
My Hot Uncle bagian 9
Oleh Sept
Kediaman keluarga Hartanto yang megah dan terlihat berbeda dengan rumah di sebelahnya. Sebuah mobil masuk, kemudian berhenti tepat di halaman yang luas tersebut.
Ferdinand turun sambil membopong tubuh Mikaela yang sudah lemas karena tertidur di jalan tadi. Gadis itu ketika di dalam mobil, menangis sampai tertidur dalam pelukan sang paman.
Sengaja Ferdinand tidak membangunkan keponakannya itu, apalagi ketika melihat mata Mikaela yang sembab. Rasanya dia tidak tega membuat Mika bangun, alhasil ia pun membopong tubuh Mikaela ke dalam kamarnya.
Saat akan meletakkan Mikaela, gadis itu memegang tangan Ferdinand. Membuat pria itu kaget, ia pikir Mikaela masih tidur, ternyata gadis itu sudah terbangun. Ferdinand menatap wajah lelah Mikaela, kemudian berbicara. "Tidurlah, kamu butuh istirahat."
Blakkk ...
Mika membuka matanya perlahan, dulu waktu kecil, Mikaela ingat betul. Saat mereka kembali ke Indonesia setelah kecelakaan di Belanda. Dulu, dulu sekali, Ferdinand sering menemani Mikaela tidur. Ia sering mimpi buruk, membuatnya sulit tidur.
Semakin bertambahnya waktu, Ferdinand semakin jarang nemani Mikaela, apalagi Mika sudah beranjak remaja, Mikaela merasa Ferdinand tambah sibuk, jarang waktu bermanja-manja dengannya. Kini, Mika ingin omnya itu menemaninya. Ia sangat kacau hari ini. Membahas mami papinya, membuat luka hati gadis itu kembali menggangga.
"Om."
"Ya." Ferdinand menatap keponakannya itu.
"Kenapa?" tanya Ferdinand.
"Temani Mika sampai tidur lagi," pinta Mika dengah wajah memelas.
Ferdinand langsung duduk, ia kemudian berbaring di sebelah Mika, memeluk keponakannya yang kini terlihat menahan kesedihan itu. Setelah Ferdinand mendengar semua curahan hati Mika, pria itu kini berusaha memberikan perhatian lebih pada Mika. Seperti sekarang, ia bahkan tidur di ranjang yang sama dengan Mikaela, seorang gadis yang sedang beranjak dewasa.
Pria itu tidak menyadari, bahwa aksinya akan berdampak sangat fatal. Bagaimana pun juga, mereka tidak memiliki hubungan darah. Mikaela yang sudah mulai dewasa, dan dirinya sendiri adalah pria matang yang sangat dewasa. Sebuah situasi yang mengundang banyak bahaya.
"Om," panggil Mika sambil memeluk lengan pamannya.
"Ya."
"Mika kangen Mami," ucap Mikaela serak. Dipeluk Ferdinand dengan hangat, membuat Mika rindu dengan Dinara, di mana sang mami sering memeluknya saat ia akan tidur.
"Mami sudah bahagia bersama papi, jadilah anak yang manis. Biar mami sama papi tidak menderita di atas sana," ucap Ferdinand dengan tatapan kosong.
"Kamu punya Om. Om akan selalu ada buat Mika. Om janji," tambah Ferdinand dengan tulus.
"Benarkah? Bagaimana kalau Om nikah? Om pasti sibuk dengan keluarga baru Om. Om mungkin akan lupa sama janji Om."
"Jangan khawatir, Om tidak akan menikah."
DEG
Mika langsung melepaskan lengan Ferdinand yang melingkar di pinggangnya. Gadis itu kemudian duduk sambil menatap Ferdinand yang masih berbaring di sebelahnya.
"Mana mungkin, Om pasti ingin memiliki keluarga baru. Memiliki anak, memiliki wanita yang bisa mendampingi Om selamanya."
Mika tidak percaya dengan ucapan sang paman. Ia tidak percaya, pamannya itu laki-laki normal. Masa tidak mau menikah, sang paman bukanlah biarawann, yang memutuskan untuk melajang.
"Om sudah punya Mika, itu sudah cukup." Ferdinand kemudian membetulkan posisi, ia setengah bersandar. Ingatan Ferdinand kemudian terbang ke masa lalu. Di mana, Dinara sudah menitipkan Mikaela padanya. Sejak saat itu, dia berjanji. Bahwa tidak akan membiarkan Mika sendirian, dan ia mungkin rela tidak menikah.
