My Hot Uncle

My Hot Uncle
Jealous



My Hot Uncle bagian 15


Oleh Sept


Tidak mau terbawa dalam pikirannya yang buruk, Ferdinand langsung beranjak. Dekat-dekat dengan Mikaela nyatanya membuatnya gampang goyah.


"Minum obatmu, Om berangkat dulu."


"Hemm."


Ferdinand balik badan sesaat, "Om anggap kamu tidak melihat apa-apa."


Mikaela malah kepikiran, padahal tadi tidak mau membayangkan, tapi karena Ferdinand membahas, Mika jadi bisa melihat jelas bagaimana tubuh Ferdinand dari belakang, ditambah lagi ia sempat melirik, dari arah samping terlihat sesuatu yang tidak boleh dia lihat. Huwaaa, jiwa muda Mika meronta. Membuat wajahnya terasa menghangat.


Melihat Mika diam saja, Ferdinand lantas meninggalkan keponakannya itu. Ia menganggap kejadian tadi malam tidak pernah terjadi. Ia tutupi rasa malunya dengan bersikap acuh. Anggap saja Mika memang tidak melihat apa-apa.


***


Karena Mikaela sakit, jadwal yang seharusnya dilakukan pun terpaksa di cancel. Semua aktivitas Mikaela dibatalkan oleh Sandra. Mika hanya boleh di kamar, istirahat dan nonton TV atau lainnya. Kecuali keluar kamar.


Sampai sore, Mika jelas bosan. Ia mengendap-endap selagi Sandra tidak ada. Entah ke mana, yang jelas sudah setengah jam ia tidak melihat batang hidup kaki tangan pamannya itu.


Mika yang sudah lebih baik, tidak demam lagi, kemudian tersenyum tipis. Ia melihat Sandra sedang telpon, dan sepertinya sedang asik, kesempatan, Mika ingin menghirup udara segar di luar.


Sambil meggendap ia menenteng sepatunya, berjinjit agar tidak ketahuan. Namun, langkah kakinya terhenti ketika tidak sengaja menguping obrolan Sandra di telpon.


"Baik, Tuan. Sudah lebih baik ... oh. Baik, baik. Tuan tidak usah khawatir, nona Mika baik-baik saja. Baik ... nanti saya sampaikan kalau tuan pulang terlambat."


Mika tidak mau menguping lagi, ia benci sekali pada pamannya. Kesal, ia lempar sepatu yang ia pegang, membuat Sandra tersadar lalu menatapnya.


"Nona ... Nona mau ke mana?"


"Gak ke mana-mana!" jawab Mika ketus kemudian mengurung diri di kamar.


"Ada apa dengan anak itu?" gumam Sandra kemudinya menghampiri Mikaela.


"Tolong buka pintunya."


"Aku mau istirahat, jangan ganggu!" sentai Mikaela kurang sopan.


"Oh, baiklah. Mohon msnjauh, pintunya akan saya dobrak."


"Eh!"


Tahu betapa bar-barrnya Sandra, Mikaela langsung membuka pintu kamarnya.


"Aku mau istirahat, bisa gak sih kamu jangan ganggu aku? Aku sakit ... aku demam!" Mika memalingkan wajah, kenapa matanya jadi terasa perih.


Sandra menghela napas panjang, kemudian meraih Mika. Memeluknya sambil menepuk bahunya.


'Ada masalah pada anak ini,' batin Sandra. Ia yang mendekati Mika dengan metode kekerasan, kini mulai beralih. Ia dekap Mikaela yang benar-benar butuh kasih sayang tersebut.


Mereka berdua berbicara panjang lebar, mulanya Mika jutek, tapi setelah Sandra pintar memancing, Mika mulai bercerita, tetang teman-temannya, tentang sekolahnya, tentang almarhum kedua orang tuanya yang jarang ia ceritakan pada orang.


"Apa ini mami sama papimu?" Sandra meraih poto di atas nakas.


Mika tersenyum sendu. Lalu mengangguk, ada kesedihan yang jelas di wajah gadis bandell tersebut.


"Kamu mirip seperti mereka, mata kalian sama," ucap Sandra.


"Om juga bilang begitu," sela Mikaela.


"Tapi ... kok kamu gak ada mirip-miripnya sama tuan Ferdinand ya?" canda Sandra.


Mikaela langsung tersenyum hambar.


"Kami tidak memiliki hubungan darah," jawab Mika lirih.


'Oh, dia sudah tahu rupanya.' Sandra menatap penuh selidik.


