My Perfect Husband

My Perfect Husband
Rumah mertua



Meninggalkan kecanggungan akibat tragedi handuk melorot tadi, Afif mengajak Naynay ke pusat perbelanjaan. Gedung yang biasanya ramai dikunjungi ketika akhir pekan ini tampak sangat sepi, Naynay bahkan sampai merinding membayangkan adanya tindak kriminal yang baru terjadi di sini.


"Kak, kita pulang aja. Sepi banget, Nay takut." Naynay mengamit erat lengan Afif.


Mall ini benar-benar sepi, hanya ada karyawan-karyawan yang bertugas di setiap toko yang buka seperti biasa dan para pria kekar ber-jas dan berkacamata hitam yang berdiri di depan setiap toko. Tidak ada pengunjung satu pun yang terlihat.


"Aku mengajakmu ke sini berbelanja untuk anak-anak panti, jadi aku mengundur jam buka mall demi kenyamananmu." Santai sekali dia bicara seperti itu, tidak tahu apa kalau istrinya sudah merinding sejak tadi.


'Sedeng,' ucap Naynay dalam hati karena baru ngeh mall ini milik suaminya.


"Aku akan menunggumu di sini, mereka akan melayanimu!" Jari telunjuk Afif mengarah ke puluhan pelayan yang sudah berbaris rapi di depan toko.


Afif mencium kening Naynay sebelum beranjak duduk di sofa empuk yang disediakan salah satu toko, menghiraukan wajah terkejut istrinya yang dicium di depan umum begini. Naynay pun tidak bisa menolak kejutan yang terbilang berlebihan ini. Jam buka mall mundur beberapa jam dari yang seharusnya hanya karena Afif mau dia nyaman dalam berbelanja, jadi Naynay hanya bisa mengelus dada agar selalu sabar.


Naynay masuk ke dalam toko pakaian branded khusus anak-anak. Dia yang memakai masker hitam seperti biasanya tentu tidak dikenali siapapun, ya kecuali para bodyguard di sana yang pastinya harus tahu wajah Naynay agar selalu bisa memantau keadaannya jika jauh dari Afif.


Dibantu pelayan toko, Naynay memilih pakaian yang sesuai dengan yang diinginkan anak-anak panti. Naynay sudah mencatat semua barang yang akan dia beli di note hpnya. Afif juga sudah mengatakan kalau ada barang yang tidak ada di sini, dia akan melakukan pemesanan secara khusus.


Setelah sekian lama berkeliling dan memasuki satu per satu toko, Naynay mulai merasa lelah. Untungnya semua barang yang dia inginkan tersedia di sini, jadi tidak perlu repot-repot memesannya secara khusus. Semua belanjaan Naynay tadi akan dikirim langsung ke panti asuhan oleh orang suruhan Ryan. Naynay kembali ke tempat di mana dia meninggalkan Afif dengan sekretarisnya tadi.


"Sudah?" Afif menurunkan kakinya yang tadi selonjor di sofa panjang agar Naynay bisa duduk. Anggukan kepala Naynay berikan guna menjawab pertanyaan singkat suaminya.


Afif menangkup wajah Naynay dan membuka masker hitam yang menutupi wajah imut itu. Tidak ada seorang pun yang akan melihat wajah istri CEO sekaligus owner Cavin Group ini karena toko itu dilengkapi dengan tirai di dinding kacanya.


"Nay udah selesai belanjanya, kita pulang yuk!" ajak Naynay sambil menjauhkan wajahnya yang sudah terlalu dekat dengan wajah tampan yang terpahat sempurna di depannya.


"Nggak mau makan dulu?" Afif kembali mendekatkan wajahnya, membuat Naynay gelisah.


"Nay pengin makan masakan mama, Kakak bilang mau ngajak Naynay pulang kan?" Naynay mendapatkan alasan logis untuk segera keluar dari tempat yang seharusnya sudah buka sejak tadi ini.


"Baiklah, ayo!" Afif tidak punya pilihan lain karena katanya semua permintaan ibu hamil itu harus dituruti, kalau tidak nanti anaknya ileran.


Afif menggandeng tangan Naynay menuju mobil yang parkir di basement mall. Ryan sudah terlebih dahulu tiba di sana dan membukakan pintu untuk mereka berdua. Setelah memastikan tuan dan nonanya duduk dengan nyaman, Ryan masuk ke dalam mobil dan melaju menuju kediaman Hendrayan.


Menempuh perjalanan setengah jam, mereka akhirnya tiba di rumah mewah yang didominasi warna putih. Rumah yang ditinggali Naynay selama delapan belas tahun, terbilang singkat memang. Ketika mobil berhenti, Naynay langsung keluar dan berlari masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Afif. Sudah lebih dari seminggu Naynay tidak bertemu Hendrayan dan Yasmin, jadi wajar kalau dia sampai lupa jika sudah mempunyai suami.