"Om sayang Mika?"
Ferdinand tersenyum mendengar pertanyaan anak bau kencur tersebut.
"Om sayang nggak? Jangan tersenyum!" protes Mika yang sudah sedikit mulai ceria. Tidak murung seperti sebelumnya.
"Mika kesayangan Om," jawab Ferdinand kemudinya meraih kepala Mika. Membaringkan anak itu di pangkuannya. Mengusap rambut Mika dengan kasih. Entah kasih jenis apa.
Mika sedikit tersentuh, ia pun menarik tangan pamannya. Kemudian memainkan jari-jari Ferdinand. Persis sama seperti apa yang ia lakukan saat kecil. Memadukan tangan mereka berdua, kemudian Mika beranjak, ia mematikan lampu kamar.
"Kenapa dimatikan?"
Mika tersenyum, kemudian duduk di atas ranjang.
"Kita gak pernah lakuin ini lagi Om. Ayo Om ... Om bisa bikin apa. Mika bisa bikin kelinci ... serigala juga."
Mika tersenyum cerah, gadis itu seperti kembali ke masa anak-anak. Seperti bukan Mika yang beranjak dewasa. Mika saat ini adalah Mika yang periang, seperti Mika sebelum mengalami kecelakaan tragis yang merenggut anggota keluarganya.
Keduanya bercanda, larut dalam permainan sederhana tapi mengundang tawa. Ya, moment kali ini mereka bisa terbawa lepas bersama.
"Jari Om kaku banget, sini Mika benerin!"
Mika mendekat, ia merayap di atas ranjang mendekati Ferdinand. Ketika Mika sibuk mengajari tangan Ferdinand untuk menjadi berbagai bentuk yang menghasilkan bayangan binatang. Pria itu justru merasa perasaan yang aneh.
Wajah Mika terlalu dekat, dia bahkan bisa merasakan aroma rambut gadis tersebut. Bagaimana pun juga Ferdinand seorang pria dewasa. Ia memejamkan mata menahan sesuatu.
"Om, gini loh. Idih Om ... lihat Om!" protes Mika karena Ferdinand tidak bisa-bisa. Gadis itu reflek mendongak, hingga tidak sengaja ia melihat Ferdinand menatapnya dalam. Mika bahkan bisa melihat jakun Ferdinand yang naik turun.
'Ada apa dengan Om?' batin Mikaela yang heran dengan tatapan tidak biasa tersebut.
'Jangan gilaa kamu Fer!' rutuk Ferdinand kemudian memalingkan wajah.
Melihat sang paman memalingkan wajah, Mika mulai bersuara.
"Om ... Om Ferdinand sayang Mika, kan?" tanya gadis tersebut.
Ferdinand lantas kembali menatap mata Mikaela lekat-lekat. Jantungnya semakin berdegup kencang, merasa ada yang tidak beres, Ferdinand pun langsung turun dari ranjang.
"OM!" panggil Mika.
Pria itu langsung lari ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air yang mengalir deras dari kran.
Tok tok tok
"Om!"
"Sebentar."
"Om Ferdinand kenapa?"
"Om cuma kebelek pipiss!"
Mika kemudian berbalik, ia naik lagi ke ranjang, sebelum ia menyalakan lampu kamar kembali sembari menunggu Ferdinand ia menyalakan TV yang tersambung internet tersebut.
Mika yang bosan, kali ini melihat drama Korea. Kebetulan adegan yang ia lihat cukup membuatnya canggung. Mau ia ganti keburu Ferdinando datang.
"Lihat apa?" tanya Ferdinand kemudian duduk di tepi ranjang.
Mata Ferdinand lantas melihat ke layar TV, Mika buru-buru meraih remote, tapi malah susah dipindah. Dan terlanjur Ferdinand melihat. Karena panik, Mika langsung saja turun dari ranjang, ia mencabut kabel tvnya.
Ferdinand hanya garuk-garuk kepala, sepertinya ia harus memblokir akses internet di rumah itu.
"Jangan lihat begituan lagi, ya," ucap Ferdinand kemudian mengusap rambut Mikaela.
"Memang kenapa?"
"Gak bagus. Bikin otak ngeress!"
Mika mengatupkan bibir, malu juga ketahuan sang paman.
"Mau tidur lagi apa makan? Om laper." Ferdinand mencoba mengalihkan perhatian agar tidak ada canggung di antara mereka.
"Makan! Mika juga laper!" jawab Mika cepat kemudian keluar duluan.
