My Hot Uncle

My Hot Uncle
Anak Kecil



My Hot Uncle bagian 18


Oleh Sept


"Syukurlah," gumam Ferdinand ketika bisa melihat sorot mata itu lagi. Kelopak mata Mikaela perlahan bergerak-gerak, mengerjap dan terbuka perlahan. Tanda bahwa gadis itu telah bangun setelah pinsan berjam-jam lamanya.


Ferdinand lantas memanggil keponakannya itu, ia lega karena Mika sudah sadar. Ditatapnya mika dengan sayang. Ya, karena dia sudah memutuskan, antara Sandra dan Mikaela, ia pilih gadis tersebut.


"Mika," panggil Ferdinand dengan suaranya yang lembut. Ia usap pipi Mika yang hangat. Ada beberapa memar di bagian wajah gadis tersebut, membuat Ferdinand kini menatapnya sendu. Sementara itu, saat dipanggil sang paman, Mikaela hanya diam, kemudian membuang muka. Sepertinya ia masih merajuk.


'Apa dia masih marah?' batin Ferdinand yang melihat sikap Mikaela yang jadi dingin. Padahal anak itu selalu merajuk, jika sakit pasti akan tambah manja. Tapi apa sekarang? Mika terlihat sedikit berbeda.


"Mika ... kamu baik-baik saja kan?" tanya Ferdinand lagi dengan nada khawatir.


Mika masih mlengos, hatinya masih sakit. Ia merasa sudah ditipu oleh dua orang sekaligus. Ia merasa dihianati.


"Om panggil dokter dulu," pamit Ferdinand karena Mika hanya diam saja.


Buru-buru Ferdinand beranjak, ia akan memanggil dokter. Dan begitu pamannya menghilang dari ruangan, Mika menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan lesu. Ada gurat kesedihan di wajahnya yang terluka.


'Apa aku tadi hanya bermimpi?' batin Mika yang sempat mendengar ucapan pamannya itu. Tentang hal yang cukup membuatnya terkejut, yaitu tentang sebuah pernikahan.


"Pasti aku tadi mimpi! Ya ampun ... mimpi model apa itu?" gerutunya.


Sesaat kemudian, pamannya tiba.


KLEK


Mika pura-pura dingin kembali saat melihat Ferdinand masuk. Di belakang pamannya itu, ada satu dokter dan juga perawat yang ikut masuk ke dalam. Dokter dengan jas putih yang sangat pas itu, kemudian mengeluarkan senter kecil. Ia periksa mata, mulut, dan anggota tubuh yang lain.


"Istirahat yang banyak ya," kata dokter kemudian menulis di catatan yang tadi dibawah oleh perawat yang masuk bersamanya.


"Bagaimana Mika, Dok?" sela Ferdinand yang khawatir, itu semua karena Mika terus saja diam. Tidak mau bicara sama sekali, padahal Mika kan lagi ngambek.


"Sejauh ini tidak perlu khawatir, nanti akan kami lakukan cek secara menyeluruh. Pak Ferdi tenang saja." Dokter menepuk pundak Ferdinand.


"Terima kasih banyak, Dok." Ferdinand mengangguk paham.


Karena sang dokter harus memeriksa pasien yang lain, dokter pun pamit untuk undur diri.


"Saya permisi, Pak." Dokter pun berlalu, diikuti oleh perawat yang mengekor di belakangnya.


"Baik, terima kasih banyak, Dok." Ferdinand mengantar sampai pintu, saat ia berbalik dan kembali, dilihatnya Mika masih membuang muka. Gadis itu tidak mau menatapnya.


Tap tap tap


Derap langkah Ferdinand menggema karena memang suasana sangat sepi, pria itu kemudian menarik kuris berkaki besi dan duduk di sebelah ranjang.


"Kamu masih marah sama, Om?" tanya Ferdinand. Mika masih mengunci rapat mulutnya. Ia yang selama ini cerewet mendadak pelit bicara.


"Om minta maaf kalau selama ini salah ..." sambung Ferdinand, meskipun Ferdinand merendah, Mika tetep pada pendirian. Membisu diam seribu bahasa. Lama-lama Ferdinand jadi kesal sendiri. Ia langsung menyentuh bahu Mika.


