My Perfect Husband

My Perfect Husband
Wajahnya sangat imut



Sepulang sekolah, Naynay melihat mobil yang tadi mengantarnya sekolah sudah ada di depan gerbang sekolahnya. Dengan cepat, dia masuk dan duduk di kursi belakang. Sopir itupun melajukan mobil meninggalkan area sekolah dengan kecepatan sedang.


"Pak, berhenti dulu di supermarket depan, ya!" ucap Naynay pada sopir.


"Baik, Nona."


Mobil sudah terparkir di area parkir supermarket dan Naynay segera keluar dari dalam mobil. Dengan memakai masker hitam yang selalu tersedia di dalam tasnya, Naynay memasuki supermarket.


Mata Naynay berbinar kala melihat barang yang dia cari. Tangannya mengambil lima kotak biskuit bayi rasa jeruk dengan semangat dan langsung membawanya ke kasir untuk membayar. Setelah membayar, Naynay kembali ke mobil dan langsung pulang setelahnya.


Setibanya di rumah, Naynay disambut oleh Pak Hen yang langsung membukakan pintu mobil untuknya. Sebelum turun, tak lupa Naynay mengucapkan terima kasih kepada sopir tadi.


"Pak Hen, Naynay bisa minta satu toples kecil, nggak?" Memandang Pak Hen sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Mari, saya ambilkan." Pak Hen berjalan menuju dapur diikuti Naynay di belakangnya.


Pak Hen membuka laci di tempat peralatan makan dan mengambil satu toples kaca berukuran sedang. Dia mengelapnya terlebih dahulu sebelum memberikannya pada nona mudanya.


"Terima kasih, Pak Hen." Naynay meletakkan toples itu di atas meja dan memindahkan isi dari kotak biskuit bayi tadi ke dalamnya. Setelah selesai, Naynay menutup toples itu dan mendekapnya di dada.


"Pak Hen, alat belajar Nay di mana? Di dalam kamar nggak ada." Mereka sedang berjalan menaiki tangga karena Pak Hen mendapat tugas untuk selalu menemani Naynay jika naik-turun tangga.


"Semua keperluan belajar Anda ada di dalam ruang kerja tuan muda, Nona." Pak Hen berhenti tepat setelah mereka tiba di depan kamar.


"Pak Hen tunggu di sini bentar, ya. Anterin Naynay ke ruang kerja kak Afif, Nay ganti baju dulu." Langsung masuk ke kamar dan mencuci wajah. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian rumahan, Naynay keluar secepat kilat dari kamar. Tak lupa setoples biskuit bayi dan tas sekolahnya tadi dibawanya


"Jangan berlari, Nona! Ingat, Anda sedang hamil!" ucap Pak Hen khawatir melihat Naynay yang berlari keluar dari kamar.


"Hehe.. Maaf, Pak Hen." Meringis malu sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


"Mari, saya akan mengantar Anda ke ruang kerja tuan muda." Pak Hen berjalan di depan, Naynay mengikuti sambil melihat-lihat rumah yang belum 24 jam ini dia huni. Pak Hen mengetuk pintu coklat yang berada tak jauh dari kamar utama tadi.


Mendengar suara ketukan, Ryan berjalan membuka pintu. Naynay yang berada di belakang Pak Hen membuat tubuh mungilnya tidak terlihat, hanya puncak kepalanya saja yang dapat Ryan lihat.


"Nona Naynay minta diantar ke sini." Pak Hen menggeser tubuhnya hingga Ryan bisa melihat Naynay dari atas sampai bawah.


"Silakan masuk, Nona." Ryan membukakan pintu lebih lebar untuk Naynay. Setelah Naynay masuk, Pak Hen segera pergi dari sana.


Afif yang sedang berkutat dengan laptopnya, mengalihkan perhatiannya pada istrinya yang baru saja masuk dengan memeluk setoples biskuit dan tas di pundaknya. Memakai celana hitam panjang ketat dan T-shirt senada oversize yang dia beli sebelum menikahi gadis itu.


"Semua buku dan keperluan belajar Anda sudah ada di meja ini, Nona." Ryan menarik kursi untuk nona mudanya duduk.


"Terima kasih,..." Naynay tidak tahu harus memanggil apa laki-laki datar di depannya ini.


"Panggil saya dengan panggilan yang membuat Anda nyaman." Ryan memundurkan tubuhnya sampai ke samping Afif.


