My Perfect Husband

My Perfect Husband
Syarat



Naynay membuka matanya pagi hari, dia mendongak melihat wajah tampan suaminya yang masih tertidur. Naynay mencoba tenang, mau sampai kapan dia akan terjebak dalam rasa takutnya. Untuk sekarang, dia akan menjadikan pernikahan ini sebagai terapi untuk memulihkan traumanya. Ia tak berharap sedikit pun bahwa seorang Afif akan mencintainya.


Naynay turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa karena rasa mualnya sudah tak tertahan. Merasakan ada yang memijit tengkuknya, Naynay menoleh dan mendapati suaminya di sampingnya. Wajahnya langsung memucat setelah mengeluarkan semua yang dia makan sebelumnya. Tangan Naynay bertumpu pada wastafel agar tubuhnya tidak jatuh karena lemas.


"Makasih, Kak," ucap Naynay pelan sambil memijit pelipisnya, kepalanya terasa sangat pusing.


"Tidak usah sekolah hari ini." Afif memutar tubuh Naynay menghadapnya, juga menahan tubuh istrinya itu.


"Tapi hari ini pembagian nomor ujian, Kak." Puppy eyes sudah diluncurkan agar diizinkan untuk pergi ke sekolah.


"Jangan mencoba merayuku dengan matamu itu!" Afif mengusap wajah Naynay dengan tangan kanannya, menutup mata istrinya itu.


"Kak, Nay boleh ke sekolah, kan?" Menggenggam tangan Afif tanpa sadar. "Ahh, maaf." Melepas genggaman tangannya.


"Kau boleh pergi ke sekolah, tapi ada syaratnya." Tersenyum tipis sambil melipat kedua tangan di dada.


"Apa syaratnya?" tanya Naynay yang tidak ingin dilarang pergi ke sekolah yang hanya tinggal kurang dari dua bulan lagi.


"Bersihkan dirimu dulu, akan aku beri tahu nanti." Afif keluar dari kamar mandi sambil tersenyum lebar.


Naynay dengan cepat membuka semua pakaiannya dan membersihkan diri. Muntah-muntah sudah menyita waktu, dan ditambah lagi dengaan syarat dari Afif yang mungkin saja lebih menyita waktu nantinya.


Dua puluh menit kemudian, Naynay keluar melalui ruang ganti. Seragamnya sudah lengkap dan rapi. Sekarang tinggal melakukan syarat yang akan dikatakan oleh suaminya. Naynay melihat Afif sedang duduk di sofa sambil memainkan hpnya. Dia mendekat dan duduk di samping suaminya itu, tapi sedikit menjauh.


"Kemari!" Afif meletakkan hpnya di atas sofa dan menatap Naynay datar. Istrinya itu mendekat dan sudah duduk berdempet dengannya.


"Naik!" Menepuk pahanya.


'Kenapa harus duduk di sana, sih?'


Ragu, tapi Naynay berdiri dan langsung ditarik oleh suaminya. Sekarang dia sudah duduk di atas pangkuan Afif dengan tubuh saling berhadapan. Mata Naynay tertutup rapat untuk menetralkan detak jantungnya. Entah karena takut, atau ada hal lain. Tangan Afif pun sudah melingkar cantik di pinggangnya.


"Kak..." Bibirnya sudah di tutup dengan jari telunjuk oleh suaminya.


"Kau ingin pergi sekolah atau tidak?" Bertanya sambil mengusap pelan bibir Naynay. Tentu saja istrinya itu mengangguk.


"Cium aku dulu, baru kau boleh pergi." Afif mengangkat sudut bibirnya melihat ekspresi terkejut Naynay.


"Tidak mau? Kalau begitu kau tidak boleh pergi sekolah lagi," ucap Afif enteng. Naynay terbelalak mendengar ancaman suaminya itu. Dia tidak boleh bersekolah lagi? Ohh, tidakk!


"Nay mau." Mencari jalan aman, walaupun merugikan dirinya.


"Baiklah. Cium di sini, sini, dan sini!" Afif menunjuk kedua pipi dan bibirnya. Naynay mendekatkan wajahnya pelan.


Pipi kanan... Cup


Pipi kiri... Cup


Tinggal satu lagi, yaitu bibir. Naynay ragu menciumnya, tapi dia harus pergi ke sekolah. Dan akhirnya bibirnya menyentuh bibir Afif. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Afif menahan tengkuk Naynay dan mencium lembut bibir istrinya itu. Naynay yang terkejut pun berusaha mendorong dada Afif.


"Lihat, wajahmu memerah." Afif mengusap bibir Naynay yang basah dengan ibu jarinya. Istrinya itu hanya diam dengan wajah memerah seperti udang rebus. Detak jantungnya bahkan sudah seperti suara puluhan kuda yang sedang berlari.


"Kau mau aku gendong ke bawah? Ayo kalau begitu!" Afif berdiri dengan menahan tubuh Naynay agar tidak jatuh.


"Kak, turunin Naynay!" Pekik Naynay karena takut dan posisi gendong koala yang memalukan ini.


Afif duduk kembali di atas sofa dengan masih memangku Naynay.


