
Mobil memasuki area parkir khusus, Ryan turun terlebih dahulu dan langsung membukakan pintu untuk nona mudanya. Tingkah istri tuan muda ini begitu menggemaskan, lihatlah wajahnya yang chubby itu sudah tertutupi masker hitam. Jajanan tadi juga sudah dia tenteng.
Ryan berjalan lebih dahulu menuju lift khusus yang ada di area parkir basement. Lift membawa mereka berdua menuju lantai teratas di gedung ini, lantai di mana ruangan CEO berada. Keluar dari lift, mereka berdua disambut oleh dua orang wanita yang tersenyum ramah pada Naynay.
Ryan membukakan pintu dan Naynay masuk, di dalam sana ada Afif yang sedang berkutat dengan beberapa berkas. Melihat Naynay masuk, dia segera berdiri dan menuju sofa. Matanya menyipit menatap kantung plastik yang dibawa istrinya itu.
"Apa yang kau bawa?" Bertanya setelah duduk di sofa panjang sambil menepuk sisi di sebelahnya, kode agar istrinya itu duduk di sana.
"Otak-otak bakar, Kak." Naynay duduk di samping Afif dan meletakkan jajanannya tadi di atas meja. Maskernya juga sudah dia buka.
"Otak-otak? Maksudnya otak hewan?" tanya Afif yang tidak tahu apa otak-otak itu.
Naynay menggaruk pipinya, dia juga tidak tahu dari apa jalanan itu dibuat. Hampir tiga tahun jajan di sana tidak membuatnya penasaran dari apa otak-otak itu dibuat. Riwayat pencarian Google-nya juga tidak mencatat adanya pertanyaan otak-otak dibuat dari apa.
"Nay juga nggak tau ini dibuat dari apa."
"Jangan dimakan kalau kau tidak tahu!" Afif berniat mengambil kantung plastik itu, tapi terlambat karena Naynay sudah menyambarnya lebih dahulu.
"Kakak mau apa?" tanya Naynay yang sudah mendekap otak-otaknya di depan dada.
"Membuangnya, entah dari apa itu dibuat." Tangannya sudah ingin merebut yang didekap istrinya.
"Enggak!" Mendekap jajanannya lebih erat.
"Pikirkan kesehatanmu dan janin di dalam perutmu, Hanaya." Mulai kesal karena Naynay tidak mau menurut.
"Lebih baik Nay pulang," ucap Naynay yang kesal dilarang memakan otak-otak yang tadi dibelinya. Matanya sudah berkaca-kaca efek perasaannya yang sensitif itu.
Afif menghela napas panjang sambil memijit pangkal hidungnya. "Tetap di sini," ucapnya singkat dan mengambil hp yang ada di dalam saku jasnya.
Jari Afif mulai mengetik kata kunci di mesin pencarian, dari apa otak-otak itu dibuat. Setelah melihat beberapa blog dan satu per satu bahan-bahan jajanan itu, Afif sedikit melunakkan ekspresi wajahnya yang tadi mengeras kesal. Dia meletakkan hpnya di meja yang ada didepannya.
Naynay menatap Afif waspada sambil terus mendekap kresek bening itu, takut jika jajanannya diambil sang suami.
"Baiklah, kau boleh memakannya," ucap Afif dingin. "Tapi tunggu Ryan mengantarkan makan siang ke sini!"
"Aaa... Terima kasih." Mata Naynay berbinar senang, dia meletakkan apa yang didekapnya tadi di atas meja dan langsung menghadiahi Afif pelukan.
Afif mengerjap-ngerjapkan matanya dengan wajah shock karena wajahnya tepat berada di dada Naynay yang uuwahh jika dipegang atau usap-usap itu. Naynay pun begitu, senyum lebarnya sirna kala menyadari posisi merugikan itu. Dengan cepat dia melepaskan pelukannya dan duduk menjauh dari Afif.
"Makan siangnya, Tuan Muda." Ryan yang baru masuk meletakkan pesanan majan siang di atas meja, setelah itu dia kembali ke ruangannya.
"Sendok untukmu." Menyerahkan sendok pada Naynay, rasa canggungnya tertutupi dengan wajah datarnya.
Mereka memakan makan siang yang tadi diantarkan oleh Ryan dalam diam. Masih dalam suasana canggung itu, Naynay lanjut menyantap otak-otak bakarnya. Dia seolah lupa jika ada Afif di sampingnya karena terlalu fokus dengan jajanannya.
"Ekhemm..." Afif berdehem membuat Naynay menatapnya, bibir istrinya itu belepotan karena saus.
