
Suara petir membuat Naynay terbangun, walaupun sekarang memang waktu biasanya dia bangun untuk makan. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, udara juga terasa lebih dingin dari biasanya karena hujan lebat mengguyur. Naynay menurunkan tangan Afif yang melingkar di pinggangnya dan beranjak menuju ruang ganti.
Setibanya di ruang ganti, Naynay meraih jaket yang tergantung di dalam lemari kaca. Baru saja dia ingin memakainya, lampu mendadak mati bertepatan dengan suara petir yang begitu nyaring sehingga jaket itupun jatuh.
Naynay berteriak karena terkejut sambil menutup telinganya. Dia tidak takut gelap, tapi takut dengan suara petir yang menggelegar. Sedari kecil, dia memang takut dengan petir. Apalagi kalau melihat langsung petir yang membentuk akar-akar panjang di langit.
Merasakan seseorang memeluknya, Naynay menurunkan tangannya yang menutup telinganya dan membalas pelukan itu. Wangi tubuh ini sangat dia kenal, siapa lagi kalau bukan Afif, suaminya.
"Tenanglah, aku ada di sini." Afif mengelus punggung Naynay untuk menenangkannya. Dikecupnya pucuk kepala istrinya itu berkali-kali.
Lampu kembali menyala, tapi petir masih menyombongkan dirinya dengan suaranya yang masih terdengar nyaring. Naynay memeluk Afif begitu erat, bahkan dia menangis karena ketakutan.
"Wanita bunting ini," gumam Afif lirih sambil menahan tawanya karena Naynay memeluknya begitu erat.
Afif mengangkat tubuh Naynay, menggendongnya ala koala dan keluar dari ruang ganti. Naynay tidak menolak karena masih ketakutan. Afif duduk di atas tempat tidur dengan Naynay di pangkuannya.
"Hanaya, kau baik-baik saja?" Afif memegang kepala Naynay agar dia bisa melihat wajah istrinya.
"Nay takut," ucap Naynay lirih membuat Afif kembali membenamkan wajah Naynay di lehernya. Sejujurnya dia suka dengan sensasi hembusan napas Naynay di lehernya.
"Kenapa kau bisa berada di ruang ganti?" tanya Afif sambil mengelus punggung Naynay.
"Nay mau ambil jaket," jawab Naynay pelan.
"Kau kedinginan?"
"Tadinya iya, sekarang udah nggak." Naynay mengusap air matanya.
Naynay yang sudah merasa tenang pun berniat turun dari pangkuan Afif, tapi pelukan suaminya itu bertambah erat. Afif berdiri, membuat Naynay mengalungkan tangannya di leher suaminya itu. Laki-laki itu menggendong Naynay keluar dari kamar dan menuruni tangga, tujuannya sudah pasti dapur. Dia tentu tahu kalau Naynay ingin memakan sesuatu sekarang.
"Kak, Nay bisa jalan sendiri." Naynay tidak nyaman dengan posisi seperti ini, detak jantungnya juga terasa lebih cepat. Afif tidak mempedulikannya, dia tetap berjalan dan berhenti tepat di depan lemari pendingin. Sebelah tangannya membuka lemari pendingin itu.
"Kau mau makan apa?" tanya Afif menatap wajah Naynay yang sangat dekat dengannya.
Naynay mengalihkan pandangannya ke arah lemari pendingin, jantungnya berdetak lebih cepat dari yang tadi karena tatapan Afif.
Mata Naynay meneliti satu per satu isi lemari pendingin itu. "Nay mau masak nasi goreng, Kak." Menatap Afif kembali dengan senyum imutnya.
"Aku saja yang memasak." Afif berjongkok dengan menahan tubuh Naynay, tangannya mengambil bahan-bahan untuk memasak nasi goreng.
"Kak, biar Nay aja yang masak."
"Diam!" Nadanya sudah berubah dingin, Afif memang tidak suka dibantah. Naynay diam setelahnya, takut jika suaminya itu marah.
Dengan masih menggendong ibu koala di tubuhnya, Afif mencuci bahan-bahan yang tadi diambilnya. Tubuhnya seakan-akan tidak merasakan berat walau sedang menggendong Naynay.
"Kak, turunin Naynay! Nanti Kakak capek," ucap Naynay menatap wajah serius Afif ketika memotong wortel.
'Aku yang sebenarnya lelah dengan posisi cicak nemplok kayak gini,' batin Naynay.
