My Perfect Husband

My Perfect Husband
1-Day



Naynay sedang duduk di kursi santai balkon kamarnya, ada Rania juga yang duduk di sampingnya. Hari ini Naynay tidak pergi sekolah, itu karena pemilik sekolah sekaligus calon suaminya yang melarangnya. Karena besok adalah hari pernikahan, jadi Naynay harus cukup istirahat. Itu alasan yang Ryan sampaikan karena gengsi sang Tuan Muda yang tidak mau mengatakannya langsung.


"Ran, besok aku bakalan nikah," ucap Naynay yang membuat Rania langsung tersedak soda yang sedang diminumnya.


"Nay, ini bukan tanggal satu April, kamu mau ngeprank aku?" Rania tertawa tak percaya, membawa-bawa hari usil sedunia pula.


"Aku serius, itu makanya aku izin sekolah hari ini dan besok." Naynay tidak menatap Rania sedikitpun, matanya hanya fokus sejak tadi pada kupu-kupu putih yang hinggap di ibu jari kakinya.


"Nay, dari ekspresi kamu, aku yakin kamu nggak lagi bercanda." Rania memutar tubuhnya menghadap Naynay yang masih menatap objek yang sama.


"Kemaren, dia datang ke sini buat lamar aku. Papa nggak nerima, tapi dia mengancam akan menyebarkan berita aku hamil." Mata Naynay bergerak mengikuti kupu-kupu yang terbang menuju tangannya.


"Dia tahu kalau kamu hamil? Tapi kenapa dia mau nikah sama kamu?" tanya Rania terkejut. "Maaf, Nay. Bukan maksud aku bilang kalau tidak ada laki-laki yang mau nikahin kamu," ucap Rania dengan wajah bersalah, menyadari letak kesalahannya.


"Hahaha, santai aja. Emang gitu kan, Ran." Naynay tertawa masam.


"Dia bilang kalau dia ingin aku menjadi istrinya sampai mengancam akan mengakuisisi perusahaan. Papa tetap nolak, papa bilang kalau aku lebih penting daripada perusahaan. Tapi bagi ribuan orang, perusahaan itu adalah rumah kedua mereka. Tempat mereka menghabiskan hari untuk bekerja, tempat mereka menggantungkan hidup.


Dan aku nggak bisa biarin mereka semua kehilangan pekerjaan hanya karena aku, yang sudah menjadi aib keluarga ini." Naynay menghapus air matanya yang menetes mengingat apa yang terjadi padanya.


"Nay, jangan sedih gitu dong!" ucap Rania yang matanya sudah berkaca-kaca, tangannya mengelus punggung Naynay yang bergetar karena menangis. Bersamaan dengan itu, kupu-kupu tadi terbang menjauh karena terusik oleh gerakan tubuh Naynay.


"Nay, om Hendrayan kan nggak mungkin nggak bisa melawan orang itu. Emangnya dia siapa, sampai bisa mengakuisisi perusahaan besar?" tanya Rania karena Hendrayan juga ditakuti dalam dunia bisnis karena kekejamannya.


"Afif Cavin Alvarendra," jawab Naynay singkat, mata Rania langsung terbelalak dibuatnya. Ayolah, siapa yang tidak tahu siapa Afif Cavin Alvarendra itu?


"Astaga, Nay!" pekik Rania sambil menutup mulutnya yang menganga lebar. "Laki-laki yang terkenal dingin dan tidak pernah senyum itu?"


"Maksudnya?" tanya Naynay bingung, pasalnya Afif selalu terlihat tersenyum padanya. Yaa, walaupun hanya senyum tipis yang diibaratkan selembar kertas.


"Kamu nggak baca artikel tentang dia? Yang namanya Afif Cavin Alvarendra itu tidak pernah terlihat tersenyum sedikitpun. Kekejamannya dalam memimpin perusahaan juga diketahui semua orang! Apalagi Cavin Group itu sudah menjadi kerajaan bisnis tersukses sejak dia menjadi CEO!" jelas Rania menggebu-gebu.


"Aku hanya sesekali menemui artikelnya, itupun tidak pernah aku baca." Naynay memainkan jari-jemarinya, tidak tertarik sama sekali.


"Nay, kamu yakin mau nikah sama dia?" tanya Rania tak yakin.


