
My Hot Uncle bagian 43
Oleh Sept
Pukul 7 pagi, bibi menyiapkan sarapan untuk Mikaela dan Ferdinand. Wanita paruh baya itu ikut senang, karena Mika sudah keluar kamar. Apalagi wajahnya terlihat jauh lebih segar, karena dari kemarin pucat. Mungkin karena sakit, dan begitu Ferdinand datang, eh Mika langsung sehat bugar.
"Masak apa, Bik?" tanya Mika yang duduk di meja makan. Ia keluar kamar lebih dulu, karena suaminya masih mandi.
"Spaghetti, Non."
"Harum banget, makasih ya, Bik."
Mika langsung makan dulu, tidak menunggu suaminya.
Sesaat kemudian. Bibi datang dengan jus pisang campur milk. Dia heran, piring Mika sudah mau bersih saja.
"Loh? Habis, Non?"
"Laper, Bik."
Bibi langsung tersenyum tipis, ia pun menawarkan makanan lagi. Namun, Mika menolakknya.
"Mau Bibi bikinkan sesuatu, Non?"
"Udah, Bik. Gak usah."
"Baik, nanti kalau mau makan apa-apa, kasih tahu Bibi ya."
"Hemm."
Tap tap tap
Dari belakang mereka, muncul Ferdinand yang kali ini berpakaian sedikit berbeda. Kemeja yang selalu ia pakai setiap hari, kini berganti menjadi baju casual. Hanya kaos pendek dengan celana kain selutut.
Pria yang wajahnya sumringah itu juga duduk di sebelah Mika. Kemudian senang melihat Mika mau makan.
"Maaf ya, Mika makan duluan," kata Mika sambil menyeruput jus pisangnya.
Tangan Ferdinand kemudian mengusap kepala Mika seperti anak kecil. Kemudian ia menyendok nasih goreng di piring.
"Coba HAK ..."
Mika menggeleng. "Udah, udah kenyang."
"Makan yang banyak."
"Udah, udah banyak tadi ... tanya aja sama bibi."
Pria itu lalu tersenyum, kemudian mulai memakan sarapannya. Sambil makan, ia sesekali memperhatikan istrinya.
Begitu juga dengan Mika, ia menikmati jus sambil menatap Ferdinand.
'Ganteng juga suamiku,' batin Mika saat memperhatikan pria yang duduk di sebelahnya.
"Lihat apa, Sayang?" goda Ferdinand saat melirik Mika yang terus saja menatapnya saat makan.
"Hemm ... cuma lihat suamiku makan. Makan aja ganteng banget!"
Mendengar gombalan Mikaela, Ferdinand malah terkekeh. Sejak kapan istrinya jadi ratu gombal?
"Emang baru nyadar? Suamimu kan memang ganteng."
Ferdinand dipuji langsung melambung tinggi, rasa PD nya otomatis bertambah.
"Ish ... oh ya, kok pakai baju santai? Gak ngantor?"
Ferdinand menggeleng, "Gak lah, mau menemani istri tercinta seharian ini."
Ganti Mika yang tidak bisa menahan senyum.
Keduanya duduk di meja makan dengan suasana hangat, suasana syahdu. Inilah yang selama ini Mika impikan, kebersamaan dengan orang yang ia kasihi. Tidak peduli sesibuk apapun, quality time bersama keluarga harus ada.
Selesai makan, mereka langsung kembali ke kamar. Entah mau apa, yang jelas Ferdinand belum berani main-main. Masih takut selama belum bicara langsung dengan dokternya.
Mika kini berbaring, dengan kepalanya di pangkuan Ferdinand. Mereka mulai membahas kehamilan Mika.
"Nanti agak siang kita ke rumah sakit ya?"
"Mau kuliah apa cuti dulu?" pancing Ferdinand.
"Lanjut aja, Mika gpp kok."
"Kemarin kok sakit?" tanya Ferdinand sembari mengusap pipi Mikaela yang ada di pangkuannya.
"Emm ... mungkin Mika masih kaget."
"Sekarang? Masih kaget nggak?"
