My Perfect Husband

My Perfect Husband
Episode 1



"Aku sangat mencintaimu Clara." ujar Andre sambil mengecup pucuk tangan gadis cantik yang kini berdiri dihadapannya. Gadis itu hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan lelaki yang amat dicintainya itu. Sudah hampir 2 tahun lamanya Andre berhasil menguasi hati Clara, mungkin hanya Lelaki itulah yang mampu meluluhkan hatinya dari sekian banyak lelaki yang berusaha mendapatkan cintanya.


Apalagi mengingat Clara adalah salah satu gadis cantik yang populer sewaktu mereka masih kuliah. Ia termasuk bunga kampus yang di idam idamkan lelaki lain, namun hanya Andrelah yang mampu mengetuk pintu hati Clara.


.


"Kita sudah 2 tahun bersama, apa kau tak berniat untuk melamarku ndre ?" tanya Clara lembut.


Pertanyaan tersebut sontak membuat Andre membulatkan bola matanya, "Ahh itu..." ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia memang sangat mencintai gadis itu, namun diusianya yang masih menginjak 24 tahun pernikahan terlalu dini baginya. Ia masih ingin menikmati masa lajangnya, ingin merasakan kebebasan lebih lama lagi.


Clara yang menyadari gelagat kekasihnya segera menyambar tas selempang miliknya yang berada di atas meja dan segera berlalu dari hadapan Andre. Lelaki itu kikuk melihat kepergian gadisnya, segera ia mengejar Clara.


"Clara tunggu..." ujarnya menarik tangan gadis itu selembut mungkin.


"Lepaskan Ndre." menarik tangannya dari genggaman Andre.


"Aku terlalu percaya diri kalau kau akan menikahiku suatu saat nanti, tapi nyatanya kau tak menginginkanku untuk berada dimasa depanmu." ujar gadis itu parau, Andre bisa melihat dengan jelas jika gadisnya itu sedang menangis. Dengan lembut ia menarik Clara dalam pelukannya "Jika itu bisa membuktikan cintaku padamu, aku akan segera menikahimu." ujarnya tampak gusar, kurang yakin dengan keputusannya tersebut.


"Benarkah ?" tanya Clara melepas pelukan mereka, dengan seulas senyum yang sudah terukir di wajah cantiknya. Andre mengangguk sebagai jawaban, kembali memeluk gadisnya itu.


.


Malam ini Clara tampil cantik dengan balutan dress mini berwarna biru muda ditubuhnya, dipadu dengan make up natural menambah kecantikan wajahnya. Ya, malam ini Andre akan membawanya makan malam bersama keluarganya.


Andre bukanlah anak semata wayang, ia memiliki saudara laki-laki yang terpaut 3 tahun diatasnya. Kakanya ialah Arya, lelaki yang terkesan cuek dan berhati dingin.


"Kapan rencana kalian akan menikah ?" tanya Shinta lembut menatap Andre dan Clara bergantian.


"Ahh itu.. secapatnya Ma." ucap Andre sedikit linglung, Shinta yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan anak bungsunya itu. Namun ia berusaha untuk tampak biasa saja.


"Menikah bukan perkara yang mudah, jadi kamu harus yakin dengan keputusanmu." Arya buka suara melihat adiknya yang bersikap kurang dewasa menurutnya.


"Tapi kita udah sama sama yakin kok tante, kak Arya." ujar Clara tegas, dengan senyum manis yang tak pernah hilang dari bibirnya.


"Baguslah." ujar Arya tanpa ekspresi seperti yang biasa ia lakukan.


Clara bergidik ngeri melihat Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi kakak Iparnya itu.


Bagaimana seseorang akan hidup bersama lelaki berhati dingin seperti kak Arya, batin Clara masih menatap lelaki itu.


.


"Baiklah sayang, selanjutnya kalian tentukan tanggal yang baik untuk pernikahan kalian. Setelah itu kita akan menyiapkan semuanya." Ucap Shinta mengelus lembut rambut gadis yang akan menjadi menantunya itu.


"Makasih tante." Ucap Clara memeluk erat wanita paruh baya itu. Ia sudah menganggap Shinta seperti ibu kandungnya sendiri, sejak menginjak usia 8 tahun Clara harus kehilangan kedua orang tuanya akibat pesawat yang ditumpangi mereka kecelakaan saat hendak melakukan perjalanan bisnis. Clara beruntung karna saat itu ia masih memiliki seorang nenek dari ayahnya yang sudah membatunya mengelola harta warisan orang tuanya dan juga sudah membesarkannya.


Namun sayang, 3 tahun lalu neneknya juga sudah berpulang meninggalkan Clara seorang diri. Beruntung ia bertemu dengan Andre, hingga ia merasa memiliki keluarga baru ditambah Shinta yang sudah menganggapnya sebagai putri kandungnya.