"Mau gimana lagi, Ran. Setidaknya, anggap aja ini sebagai permintaan maaf aku karena udah buat papa sama mama kecewa." Naynay tersenyum kecut sambil menghela napas kasar.


Rania tidak bisa berbuat apa-apa, keputusan yang Naynay ambil pasti sudah dipikirkannya dengan matang. Dan lagi, calon suami Naynay bukanlah orang sembarangan. Rania hanya bisa mendukung dan menyemangati Naynay.


"Aku nggak diundang nih?"tanya Rania pura-pura kesal.


"Ambil aja undangannya di dalam laci nakas, aku nggak ngundang siapa-siapa kok," ucap Naynay sambil meraih hpnya.


Rania mengangguk dan masuk ke kamar untuk mengambil undangan yang Naynay maksud. Ada sekitar sepuluh undangan di dalam laci, desainnya begitu mewah. Rania mengambil satu dan kembali ke balkon, bergabung dengan Naynay yang sedang melihat-lihat olshop peralatan bayi.


"Nay, undangannya cuma segitu?" Rania bertanya sambil membuka undangan yang berwarna hitam dengan corak emas itu.


"Nggak, kemaren sekretarisnya nganter sebanyak seratus undangan, tapi papa cuma ambil lima puluh. Dia pastinya ngundang banyak orang dong, jadi papa takut aku kelelahan kalau juga ngundang banyak koleganya. Sepuluh dikasih ke aku, yang empat puluhnya buat papa." Masih fokus dengan hpnya, Naynay menjelaskan kepada Rania.


"Ini undangannya bagus banget lho, Nay. Siapa yang milih desainnya?" Mata Rania benar-benar berbinar melihat undangan itu.


Rania meletakkan undangan itu di atas meja kecil di sana dan menatap Naynay yang masih fokus pada hpnya. "Nay, Rosi gimana?" tanyanya pelan membuat Naynay menoleh.


"Aku nggak ngundang dia, masih ragu dia bakalan ngerti atau enggak sama keadaan aku." Wajah Naynay kembali sendu mengingat sahabatnya yang satu itu.


"Ya udah, nggak usah undang kalau kamunya ngerasa nggak nyaman." Rania tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Naynay.


"Iya," ucap Naynay singkat.


"Ran, pernikahan ini akan dirahasiakan. Aku sudah bilang sama dia juga, dan dia tidak keberatan. Jangan kasih tahu yang lain, ya!" pinta Naynay memohon.


"Aman itu, Nay. Tapi nanti beli baju dedeknya bareng aku, ya!" Rania mengangkat kedua jempolnya dan menaikturunkan alisnya.


"Iya, enam bulan lagi tapi." Naynay tersenyum.


"Hehe, sekalian sama promot ig aku biar followersnya nambah." Rania memamerkan deretan gigi rapinya.


"Ihhh, dikasih hati minta jantung!" dengus Naynay mengerucutkan bibirnya.


"Ya biar aku bisa nyusul kamu yang followersnya udah jutaan, endorsenya ngantri lagi!" ucap Rania sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Iya, iya." Naynay hanya mengangguk pasrah.


Pintu kamar diketuk, Naynay dan Rania berjalan membuka pintu. Ternyata Yasmin yang membawa nampan dengan berbagai cemilan di atasnya.


"Mama mau gabung, sekalian ngemil bareng!" ucap Yasmin semangat dengan senyuman lebar.


"Ayo, Ma!" ucap Naynay dan menutup pintu kembali setelah Yasmin masuk.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Yasmin setelah mereka duduk di sofa kamar dan memegang cemilan kesukaan masing-masing.


"Ngobrol biasa aja, Tante. Ran kaget lho, pas Naynay bilang besok dia nikah!" ujar Rania dengan mulut penuh.


"Telan dulu itu yang di dalam mulut!" Naynay menutup mulut Rania dengan tisu.


"Nay, nanti kalau kamu nggak nyaman di sana, bilang sama Mama atau papa!" ucap Yasmin yang sebenarnya tahu kalau putrinya itu sedih.


"Iya, Ma." Naynay mengangguk kecil. Walaupun hatinya merasa takut, tapi Naynay selalu bersikap seolah-olah baik-baik saja. Naynay percaya kalau dia bisa bertahan setidaknya sampai anaknya lahir nanti. Tidak ada yang menjamin kalau Afif akan jatuh hati padanya, itulah yang dipikirkannya.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