"Emm ... kamu sudah punya pacar?" pancing Sandra lagi. Untuk membuat Mika jadi penurut, Sandra mulai mengambil hati anak tersebut.


Mika menggeleng keras.


"Mana boleh pacaran sama om!" gerutu Mikaela lucu.


"Dilarang ya sama tuan Ferdinand?"


"Aduhhh, om Ferdinand itu payah. Mungkin dia mau aku jomblo, biar sama kaya dia."


Mikaela kemudian terkekeh, rasanya menarik punya teman untuk bercerita. Biasanya kalau curhat sama ART, paling responsnya manggut-manggut saja, tapi kalau sama Sandra, Mika seperti menemukan sosok kakak. Wanita yang ia juluki nenek sihir itu ternyata baik juga.


Melihat Mika tersenyum, Sandra mengusap rambutnya. Anak nakall ini sebenarnya manis, dia membangkang mungkin hanya cari perhatian.


"Banyak urusan di perusahaan, mungkin akan pulang larut. Ada jamuan juga di hotel dengan rekan bisnis," jawab Sandra lugas.


"Oh. Emm ... Sandra ... boleh aku panggil kakak?"


Sandra mengulas senyum, kemudian mengangguk. Wanita itu kemudian berbisik.


"Mau aku ajarkan sesuatu agar tidak bosan di rumah?"


Jelas Mika mengangguk senang, seperti anak kecil dikasih permen atau coklat.


***


Halaman rumah Hartanto sangat luas, dengan terampil Sandra dibantu banyak penjaga di rumah tersebut menyulap halaman menjadi permainan tem bak.


"Ya ampun! Seru banget!" Mikaela sampai tidak mau berhenti.


Sampai hari mulai gelap, kalau bukan karena dipaksa Sandra, Mika pasti akan terus membidik.


"Kak Sandra! Besok ajarin aku yang lain."


"Karate? Wushu? Memanah? Climbing?"


Mata Mikaela langsung berbinar, sepertinya lebih seru dari pada main ke klab atau mall.


"Golf! Aku mau golf!"


Sandra kemudian mengangguk.


"Dengan catatan, kerjakan dulu semua tugas Nona."


Mika langsung lemas.


"Ish!"


Banyak sekali bank soal yang harus ia kerjakan, ini karena ia mau mendaftar ke universitas.


"Sekarang Nona mandi, setelah itu Kita makan."


"Oke!"


***


Pukul 9 malam.


Ferdinand baru pulang, Mikaela yang kelelahan sudah tidur di dalam kamarnya.


"Mana Mika?" tanya Ferdinand yang melihat Sandra membuka pintu.


"Sudah tidur, Tuan."


"Bagaimana hari ini? Apa dia membuatmu mendapat banyak masalah?"


Sandra menggeleng, kemudian meraih tas serta jas yang dilepaskan oleh Ferdinand.


"Terima kasih," ucap pria tersebut kemudian ke kamar Mika untuk melihatnya sebentar sebelum mandi.


"Sudah tidur rupanya," gumam Ferdinand kemudian menutup pintu pelan. Ferdinand yang lelah, ia pun beristirahat di kamarnya.


***


Pagi hari


Pagi yang cerah, secerah hati Mika. Bangun pagi ia sudah merasa senang. Setelah mengerjakan banyak soal nanti, ia akan diajak Sandra ke lapangan golf.


"Kira-kira om mau ikut gak ya?" gumam Mikaela kemudian mencari pamannya yang semalam belum ketemu karena ia ketiduran.


Mika melihat pintu kamar pamannya terbuka sedikit, tidak berani masuk. Ia mau mengintip dulu. Kepalanya maju sedikit, ia intip ke dalam.


Di dalam sana, Ferdinand sedang memakai jas, kemudian ada sebuah tangan yang membantu membetulkan dasi pria tersebut. Mata Mikaela menajam, ia menatap semakin dalam. Ingin melihat siapa pemilik tangan tersebut. Tidak mungkin bibi.


Semakin penasaran, Mika membuka sedikit pintunya, di sana terlihat jelas Sandra sedang memegang dasi Ferdinand.


"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar?"


Dua orang itu langsung menoleh, mereka terkejut karena Mika tiba-tiba berdiri di ambang pintu.


"Kenapa kamu ada di kamar om Ferdinand?" tanya Mikaela dengan tatapan cemburu.


BERSAMBUNG


Baru juga percaya pada seseorang, ia sudah merasa dihianati.