Mika menghela napas lega, ketika sudah keluar dari kamarnya. Disusul pamannya di belakang.
Mika langsung ke dapur, minta disiapkan makan sama bibi.
"Nona mau makan apa? Menu biasa atau daun daunan seperti menu diet biasanya?"
"Mau spaghetti, Bi. Yang banyak kejunya."
"Baik, Non."
Mika setengah berlari menghampiri Ferdinand. Mau menanyakan makan apa. Eh Ferdinand malah asik telpon.
"Ya. Baik. Saya akan segera datang," ucap Ferdinand di telpon dan terdengar jelas oleh Mikaela.
Ferdinand berbalik, kemudian memegang pundak Mika.
"Mika, Om pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus Om kerjakan."
Ferdinand langsung bergegas, tidak melihat mata Mikaela yang mulai berkaca-kaca.
***
Sesaat kemudian
"Non. Spaghetti sudah siap."
Bibi mencari Mikaela di kamar, tapi Mika malah tidur. Alhasil, spaghetti pun mubazir. Padahal Mika tidak tidur. Ia bersembunyi di balik selimut, menangis karena Ferdinand terlalu sibuk.
Marah pada sang paman, Mikaela kemudian menghubungi temen satu SMA, yang sudah lama suka dengannya tapi Mika sama sekali tidak tertarik.
"Boy! Jemput gue. Gue tunggu di depan rumah. Sekarang!" ucap Mikaela di telepon.
Boy jelas senang, pria itu memacu mobil sports miliknya menuju kediaman Hartanto yang megah tersebut.
Satu jam kemudian.
Mika sudah memakai tank top, celana pendek di atas lutut. Tidak lupa jaket untuk menutupi tampilan dalamnnya. Gadis itu kemudian mengambil tas dan memakai sepatu boots warna hitam.
"Non, Nona mau ke mana?" bibi sangat panik, karena tau-tau Mika sudah siap untuk keluar.
"Mika mau tugas kelompok. Tuh temen sekolah Mika sudah jemput."
"Bukannya Nona sudah tidak sekolah di sana lagi?"
Mika panik, gadis itu langsung lari menerobos penjagaan.
"NONA!" penjaga akan memegangi tangan Mika. Tapi Mika langsung mengeluarkan gunting dari dalam tasnya.
"Siapa yang mendekat, awas! Mika bisa pakai ini, dan kalian akan tahu akibatnya!" Mika tidak mengancam melukai penjaga, tapi melukai dirinya sendiri, membuat penjaga langsung mundur dan menghubungi pawang Mika tersebut, Ferdinand.
"Jalan, Boy!"
Boy yang sempat panik, langsung tancap gas. Ia terkejut kenapa Mikaela harus seperti itu hanya untuk keluar rumah.
"Mika, itu tadi apa?"
"Bukan apa-apa. Tambah kecepatan!" ucapnya.
***
Ketika rumah sudah tidak terasa nyaman, Mika pun memilih kabur. Ia mencari sesuatu yang tidak ia dapatkan di dalam rumahnya.
Mika kembali bertemu dengan teman-teman satu grupnya. Sampai malam, ia mulai mengila, Mika yang kecewa dengan Ferdinando, lantas minum bersama teman-temannya. Dasar teman minim akhlak, Mika malah diberikan minuman yang sangat kuat, hingga sampai lepas kendali.
Dia yang kini hanya memakai tank top, celana sangat pendek, menari dengan bantuan tiang yang ada dalam ruangan. Membuat semua orang menaruh perhatian padanya. Semua bersorak padanya, membuat Mika semakin hanyut. Gadis yang selalu butuh perhatian itu mulai beraksi berani.
Mungkin pengaruh minuman, membuat rasa malunya hilang pergi entah kemana. Sampai Boy dan yang lain berani merabanyaa, Mika hanya diam. Ia terus menari seperti kehilangan arah.
BUGH ...
Boy yang semula mendesak Mika, merapatkan tubuh mereka, menari bersama, menikmati irama yang menghentak, ia langsung terjengkal ketika seorang pria memberikan hantaman yang cukup kuat pada tubuhnya.
"Brengsekkk!"
Boy tidak terima, ia dan teman-temannya berbalik menghajar sosok tersebut. Mereka semua baku hantamm. Suasana tidak terkendali, sampai pihak keamanan kerepotan. Ditambah lagi kedatangan pria-pria berseragam hitam yang langsung melumpuhkan pemuda-pemuda yang main kroyokan tersebut.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020