat malam, Papa mertua." Afif tersenyum tipis karena nada bicara Hendrayan yang menyiratkan rasa tidak suka.


"Maaf, Papa mertua, tapi Naynay harus istirahat karena aku tidak mau dia kelelahan. Papa mertua bisa menghubungi kembali besok pagi." Afif tersenyum dan mencium pipi Naynay yang menggeliat ingin keluar dari pelukannya.


'Istirahat kepalamu, aku baru saja bangun dari tidurku dua puluh menit yang lalu,' batin Naynay yang mulai lelah berusaha lepas dari belitan jelmaan ular tangga ini.


Afif mematikan sambungan telepon dan melemparkan hp Naynay kembali. Telinganya sudah panas karena ocehan dari mulut Hendrayan yang pedasnya setara dengan mulut ibu-ibu depan komplek.


"Kak, sesak." Naynay menyenggol pelan tangan Afif yang memeluknya.


"Aku lupa kalau yang aku peluk adalah manusia." Afif tertawa dan melonggarkan pelukannya hingga Naynay bisa bernafas dengan baik.


"Kak, Nay boleh pinjam hp untuk malam ini aja, nggak?" tanya Naynay ragu. Pasalnya dia baru ingat sesuatu.


"Aku tidak suka mengulangi apa yang sudah aku katakan, Hanaya." Matanya mulai menatap tajam.


Naynay tidak berkata apapun lagi, dia hanya diam sambil menggigit jarinya. Dia sangat ingin menonton drakor yang baru saja dikirim oleh Rania tadi pagi. Perasaannya yang lebih sensitif membuat matanya sudah berkaca-kaca.


Afif menghela napas pelan, menghadapi wanita bukanlah hal yang biasa dia lakukan. Pacaran saja belum pernah, tapi mendadak punya istri yang sedang hamil dengan perasaan yang begitu sensitif. Dan lebih parahnya, istrinya masih SMA pula.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan hpmu?" Afif menarik pelan jari telunjuk Naynay dan meletakkannya di bibirnya. Menciumi jari yang tadi digigit istrinya itu.


"Nay pengen nonton drakor," jawab Naynay singkat dengan suara kecilnya.


"Baiklah, tapi ganti bajumu dengan baju tidur dulu!" Afif mengalah.


Naynay mengangguk antusias dan segera turun dari tempat tidur. Dia bahkan berjalan terburu-buru menuju ruang ganti. Mengambil satu set piyama berwarna navy, Naynay dengan cepat mengganti pakaiannya.


Sedangkan Afif sedang berselfi ria dengan hp Naynay selagi menunggu istrinya mengganti pakaian. Dari sekian banyak foto yang dia ambil, satu yang paling bagus dia jadikan sebagai wallpaper hp istrinya itu. Wajah tampan yang terpahat sempurna itu sudah terpampang jelas di layar utama hp Naynay.


"Kak, Nay udah selesai. Ayo nonton!" Naynay naik ke atas tempat tidur dan merangkak mendekati Afif yang bersandar pada sandaran tempat tidur. Dia begitu semangat ingin menonton drakor yang baru rilis itu.


"Kau mau pakai hp atau apa?" tanya Afif sambil memberikan hp istrinya itu kembali.


"Kakak punya banner putih sama proyektor, nggak? Kalo ada, kita pakai itu aja." Naynay mengingat kalau tadi Rania juga memberikan flash disk yang pernah dipinjamnya beberapa hari lalu, kemungkinan drakor itu juga sudah ada di sana.


"Ada, di ruang kerjaku."


"Ayo, kita ambil!" Naynay menarik tangan Afif tanpa sadar dan menyeret suaminya itu menuju ruang kerjanya. Afif sendiri hanya pasrah, tapi di dalam hatinya dia senang melihat Naynay yang sudah bisa melawan rasa takutnya.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