"Tubuhmu sangat ringan, jangan protes lagi!" Kecupan sekilas di bibir yang Naynay dapatkan.
"Tapi tangan Nay yang mulai capek, Kak." Naynay menurunkan sebelah kakinya yang tadi melingkar di pinggang Afif, tapi tangan suaminya itu menahannya dengan cepat.
"Duduk disini." Afif mendudukan Naynay di kursi tinggi yang ada di sampingnya.
"Jangan turun dari kursi ini jika kau tidak mau aku hukum!" ucap Afif dan mencium pipi Naynay sebelum melanjutkan memotong sayuran untuk nasi goreng yang akan dia buat.
Petir kembali menyambar dan menimbulkan suara yang membuat Naynay kembali merasa takut. Dia langsung menghambur ke pelukan Afif, tubuhnya bergetar.
"Tidak apa-apa, petir itu tidak akan menyambarmu." Afif menepuk-nepuk pelan punggung Naynay yang bergetar.
'Kenapa dia bisa setakut ini?'
"Maaf, Nay berlebihan, ya?" Naynay mendongakkan kepalanya menatap Afif. Masih terlihat jelas gurat ketakutan di wajah imutnya.
"Tidak. Jika kau masih takut, peluk saja." Afif melingkarkan kembali tangan Naynay di pinggangnya. Ribuan bunga mendadak bermekaran di dalam hatinya karena pelukan Naynay.
Naynay memperhatikan wajah tampan Afif yang sedang memasak itu. Wajahnya yang terlihat serius memberikan kesan cool. Naynay jadi ingat kata Rania sebelum dia menikah dulu, yang mengatakan bahwa seorang Afif tidak pernah tersenyum. Tapi nyatanya laki-laki itu selalu mengulas senyumnya jika di depan Naynay.
"Sudah puas memandangiku, hhmm?" Afif tersenyum sambil mengacak rambut Naynay yang tergerai.
Naynay jadi malu karena tertangkap basah sedang memandangi wajah Afif. Tapi siapa yang bisa menahan diri jika ada wajah setampan ini di depannya? Naynay menundukkan kepalanya hingga bersandar di dada Afif.
Nasi goreng buatan Afif sudah siap, baunya begitu menggugah selera dan dengan berbagai pelengkap di atasnya. Afif mulai memindahkan nasi goreng itu ke atas piring dan mengambil sendok.
Naynay melepas pelukannya dan tangannya ditarik oleh Afif menuju meja makan. Mereka duduk di kursi dengan posisi bersebelahan.
"Buka mulutmu!" Afif menyodorkan sesendok nasi goreng di depan bibir Naynay.
"Nay bisa makan sendiri, Kak." Naynay merasa tidak nyaman diperlakukan seperti ini, dia sudah terbiasa melakukan apapun sendiri. Apalagi hanya untuk makan, tidak perlu disuapi seperti ini.
"Hanaya." Ayolah, Naynay hanya ingin makan sendiri, tapi mendengar nada dingin itu membuatnya langsung membuka mulut.
Afif tersenyum tipis sembari menyuapi istrinya itu. Sulit memang memanjakan wanita yang sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tapi demi tanggung jawabnya, Afif akan membuat wanita ini bahagia sampai anaknya lahir.
"Kenapa kau sampai setakut itu dengan petir?" tanya Afif dengan masih menyuapi istrinya itu, sesekali dia juga menyuapkan ke mulutnya sendiri. Mereka berbagi sendok yang sama.
"Nay pernah hampir disambar petir pas umur 10 tahun, Kak."
"Benarkah? Di mana?"
"Waktu itu papa ngajak liburan ke Kota XX, kebetulan saat itu hujan dan Nay sedang berdiri di bawah pohon besar." jelasnya. "Tiba-tiba petir menyambar dahan pohon yang tepat berada di atas kepala Nay. Beruntung papa narik tangan Nay sebelum dahan itu jatuh."
Afif mengangguk, sekarang dia mengerti kenapa Naynay bisa setakut itu dengan petir.
"Kita ke kamar." Afif menarik tangan istrinya itu dengan lembut menuju kamar mereka. Naynay langsung tertidur setelah tubuhnya terbaring di atas tempat tidur, jempolnya pun sudah berada di depan bibirnya.
"Terima kasih," ucap Naynay dalam tidurnya sambil tangannya melingkar di pinggang Afif. Laki-laki itu mencium pipi Naynay gemas karena istrinya itu masih bisa mengucapkan terima kasih walau dalam keadaan tidur.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ♡