"Baru cuci muka, kau mau menemaniku mandi?" Tangan sebelah kanannya sudah mencapit gemas pipi istrinya.


Bohong banget tuh. Jangankan mandi, olahraga pun sudah dia lakukan. Afif memang terbiasa bangun subuh, melakukan semua kewajibannya dan berolahraga. Setelah mandi tadi, dia kembali berbaring sambil pura-pura tidur untuk menunggu Naynay bangun.


"Kak, Nay mau berangkat ke sekolah." Memasang wajah memelasnya kembali.


"Baiklah, aku akan mengantarmu. Sekarang, ayo turun untuk sarapan!" Afif melepaskan tangannya yang melilit pinggang Naynay, hingga istrinya itu langsung berdiri dan bernapas lega.


Afif berjalan lebih dulu keluar dari kamar, meninggalkan Naynay yang sedang mengambil tas dan hpnya. Tadi saja sok-sok romantis, sekarang istrinya ditinggal.


Naynay menyusul Afif yang ternyata menunggunya di tangga sambil bersandar di pegangan tangga. Ketika Naynay sudah sampai di depannya, Afif menarik tangan istrinya itu agar aman ketika menuruni tangga. Naynay merasa aneh dengan sikap Afif ini, kadang cuek dan kadang lembut. Hatinya plin-plan, ya.


Pak Hen sudah menunggu di anak tangga paling bawah, menyambut dan mengawal tuan dan nona mudanya ke ruang makan. Sarapan sudah siap di atas meja makan, begitupun dengan teh jahe hangat yang diminta oleh Afif tadi saat Naynay sedang mandi.


Qiara yang sudah terlebih dahulu datang, mendengus kesal melihat kayaknya datang dengan gadis yang tidak disukainya. Dia tidak bisa protes apapun karena Afif tidak mempedulikannya sedikit pun. Makan dengan tenang dan pergi setelah sarapannya habis, hanya itu yang bisa dia lakukan.


Di dalam mobil, Naynay duduk bersama Afif di belakang. Siapa sopirnya, pastinya Ryan yang masih bekerja di hari liburnya ini. Selama perjalanan, Naynay hanya duduk diam. Manusia beku di sampingnya juga hanya diam, duduk dengan kaki dilipat dan tangan yang sibuk dengan hpnya.


"Makasih udah nganterin, Kak." Naynay meraih tangan Afif dan langsung keluar dari mobil setelahnya. Meninggalkan suaminya yang mengerjap-ngerjapkan matanya dengan tangan yang masih menggantung di udara selepas dicium istrinya tadi.


"Hei! Aku belum mengizinkanya keluar." Kesal setelah sadar istrinya sudah masuk ke dalam gerbang sekolah.


"Mungkin nona Nay masih belum terbiasa dengan kehadiran Anda, Tuan Muda." Ryan mulai melajukan mobil untuk kembali ke rumah.


"Sudahlah, aku hanya sekedar bertanggung jawab saja." Afif kembali sibuk dengan benda pipih di tangannya. Hei, Bung! Ciuman tadi pagi bukan termasuk tanggung jawabmu, kan?


Sedangkan di sekolah, Naynay sedang duduk di kursinya dengan Rania dan Rosi. Mereka juga sibuk dengan hp masing-masing. Yang satu membalas pesan dari suaminya, yang satu sibuk cek online shop skincare, dan yang satunya lagi sedang memeriksa email endorsenya.


"Eh, nanti kita tampil juga?" tanya Rosi menatap kedua sahabatnya.


"Kalo nggak ada anak-anak yang nunjuk, kita nggak usah tampil." Naynay memandang Rosi sebentar sebelum beralih kembali ke hpnya. Kedua sahabatnya mengangguk setuju.


Hari ini, sekolah memberikan kebebasan kepada para siswa kelas satu dan dua untuk memakai fasilitas musik. Ini sebagai bentuk dukungan untuk siswa kelas tiga agar semangat menjalani ujian mereka.


Seperti biasa, mereka bertiga akan selalu diminta tampil untuk memamerkan kebolehan nge-rapp mereka. Ketiga gadis itu hanya akan menyanyikan lagu dari boyband Stray Kids, sampai-sampai anak laki-laki pun mendadak nge-fans dengan delapan membernya itu.


Menyanyikan lagu berjudul Hellevator, Naynay dan kedua sahabatnya itu menjadi trending di grup sekolah. Seluruh manusia yang berada di sekolah sudah sangat kepo dengan media sosial Naynay, tapi mereka tidak menemukan akun dengan nama dan foto profil gadis tersebut. Hanya Rania dan Rosi lah warga sekolah ini yang tahu.


Di ruang kerjanya, Afif senyum-senyum sendiri melihat video yang dikirim oleh orang suruhan Ryan. Laki-laki itu mendadak mempunyai emosi sejak Naynay ada di sampingnya. Melihat video Naynay yang sedang nge-rapp saja, senyumnya sudah kelewat tampan. Ryan saja sampai bingung dibuatnya.


"Dia tidak cantik, tapi imut." Gumam-gumam sambil memutar ulang video yang berdurasi tiga menit sekian detik itu berkali-kali.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ♡