My Hot Uncle

My Hot Uncle
2 Bayi



My Hot Uncle bagian 47


Oleh Sept


'Apa aku di surga ... Mami ... Papi!'


Mikaela berjalan di lorong panjang, ia menatap kedua orang tuanya yang ada jauh di depannya. Dinara melepaskan senyum terindahnya untuk putrinya yang tidak bisa ia temani sampai dewasa. Sedangkan Alexander, dia melambaikan tangan. Meminta Mika menjauh.


"Papi ..." bibir Mikaela bergerak-gerak. Menyebut dan memanggil orang tuanya.


"Sayang ... Mika ... Sayang ... bangun. Anak kita sudah lahir, kamu tidak ingin melihatnya?" bisik Ferdinand dengan suara serak di telinga Mikaela.


"Mi ... Pi ..." Mika terus saja menigau. Dalam mimpinya ia merasa ketakutan, karena Dinara dan Alexander meninggalkan dirinya sendirian di lorong panjang.


Sementara itu, Ferdinand merasa hatinya amat sakit. Bukan karena sakit hati, tapi sakit melihat istrinya memanggil orang tuanya yang sudah meninggal.


"Sayang, bangun sayang!" pinta Ferdinand kemudian mengusap lembut pipi Mikaela. Ia juga mengusap sudut mata Mika yang sudah basah, karena menangis dalam mimpinya.


Oek ... oek ... oek


Suara tangis bayi yang nyaring, membuat kelopak mata Mikaela kembali bergerak.


"Mika," panggil Ferdinand yang mencoba membangunkan istrinya pasca operasi beberapa jam yang lalu.


Begitu mata Mika terbuka karena mendengar suara tangis bayi, Ferdinand langsung merasa lega. Ia kemudian mundur dan berjalan ke box bayi. Ia angkat bayi kecil yang masih merah tersebut.


"Lihat! Dia ganteng sekali."


Mika mengerjap, mencoba untuk bicara. Namun, lidahnya terasa keluh. Untuk bicara ia terasa berat. Seolah mengerti, Ferdinand perlahan mendekat, kemudian memperlihatkan bayi kecil mereka.


Mika membuka mulut, ingin bersuara. Tapi bibirnya hanya bergetar. Ia teringat mimpinya barusan. Mami dan papinya pergi menjauh dan tersenyum padanya.


"Ke-sya ...!" akhirnya ia bisa memanggil nama bayi kecilnya yang baru lahir ke dunia.


Melihat istrinya menangis, mata Ferdinand pun ikut basah. Ia kemudian mengecupp kening Mika, kemudian meletakkan bayi kecilnya ke atas tubuh Mikaela.


Bayi yang tampan, seperti ayah dan juga ibunya. Memiliki kulit yang bersih dan mengemaskan. Bayi munggil itu sepertinya langsung tahu, karena dia langsung menyesap ibunya.


Mika sedikit tersentuh, akhirnya ia menjadi seorang ibu. Ia masih menangis, bukan karena sedih. Karena dia benar-benar bahagia, meskipun menikah muda, dan menjadi seorang ibu saat usianya masih terhitung muda, ia tidak menyesalinya. Mikaela merasa seperti wanita paling beruntung.


Ia usap punggung lembut baby Key dengan sayang, sampai Ferdinand harus mengusap pipi Mika, karena Mika masih saja menangis.


"I-ini ...," Mika sampai speechless.


SROTTTT


Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia terlanjur larut dalam segala rasa haru yang campur jadi satu. Menjadi seorang ibu, ternyata sangat-sangat luar biasa. Kelahiran baby Key menjadi satu keajaiban bagi Mikaela. Mika yang manja, suka cari perhatian, sekarang sudah menjadi seorang ibu.


"Sudah, jangan nangis ...."


***


Beberapa saat kemudian.


Billi datang bersama Fabiola. Mengucap selamat untuk keduanya, selamat atas kelahiran putra pertana mereka.


"Selamat ya."


Mika mengangguk, ia memangku baby Key yang minta ASI.


"Billi, Kita keluar!" kata Ferdinand saat melihat Mika mau memberikan ASI pada bayinya. Tidak mau pria lain melihat yang bukan-bukan.


Ferdinand menjadi over possessive. Dan dokter Fabiola hanya tersenyum, melihat kekasihnya tarik keluar oleh Ferdinand.


"Apa ASInya lancar?"


Mika menggeleng.


"Nanti jangan diet dulu. Makan yang bergizi, jangan takut badan melar."


Mika hanya tersenyum.


"Mau kasih ASI apa sufor saja? Kamu kan kuliah?"


Mika yang memang suka bersikap santai pada Fabiola seperti teman meskipun beda usia, ia pun mengatakan rencananya.


"ASI, aku ingin deket dengannya," ucap Mika dengan tatapan sendu. Ia teringat, bagaimana dia kecil dulu. Sangat dekat dengan mami dan papinya, sayang sekali, takdir tidak memihak mereka.


Makanya, Mika tidak mau putranya menggulang apa yang ia rasa. Meskipun ia akan sibuk kuliah, dia akan usaha ASI eksklusif. Kan bisa dipompa.


"Kamu hebat," puji Fabiola sambil memegang pundak Mika.


"Apanya yang hebat? Bukankan semua ibu juga begitu?"


Fabiola menggeleng pelan. "Tidak semua, tapi kamu salah satunya yang hebat."


"Baru juga jadi ibu sehari, mana kamu tahu aku hebat atau tidak!" ucap Mika yang mulai bisa bercanda. Entah mengapa, melihat betapa gantengnya baby Key, Mika merasa sangat bahagia. Moodnya mendadak langsung bagus begitu saja.


"Iya, sih ... lihat nanti. Sampai kamu punya mata panda!" canda Fabiola balik. keduanya saling melempar senyum.


Dan benar saja. Hari pertama merawat bayi di rumah sudah sangat heboh. Ferdinand kuwalahan, antara mengurus bayi kecilnya dan mengurus bayi yang sudah besar. BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020