"Kau sampai lupa kalau suamimu ada di sini." Afif berucap ketus sambil mengelap saus di bibir Naynay dengan tisu.
"Makasih, Kak." Naynay mengalihkan pandangannya dan lanjut makan.
Afif tak menjawab, dia mengambil satu tusuk otak-otak bakar milik Naynay. Mengendus seperti kucing kemudian menggigit sedikit. Kunyah-kunyah dan menggigit lagi dengan gigitan besar karena merasa jajanan itu lumayan enak.
"Lumayan," ucap Afif sambil terus mengunyah.
"Kalau kau bisa memakannya, kenapa aku tidak?" Dua kali gigit dan satu tusuk itu habis, lanjut ambil satu lagi.
'Maksudnya apa? Ohhh... Mungkin maksudnya karena kita sama-sama manusia.'
Naynay hanya mengangguk kecil dan bergantian menyaut otak-otak itu bersama Afif. Tidak ada pembicaraan lagi setelahnya.
Setelah dua porsi makan siang dan dua puluh tusuk otak-otak habis, mereka kompak menyandarkan tubuh di sofa.
"Aku akan kembali bekerja. Di sana adalah kamar, istirahatlah di sana!" Afif menunjuk pintu berwarna coklat di samping lemari kaca berisi buku-buku tebal.
"Nay pulangnya bareng Kakak?" tanya Naynay dibalas anggukan Afif.
Naynay masuk ke dalam kamar itu. Ada tempat tidur ukuran besar, lemari, dan kamar mandi juga. Naynay membuka lemari berwarna putih itu dan melihat satu per satu pakaian di sana.
"Ganti aja kali, ya." Naynay mengambil satu kemeja putih milik Afif dan memakainya, ini terasa lebih nyaman dari pada memakai seragam sekolahnya.
Kemeja putih itu kebesaran di tubuh Naynay yang mungil. Panjangnya hanya sebatas di bawah pangkal pahanya, untungnya Naynay selalu memakai celana hitam pendek. Dia merasa kurang nyaman jika hanya memakai ****** ***** saja.
"Kita coba tidur di sini, ya, Sayang." Mengusap perutnya yang masih datar itu.
Naynay naik ke atas tempat tidur dan tidur memeluk guling. Dia tidak membuka kaos kakinya karena sudah merasa mengantuk. Tak butuh waktu lama, Naynay sudah terlelap. Dengkuran halus terdengar dari bibir mungilnya. AC yang biasanya membuatnya mual tidak lagi dia pedulikan.
Dua jam setelahnya, Afif telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia berjalan menuju kamar istirahatnya dan tersenyum melihat istrinya yang menggemaskan itu masih tidur. Dia mendekat dan mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang.
"Kenapa dia terlihat menggemaskan dalam tidur sekalipun." Afif mengambil hpnya dari saku jas dan memotret Naynay yang tidur tengkurap dengan kaki dan tangan merentang.
"Sepertinya aku harus menggendongmu," ucap Afif setelah menyimpan kembali hpnya.
Afif membuka jasnya dan merentangkannya di atas kasur, dia mengangkat tubuh Naynay dan memindahkannya dengan pinggul di atas jas tadi. Kemudian Afif mengikatkan lengan jas itu di pinggang Naynay agar paha putih mulus istrinya itu tertutup.
Afif menggendong tubuh Naynay seperti induk koala menggendong anaknya keluar dari ruangannya. Dia sudah menghubungi Ryan untuk menunggunya di depan lobi. Staf yang ada di lantai istimewa ini mendadak membeku melihat Afif menggendong seorang wanita. Wajahnya Naynay yang berada di leher Afif membuatnya tidak dikenali.
Di lantai dasar, sekali lagi Afif membuat semua karyawannya membeku seperti tak bernapas. Mereka tentu tahu jika bos besar ini tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Hari ini merupakan sejarah baru, CEO Cavin Group yang sombong dan angkuh itu menggendong seorang wanita. Dan lagi, Afif tidak pernah pulang secepat ini sebelumnya. Grup chat karyawan perusahaan pun heboh membahas kejadian menggemparkan ini.
Afif masuk ke dalam mobil dan Ryan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
'Anda berhasil membuat semua orang terkejut, Tuan Muda. Termasuk saya sendiri.'
Di kursi belakang, Afif merapikan rambut Naynay yang sedikit menutupi wajah imut menggemaskan itu. Dia juga tidak menyangka akan melakukan hal ini di kantor dan pastinya membuat karyawan satu gedung itu heboh.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ♡