My Hot Uncle

My Hot Uncle
Larut



My Hot Uncle bagian 10


Oleh Sept


Keributan besar terjadi di sebuah klab. Mika menyeret banyak orang dalam masalah. Hanya karena haus kasih sayang, gadis itu membuat nama besar keluarganya tercemar. Beruntung baginya, sang paman datang di saat yang tepat. Sebelum gadis itu mendapatkan malu yang sebesar-besarnya.


Para pengawal yang dibawa Ferdinand, merampas semua ponsel yang ada dalam ruangan tersebut. Mereka semua menghapus rekaman yang sudah terlanjur mereka rekam. Boy dan teman-temannya kini harus rela dibawa ke kantor polisi. Sedangkan Ferdinand, ia membawa pulang gadis kecilnya yang sedang mabukk parah.


Selama di dalam mobil, Mika terlalu banyak tingkah, hingga Ferdinand mengikat tangan gadis tersebut.


"Om sakit," ucapnya dengan memelas.


Billi merasa kasihan, tapi saat melihat sorot mata Ferdinand yang marah, ia tidak berani menoleh ke belakang.


Ferdinand sendiri telah melepaskan jasnya yang lusuh akibat dihajar secara keroyokan oleh teman-teman Mikaela. Untuk dia bisa mengimbangi, meskipun mendapat sedikit luka pukul di sebagian tubuhnya.


Sampai di rumah, kediaman Hartanto. Ferdinand memperketat penjagaan. Mikaela benar-benar tidak boleh keluar dari sana sekarang. Sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Ia mengurung Mika, sampai anak itu menyesali perbuatannya.


Kamar Mikaela


Ferdinand meletakkan Mika di atas ranjang, kemudian melepaskan sepatu milik Mikaela. Gadis itu masih saja berontak, dan hampir saja menendang Ferdinand. Untung pria itu refleknya bagus sehingga bisa menghindar.


'Ada apa dengan anak ini?'


Ferdinand sampai tidak bisa berkomentar. Mengapa sulit sekali menjaga keponakannya ini? Mika sulit diatur, banyak menguras kesabaran pria tersebut.


"Mikaaa!" sentak Ferdinand saat melihat Mika malah melepaskan celana pendek yang dikenakan.


"Apa sih Om!" sentak Mika balik. Gadis itu meninggalkan celana pendeknya kemudian ke kamar mandi sambil sempoyongan.


Benar-benar ujian bagi lelaki seperti Ferdinand. Pria itu takut Mika terpeleset atau kenapa-kenapa. Akhirnya menunggu di depan pintu. Lama sekali tidak keluar, membuat Ferdinand gelisah.


"Mika, Mika ... buka pintunya."


Sesaat kemudian terdengar gemricik air, sedikit lega, setidaknya Mika mungkin tidak apa-apa.


Sepuluh menit kemudian


Ferdinand mondar-mandir, tidak tahan akhirnya ia membuka pintu kamar mandi dengan kunci cadangan.


KLEK


"Astaga Mika!"


Ferdinand langsung mengangkat tubuh Mika yang basah kuyup dari dalam bathtub.


"Kenapa diangkat, Mika mau mandi!" teriaknya dengan kaki yang menendang nendang.


Ferdinand jadi jengkel sendiri, pria itu kemudian mendudukkan Mika di tepi ranjang. Kemudian mengambil bed cover. Ia selimuti tubuh Mika yang transparan tersebut dengan kain yang super terbal itu.


"Sadar Mika!"


Ferdinand menepuk pipi Mikaela lembut, tidak mungkin menyakiti gadis tersebut.


Ferdinand menarik napas dalam-dalam, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mika! Om lakuin semua ini demi masa depan kamu. Ini semua demi kamu!"


Mikaela menggeleng keras.


"Bukan. Itu demi Om sendiri. Bukan demi Mika!"


Mika menatap Ferdinand dengan tatapan benci, air yang menguyur tubuhnya mungkin sedikit membuat gadis itu tersadar, meskipun tidak sadar sepenuhnya. Setidaknya dia tahu apa yang dia katakan saat ini.


Ferdinand hanya bisa berkacak pinggang, membuang napas kesal. Entah harus bagaimana agar Mika paham. Bahwa semua yang ia lakukan semata-mata hanya untuk masa depan Mikaela seorang.


"Kamu mabukkk! Om tidak bisa bicara dengan orang mabukk!"


Ferdinand memilih pergi, meninggalkan Mikaela.


"Argggghhhhhhh."


Mikaela menjerit keras, membuat hati Ferdinand teriris.


"Hentikan Mika!"


Ferdinand kemudian mendekap Mika dalam pelukannya.


"Jangan seperti ini lagi. Om mohon."


Mika yang sedang kalut, ia pun merancau. Memaki Ferdinand, mengeluarkan semua kemarahan selama ini. Ia memukuli pamannya tersebut.


"Mika ... maafin Om sayang." Ferdinand mengusap punggung Mika, tapi gadis itu mendorong keras. Membuat Ferdinand mundur.


"Om gak pernah sayang Mika! Om hanya peduli sama diri Om sendiri. Om gak pernah sayang Mika!" teriak Mika dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Ferdinand mengepalkan tangan, ia selalu tidak bisa melihat keponakannya itu menangis.


"Maafkan Om Mika ... Maafkan Om."


Ferdinand mengangkat wajah Mikaela.


"Om Ferdinand sayang Mikaela ... sayang sayang," ucap Ferdinand dengan suara bergetar.


Mika mendingan perlahan, masih menangis sesengukan. Keduanya saling menatap, sangat lama, hingga sampai akhirnya Mikaela semakin mengangkat dagunya.


CUP


BERSAMBUNG


Follow ya bestiiiiiku hehehe


Fb Sept September


IG Sept_September2020