"Mika ... Om lagi bicara sama kamu."


Mika menepis lengan Ferdinand dengan sebelah tangannya yang tidak diinfus.


"Om Mika capek, ngantuk ... bisa tinggalkan Mika sendiri." Mika jadi super jutek pada pamannya sendiri.


"Mika," ucap Ferdinand heran dengan tingkah Mikaela sang keponakan.


"Oke! Kamu marah ... Om akan jelasin," tambah Ferdinand.


"Mika ... tenang Mika."


"Om keluar! Mika gak mau lihat Om!" teriak Mika. Sebenarnya ia takut, takut kalau Ferdinand bilang pria itu punya hubungan khusus dengan Sandra.


Diusir Mikaela jelas Ferdinand tidak mau, ia cemas pada kondisi Mika, bagaimana mungkin dia mau meninggalkan gadis itu sendirian.


"Meski kami usir, Om masih akan tetap di sini."


Mika yang marah, langsung beranjak kemudian memegang tiang infus. Ia turun dari ranjang rumah sakit, mau pergi keluar.


"Mika!"


"Jangan pegang Mika!" teriak Mika. Ia terus saja menepis pamannya.


"Kamu mau ke mana? Tetap di sini."


Mikaela kemudian mendongak, menatap wajah Ferdinand yang berdiri tegap di depannya.


"Om tidak usah sok khawatir dengan Mika!"


Ferdinand mengusap wajahnya dengan kasar. Ia frustasi mengatasi Mikaela yang selalu keluar jalur tersebut.


"Kamu mau ke mana? Berikan tiang infusnya. Om yang bawa." Ferdinand mengulurkan tangan. Namun, langsung mendapat peringatan galak dari gadis nakall itu.


"Mika bilang ... jangan sentuh."


"Mika jangan keterlaluan." Ferdinand kepancing, ikut emosional.


"Om yang keterlaluan! Mulai sekarang tidak usah sok peduli lagi, Om bukan siapa-siapa Mika, jadi ... Mika harap lakukan seperti apa yang Om mau. Om bebas dekat dengan siapa saja. Om bebas menikahi wanita itu! Jadi sekarang jangan mengusik hidup Mika!" teriak Mika mengeluarkan unek-uneknya.


Mendengar luapa emosi Mika, Ferdinand mengusap wajahnya berat, kemudian melihat Mika dalam-dalam.


"Oke, kamu mau Om menikah. Baik ... Om akan menikah."


'Brengsekkk, OM JAHAT!' maki Mikaela dalam hati.


Mika yang terlanjur kecewa, langsung pergi dengan membawa tiang infus bersamanya. Ia melangkah dengan hati yang sudah tercacar. Tidak mau mendengar omong kosong Ferdinand. Ia menduga bahwa pamannya akan menikahi Sandra.


'Lihat ... betapa kekanak-kanakan sekali dia ... bagaimana mungkin aku akan menikahi gadis kecil ini?' batin Ferdinand yang melangkah di belakang Mikaela.


"Mikaa! Kamu masih sakit ... berhenti."


Mika terus saja berjalan, sampai akhirnya kepalanya terasa pusing. Ia hampir pingsan kembali. Beruntung Ferdinand bergegas berlari kemudian menangkap tubuhnya.


'MIKA!'


"Jangan sentuh Mika," ucap Mika memperingati Ferdinand, meskipun kepalanya berkunang-kunang. Ia merasa semua yang ada di sana berputar-putar.


"Tetap diam, jangan banyak gerak."


Ferdinand kemudian membawa Mikaela ke ruangan. Dan setelah Mika terbaring, ia mulai mengomel keponakannya itu.


"Jangan seperti anak kecil! Kamu sebentar lagi kuliah. Bersikaplah dewasa sedikit ... jika kamu tetap seperti anak kecil begini, bagaimana bisa Om menikahi anak kecil?" tutur Ferdinand yang membuat lawan bicaranya terkesiap.


'Jadi tadi bukan mimpi?' Mika masih belum sadar dari rasa keterkejutannya.


BERSAMBUNG