"Terima kasih, Sekretaris Iyan." Naynay memberikan panggilan baru kepada sekretaris suaminya itu.


Ryan sedikit tertegun mendengar panggilan baru yang Naynay berikan padanya. Tetapi wajah datarnya bisa menutupi rasa terkejutnya.


"Kau boleh pulang." Menatap Ryan sekilas lalu memutar kursinya menghadap ke depan kembali. Memainkan jemarinya di atas keyboard laptop dengan luwesnya.


Ryan menganggukkan kepalanya dan menunduk sedikit sebelum pergi dari sana. Menutup pintu pelan bahkan tanpa suara.


Naynay mengerutkan dahinya ketika menyadari laptop dan iPad di atas meja bukanlah miliknya. Tapi ketika dibuka, seluruh data dan file di dalamnya adalah miliknya. Apa Afif mengganti kedua benda penunjang belajarnya ini?


"Hhmm, Kak." Memanggil pelan suaminya sambil memegang iPad itu.


"Hhmm." Mata tajam Afif melirik Naynay sekilas, lalu kembali menatap laptopnya.


"Ini bukan punya Nay," ucap Naynay sambil mengangkat benda canggih itu. "Apa Kakak yang menggantinya?"


"Kau pikir aku tidak punya kerjaan sampai mengganti alat-alat belajarmu?" Jawaban mengesalkan yang didapat Naynay dari mulut pedas suaminya itu.


"Maaf." Naynay memutar duduknya kembali mengarah ke depan. Dia mengambil buku-buku yang akan dia pelajari kembali dan memanfaatkan dua benda itu untuk belajar. 'Apa dia tidak bisa bicara baik-baik?' batinnya sedikit kesal.


Naynay mengambil satu biskuit bayi yang tadi dia beli dan meletakkan di mulutnya. Dengan tanpa memegangnya, roti itu pun dia kunyah pelan dengan tetap bertengger di bibirnya. Mata dan tangannya sedang sibuk dengan buku, laptop, dan iPad yang ada di depannya. Begitu seterusnya sampai biskuit di dalam toples habis dan semua materi sudah dia kuasai.


Karena hari sudah sore, Naynay merapikan kembali alat-alat belajarnya. Sekalian dia menyiapkan buku yang akan dia bawa ke sekolah besok dan memasukkannya ke dalam tas.


"Nay duluan, Kak." Mata Afif menatap Naynay yang keluar dari ruangannya dengan tas di punggungnya. Tubuh mungil itu membuatnya tersenyum tipis melihat aksinya ketika belajar tadi.


Naynay masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas yang tadi bertengger di pundaknya di atas sofa kecil. Setelah itu dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hanya sepuluh menit, dia sudah keluar dengan memakai baju kaos panjang di bawah lutut.


Dan ketika itulah Naynay sadar kalau sudah ada empat kipas angin besar yang melekat di dinding, bersebelahan dengan empat buah AC yang sebelumnya sudah ada di sana.


"Sejak kapan itu ada di sana?" gumam Naynay bingung. Tadi karena dia buru-buru keluar dari kamar, Naynay tidak menyadari keberadaan kipas angin itu.


Sambil mengeringkan rambutnya, Naynay mencari-cari di mana letak hpnya. Di atas nakas, di dalam laci, di sofa, tempat tidur, semua tempat sudah di carinya, tapi hpnya tidak ada.


'Apa ketinggalan di ruangan kak Afif, ya?' Beralih ke meja rias dan menyisir rambutnya. Setelah rapi, Naynay membuka pintu kamar dan terkejut mendapati Afif yang berdiri di depan sana.


"Hpmu." Afif melemparkan benda pipih kepada istrinya, untung Naynay punya reflek yang baik hingga hpnya terselamatkan.


"Terima kasih, Kak." Naynay menutup pintu kamar kembali.


Afif tak menjawab dan langsung berjalan memasuki kamar mandi. Air hangat sudah siap di dalam bathtub membuat Afif menyembulkan kepalanya di sela pintu kamar mandi yang dia buka.


"Kakak butuh sesuatu?" tanya Naynay yang melihat kepala Afif menyembul lucu itu.


"Tidak." Menarik kepalanya dan menutup pintu kamar mandi kembali.


"Kenapa harus memanggilku dengan panggilan itu? Dan lagi, wajahnya sangat imut." Gumam-gumam setelah menenggelamkan tubuhnya di dalam air hangat.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