
My Hot Uncle bagian 36
Oleh Sept
Sudah tiga hari mereka menginap di hotel, maunya ke Swiss atau ke Paris untuk bulan madu. Namun, karena Mika harus kuliah ditambah Ferdinand juga banyak kerjaan, mereka memutuskan menunda bulan madu. Lagian Ferdinand belum berniat membuat Mika hamil, mereka sudah sepakat baik-baik untuk menunda beberapa tahun lagi.
Meksipun hati kecilnya berat, tapi Ferdinand menunjukkan sikapnya baik-baik saja. Demi Mikaela, dia tidak apa-apa menunda punya momongan. Apapun itu, asal Mika bahagia, Ferdinand pasti lakukan itu. Karena kebahagian Mikaela sekarang itulah yang sangat penting.
***
Kediaman Hartanto.
Mika sudah siap-siap untuk kembali beraktifitas, begitu juga dengan suaminya. Pagi-pagi mereka sudah kelihatan rapi, siap untuk melanjutkan rutinitas seperti biasanya.
"Sayang, jangan pakai itu."
Ferdinand sambil merapikan dasi, ia melirik pakaian Mika. Pakaiannya sih biasa, hanya saja agak press body. Dan Ferdinand tidak suka.
Mikaela lantas melihat apa yang ia pakai lewat pantulan cermin di depannya.
"Apa yang salah? Ini tertutup loh," kata Mika menatap aneh suaminya.
"Tertutup sih, tapi agak ketat!" protes Ferdinand yang memang tidak suka keindahan tubuh sang istri terekspose oleh mata buaya-buaya di luar sana.
"Lah? Masa aku harus pagai daster bibi ke kampus? Biar longgar? Atau beli gamis sekalian?"
Ferdinand langsung menarik hidung Mikaela yang ada saja jawabannya.
"Aduhhhhhh!"
Pria itu kemudian melepaskan Mika, membuka lemari pakaian, dan mengeluarkan koleksi pakaian Mika yang sedikit lebih sopan.
"Ya ampun, itu kan baju untuk musim dingin? Bisa gerah nanti!" celoteh Mikaela yang tidak mau pakai baju lengan panjang dengan leher panjang pula yang lebih mirip sweater.
"Udah sayang, pakai ini sendiri atau aku pakain?" tanya Ferdinand dengan mata penuh arti.
Buru-buru Mikaela meraih baju itu.
'Bisa ronde ke 3. Malah gak ngampus!' batin Mikaela kemudian lari ke walk in closet untuk ganti pakaian. Tidak mau ganti di depan Ferdinand, ia trauma. Bisa-bisa mereka tidak akan keluar kamar tepat waktu.
Tap tap tap
Mika sudah selesai, ia keluar ganti pakaian dan di kamar sudah tidak ada siapa-siapa.
"Ke mana dia?"
Mika kemudian mencari Ferdinand yang ternyata sudah menunggu di meja makan. Sambil menunggu dirinya, Ferdinand kini menelpon seseorang.
'Pagi-pagi telpon siapa?' batin Mikaela kepo.
Settt ...
Mika menarik satu kursi di dekat suaminya, sehingga mengalihkan perhatian Ferdinand.
"Nanti saya hubungi lagi."
Tut Tut Tut
"Telpon siapa?" tanya Mikaela dari pada penasaran.
"Ayo sarapan, kita telat."
'Idih malah gak jawab!'
Mika makan sambil melirik suaminya.
"Kita berangkat bareng ya, aku antar sampai kampus."
"Nanti dijemput sopir."
"Bawa mobil sendiri aja deh."
"Aku anterin, terus langsung ke kantor."
"Ish!"
Melihat Mika manyut, Ferdinand langsung tersenyum. Mika memang masih seperti bocah. Hingga mereka selesai sarapan, seperti mau Ferdinand, mereka pun berangkat bersama-sama hari itu.
Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan Ferdinand yang duduk di kursi belakang bersama Mika, memberanikan banyak nasehat. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Mika sampai jenggah. Kok aturannya semakin ketat saat mereka sudah menikah?
"Masa Mika gak boleh main habis kuliah sama temen? Biasanya juga gak apa-apa ngemall bentar!" protesnya.
"Nanti kamu kecapekan, udah ... habis selesai kuliah langsung pulang ya?"
'Yang bikin capek kan tiap malam harus bergadang.'
Mika menghela napas panjang, kemudian bersandar di pundak pamannya.
"Iya .... iyaaaaa!" jawabnya kemudian dengan sedikit tidak ikhlas.
"Jawabnya kok gitu?"
"Hemmm ... iya sayang!"
Ferdinand yang senang menjahili istri kecilnya itu, langsung merangkul pundak Mika.
'Cepatlah dewasa ... mungkin anak kita akan sangat mengemaskan sepertimu,' batin Ferdinand yang memang hati kecilnya ingin memiliki anak.
Tidak terasa mereka tiba di depan kampus Mika.
"Hati-hati ya."
Mika mengangguk kemudian menutup pintu. Mobil pun melaju meninggalkan Mika yang masih berdiri seorang diri.
"Mikaaa!"
Mika menoleh saat namanya dipanggil. Seorang pemuda datang setengah berlari.
"Ke mana saja absen berhari-hari?"
Mika menatap pemuda itu dari atas sampai bawah.
"Ada urusan keluarga," jawab Mika santai.
"Oh. Eh ... pulang nanti jalan yuk."
Drettt ... drettt ...
Ponsel Mika bergetar, sebuah pesan WA masuk.
[Jangan dekat-dekat sama cowok ya. Aku pencemburu]
Mika langsung menoleh ke belakang. Ia seakan mencari sesuatu. Dan benar saja, sepertinya mobil Ferdinand putar balik, dilihatnya sosok pria berdiri sambil bersandar di pintu mobil.
Mereka berdua saling menatap dari jauh, kemudian terbitlah senyum di bibir Ferdinand, membuat Mikaela langsung lari dan memeluknya.
Cowok di belakang Mika bengong, sedangkan Ferdinand, ia juga kaget karena Mika langsung memeluknya.
Bersambung
IG Sept_September2020
Fb Sept September