Ferdinand terlihat hati-hati sekali membahas kehamilan istrinya kali ini. Ia hanya ingin Mika merasa nyaman.
"Masih, tapi sedikit."
"Jangan sakit lagi, ya," ucap Ferdinand.
"Tergantung ... kalau ditinggal-tinggak ke LN lagi, aku gak mau!" Mika merajuk, dan Ferdinand hanya tersenyum.
"Iya lah. Biarkan Billi yang urus. Kamu tenang saja, aku gak akan tega jauh-jauh. Apalagi sudah ada Malaikat kecil di sini," seru Ferdinand dengan tangannya yang sudah di atas perut Mika.
Mika yang tadinya takut, gelisah, cemas, entah mengapa, dekat-dekat dengan Ferdinand, apalagi melihat suaminya semakin cinta saat tahu dia hamil, Mika mulai menerima kehamilannya itu. Meskipun masih menyisahkan sedikit dilema di hatinya.
'Sepertinya dia sangat bahagia dengan anak yang aku kandung, apa aku bisa? Apa aku siap? Apa aku mampu? Namun, saat dia janji akan selalu di sisiku selamanya, rasanya menggandung anaknya itu bukan menjadi soal. Meskipun aku takut, jujur ... aku masih cemas. Apa aku bisa? Sayang ... maafkan aku yang mungkin akan kekanak-kanakan. Aku butuh waktu, hingga dia mendewasakanku.' Mika mengusap perutnya sendiri.
Hal itu sering ia lakukan, hampir setiap pagi, ia akan berdiri di depan kaca. Bercermin, kemudian melihat perutnya. Menimbang berat badannya yang mulai bertambah, dan sesekali Ferdinand memeluknya dari belakang. Cinta mereka masih hangat, masih panas, masih seperti layaknya pengantin baru pada umumnya.
Hanya saja, Ferdinand sudah absen satu bulan ini. Karena kandungan Mika yang masih rentan. Padahal dokter bilang tidak apa-apa, tapi harus hati-hati.
Dasar Ferdinand yang parno. Ia malah tidak berani, lebih milih solo karir di kamar mandi, atau meminta Mika membantunya untuk arisan. Mika sampai heran, kata dokter tidak apa-apa, tapi suaminya malah enggan. Seperti malam ini, saat kehamilan Mika sudah masuk bulan ke dua.
Tok tok tok
"Sayang! Ngapain sih ... lama banget!" protes Mika tengah malam di depan pintu kamar mandi.
"Masuk sayang, gak aku kunci."
KLEK
Mika benar-benar masuk dan dibuat kaget. BUMIL itu menghela napas panjang, kemudian menghampiri Ferdinand.
"Kata dokter gak apa-apa, kok sayang malah ketakutan gini."
"Gpp. Masih bisa ditahan kok."
"Ish!"
Gemas karena Ferdinand yang over cemasnya, terlalu protective, Mika pun langsung saja menempelkan bibirnya. Berusaha menggoda Ferdinand.
"Sayang ...!"
Ferdinand ingin menepis, tapi Mika mulai pandai bermain lidah. Membuatnya tidak tahan lagi. Akhirnya ia angkat tubuh Mika, ia bopong ke luar menuju ranjang, siap untuk di eksekusi.
Mika yang sedang hamil sebenarnya membuatnya tidak kuat menahan diri untuk menyentuhnya, tapi demi janin yang rentan itu, Ferdinand rela puasa. Sudah dikuat-kuati tapi Mika malah gentol memancing. Alhasil, benteng pertahanan suami Mika pun runtuh malam ini.
"Sayang ... kalem banget. Gak kerasa!"
"Hemm ... jangan, aku takut anak kita kenapa-kenapa."
"Ish ... ini mah nggak kerasa, cuma ujungnya saja!"
Ferdinand semakin heran, Mika kok jadi bar-barr dan tambah napppsuan! Mungkin hormon kehamilan membuatnya menjadi lebih berani dan sangat aggressiveee.
"Bagaimana?"
Mika langsung menggigit bibirnya, sebulan lebih tidak dijengguk. Bersambung
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Ini Mika, Uncle Ferdinand dan Ferdinand junior yaaaa