Afif sendiri tertawa kecil melihat tingkah Naynay yang menurutnya lucu. Dia segera menyusul masuk ke dalam setelah Ryan membukakan pintu mobil untuknya. Tapi ketika dia hendak masuk, Naynay muncul di depannya dengan senyum paksa.


"Maaf, Naynay lupa ke sininya sama Kakak. Ayo masuk!" ujar Naynay yang menunduk karena malu.


Mereka masuk dan mendapati Yasmin sedang duduk di ruang keluarga sambil memangku sekotak macaron. Wajahnya dilapisi sheet mask dan matanya fokus pada layar laptop yang ada di atas meja, sedangkan dia sendiri duduk di karpet.


'Ini mama mertuaku?' Afif begitu terkejut melihat Yasmin yang kelakuannya mirip dengan istrinya dan Qiara, maskeran sambil menonton drama yang menurutnya membosankan.


"Nay!" Pekik Yasmin senang kala matanya menangkap sosok putrinya yang sangat dia rindukan. Yasmin berlari kecil dan memeluk erat tubuhnya Naynay.


"Kok nggak ngabarin kalau kalian mau ke sini? Kan Mama bisa masak dulu gitu," ujar Yasmin menatap anak dan menantunya bergantian, masih belum sadar tampilannya yang memakai piyama celana panjang dan wajah yang masih ditempeli sheet mask.


"Ya udah, Mama panggilin papa dulu bentar. Kalian duduk aja dulu," ucap Yasmin seraya mematikan laptopnya dan mencomot macaron-nya lagi.


"Ma, jangan lupa ganti baju sama maskernya dicopot, ya." Naynay menunjuk wajahnya sendiri sebagai kode untuk Yasmin.


Yasmin meraba wajahnya dengan ekspresi terkejut dan segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Malu sekali tertangkap sedang maskeran dan hanya memakai piyama oleh anak dan menantunya.


"Kakak duduk dulu, Nay ke belakang sebentar." Naynay melempar tasnya ke sofa single dan pergi ke dapur. Dia membuatkan Afif jus mangga, karena Afif selalu suka meminum jus mangganya sampai habis setengah gelas. Jadi Naynay menyimpulkan kalau Afif menyukai minuman ini.


Setelah selesai, Naynay kembali ke ruang keluarga dengan membawa minuman itu. Dia mendapati suaminya sedang menerima panggilan telepon. Naynay meletakkan gelas berisi jus mangga itu di atas meja dan duduk di samping suaminya itu sambil memakan macaron milik Yasmin.


"Kau membuatkannya untukku?" tanya Afif dan mulai meminum jus yang dibuat Naynay.


'Kau kan tidak bisa minum kalau bukan aku yang buatkan.'


"Iya, Kak," jawab Naynay singkat sambil mengangguk. Ya walaupun selalu berkata lemah lembut, Naynay tetaplah manusia biasa yang hobi mengumpat di dalam hatinya.


Afif meminum jus itu sampai tandas tak bersisa. Tak lama setelah itu, Hendrayan muncul sambil menggendong kucing anggora hitam putih milik Naynay.


"Mochi!" pekik Naynay berbinar menatap kucing kesayangannya itu. Dia berdiri ingin mendekati Hendrayan, tapi tangannya ditahan oleh Afif.


"Duduk!" Nada dingin dari suara Afif membuat Naynay kembali duduk. Matanya berkaca-kaca karena tidak bisa memeluk kucing gembulnya, Mochi.


Hendrayan duduk di sofa single sambil memangku Mochi. "Jangan dekat-dekat dengan Mochi dulu, bulunya berbahaya." Hendrayan memberi pengertian pada anaknya yang sudah ingin menangis itu.


"Tapi Nay kangen pengen gendong," ucap Naynay yang masih ingin menjangkau kucingnya yang anteng tidur di pangkuan Hendrayan.


"Kamu tuh lagi hamil, jauhin kucing dulu," ucap Yasmin yang tiba-tiba muncul dan sudah ganti baju tentunya. "Nanti kalau udah lahiran kamu bisa gendong dan peluk sepuasnya."


Naynay hanya mengangguk pasrah sambil membayangkan sedang mengelus bulu Mochi yang panjang. Sudah lama dia tidak bermain dengan Mochi. Tiada hari tanpa Mochi sebelum dia hamil, dan sekarang tiada hari tanpa Afif setelah dia hamil.


Kau patut bersyukur, Nay.


.


.


.


.


.


komen yang banyak dong, aku tuh seneng banget baca komen kalian....


Selamat membaca ♡