My Hot Uncle

My Hot Uncle
Masih Anget



My Hot Uncle bagian 37


Oleh Sept


"Kok balik?" tanya Mika sembari mendongak, menatap wajah suaminya yang super tampan. Cowok yang tadi saja sudah lewat, Ferdinand mempunyai daya tarik sendiri. Meskipun usianya jauh di bawah Mika, pria itu masih sangat mempesona.


"Kamu meninggalkan ini di dalam mobil," Ferdinand melepaskan pelukan Mika dan membuka pintu. Ia mengambil map coklat milik Mika yang tertinggal.


"Ups ... lupa!" kata Mika sambil tersenyum manis, memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapi. Menambah manis senyumnya.


"Ya sudah. Masuk lah, aku mau lanjut ke kantor. Oh ya ... siapa pria itu?" tanya Ferdinand kemudian.


"Hanya teman. Udah ... nanti telat. Mika masuk dulu."


CUP


Mika langsung memberi stempel di pipi Ferdinand. Dia mulai tahu cara bagaimana membuat jinak macan rumahannya itu.


Sedangkan Ferdinand, mau cemburu pun tidak jadi. Sikap Mikaela yang tidak malu-malu di depan umum, membuatnya yakin, bahwa di hati Mika hanya ada dirinya.


"Byeeee!"


Mika kemudian meninggalkan Ferdinand yang wajahnya sudah sumringah. Sudah dapat service full, dapat stempel pula. Rejeki nomplok. Punya istri yang masih muda rupanya cukup membuat harinya jauh lebih berwarna dan bersemangat.


"Tuan ... Tuan, nanti kita telat meeting."


Ferdinand tersadar, sambil masih tersenyum ia pun masuk dalam mobil karena sudah terlambat.


***


Jam makan siang, Ferdinand seperti mengalami puber kedua. Sepanjang hari ia menatap layar ponselnya, menunggu waktu ingin segera pulang. Bahkan ia yang biasanya sangat professional dalam pekerjaan, terlihat sangat tidak fokus.


Sampai tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia pun buru-buru meninggalkan kantor. Ketika pulang, ia mampir dulu ke sebuah toko bunga. Membeli sebucket bunga mawar merah yang segar, khusus untuk istrinya yang juga masih segar dan muda tersebut.


Masih di jalan, dia memastikan apa Mika sudah di rumah.


"Sayang, lagi apa?" tanya Ferdinand di telpon. Billi hanya tersenyum kecut. Bosnya terlihat sudah bucin level akhir.


"Ini masih di toko buku. Buat bahan ngerjain tugas."


"Sama siapa? Ini aku sudah otw."


"Sama Nita sama Lia."


"Cewek semua?"


"Iya."


"Oh, ya sudah. Aku tunggu di rumah. Langsung pulang kalau sudah dapat bukunya."


"Iya."


Tut Tut Tut


Telpon terputus, dan Ferdinand menatap bunga mawar di sebelahnya yang sudah dihias dengan cantik.


Sementara itu, di toko buku yang ada di tengah kota, Mika dan teman-temannya masih melihat-lihat beberapa buku. Sambil sesekali bercanda.


"Cowok kamu, Mik?" tanya Lia, teman barunya.


"Bukan."


Mika menggeleng.


"Selingkuhan?" sela Nita kemudian terkekeh bersama yang lain.


"Gilaaa lo!" ucap Mika kemudian memukul temannya dengan buku.


Mereka bertiga bercanda, circle Mika sekarang sudah berubah. Bukan lagi berkumpul dengan anak-anak yang bar-barr, ia lebih memilih teman yang membawa dia ke arah positive. Karena tidak mau mengecewakan suaminya.


Setelah selesai mendapat buku yang mereka cari, teman Mika ingin mereka makan camilan sambil ngobrol di cafe. Namun, Mika dengan halus menolak.


"Aku pulang dulu, udah sore juga nih."


"Hiyaaa ... alasan, mau menuin cowok tadi pasti. Iya kan? Ngaku!!!"


Mika hanya tersenyum.


"Dah ya, aku balik duluan."


"Oke, sampai jumpa besok."


Mika mengangguk kemudian meninggalkan teman-temannya.


Dijemput sopir, Mika akhirnya pulang ke rumahnya yang besar dan megah.


Tap tap tap


Ia langsung mencari suaminya, karena mobilnya sudah parkir di depan. Mika mencari ke kamar, tapi suaminya tidak ada.


"Ke mana dia?"


Mika kemudian meletakkan tas di atas sofa kamar, lalu mencari suaminya. Membuka semua pintu. Matanya kemudian tertuju pada bucket bunga yang ada di sudut meja. Bibirnya menggembang mengulas senyum, kemudian memeluk bunganya.


Settt ...


Blukk ...


Senyumnya semakin lebar, ketika sebuah lengan memeluk pinggangnya.


"Makasih bunganya," kata Mika kemudian berbalik.


Ferdinand menatap penuh cinta, membuat Mika merasa bahagia. Ini kah rasanya menjadi pengantin baru? Kenapa terasa sangat indah?


CUP


"Aku mandi dulu," sela Mika yang suaminya mau peluk tium peluk tium.


"Hemm."


Ferdinand pun menarik diri. Ia sedikit menjauh. Mika pun ke kamar mandi, tapi di belakangnya malah ada Ferdinand. Mika menoleh saat merasa diikuti.


'Suamiku sudah wangi, sudah ganteng ... ngapain ikut?' batin Mika.


"Mau ngapain?" tanya Mika saat langsung menoleh.


Tanpa dosa, Ferdinand melempar senyum.


"Mandi lagi!"


Bersambung