
My Hot Uncle bagian 17
Oleh Sept
Motor sports yang ditumpangi Sandra berhenti tepat tidak jauh di depan mobil Mikaela yang depannya sudah agak ringsek gara-gara menabrak pagar saat melewati para penjaga.
Mika sendiri telah menginjak pedal gas dengan emosional. Rasa marah, cemburunya pada Ferdinand, membuat pikirannya berkecamuk. Sifatnya yang kekanak-kanakan, membuat Mikaela tidak bisa berpikir jernih. Sambil mata berkaca-kaca, Mika langsung melesat dengan mobilnya.
Sandra sangat terkejut akan keberanian Mikaela, wanita itu melompat sebelum ditabrak. Sandra tergulung-gulung di tengah jalan. Sedangkan Mikaela, tiba-tiba ingatan gadis itu kembali pada saat kecelakaan yang membuatnya kehilangan sang ayah.
Tubuhnya bergetar sambil mencengkram kemudi, apalagi setelah menabrak motor Sandra. Mika yang kacau, tidak bisa fokus kembali. Hingga akhirnya mobilnya berhenti ketika menabrak warung makan yang ada di pinggir jalan.
Mobil Mikaela semakin ringsek parah, sedangkan Sandra sudah ditangani oleh penjaga yang juga mengejar di belakang Ferdinand. Melihat mobil Mikaela berhenti dengan kepala mobil menabrak tembok warung makan, Ferdinand bergegas turun.
'Tidak boleh ... ini tidak boleh,'
Mendadak Ferdinand teringat akan pemakaman Alexander dan juga Dinara kakaknya.
"Ini tidak boleh terjadi," ucap Ferdinand dengan bibir bergetar.
Hatinya kelewat sakit, ia ketakutan ketika akan membuka pintu mobil yang sudah risak tersebut. Dengan tangan yang gemetar, bersama orang-orang yang ada di sana, Ferdinand mengeluarkan tubuh Mikaela.
Darah yang memenuhi wajah Mikaela, membuat Ferdinand menjerit keras. Pria tersebut berteriak memanggil nama gadis yang malang tersebut.
"MIKAAA!"
Dengan bantuan orang-orang, Ferdinand membawa Mika ke rumah sakit. Ia duduk di jok belakang sambil memangku Mikaela yang terkulai lemas, ia meminta penduduk sekitar untuk mengemudikan mobilnya. Mika dibawa ke rumah sakit terdekat, ia langsung ditangani begitu mereka tiba di rumah sakit.
UGD
Ketika Mika sedang ditangani, Ferdinand mondar-mandir di depan UGD. Waktu terus berlalu, Mika belum juga bisa ditemui. Dokter masih melakukan penanganan khusus. Pria itu tampak khawatir, takut jika kehilangan kembali.
"Bagaimana Mika?"
Ferdinand yang duduk lemas kemudian mendongak, melihat Sandra yang berdiri dengan lengan yang di perban.
"Entahlah ... dokter belum keluar. Bagaimana denganmu?" tanya Ferdinand, tapi dengan tatapan kosong.
'Kau benar-benar sudah berubah. Sepertinya kau hanya memikirkan anak itu. Kau tahu? Aku juga terluka!' batin Sandra yang merasa kecewa.
"Aku baik-baik saja," ucap Sandra bohong. Ia kemudian duduk di sebelah Ferdinand.
"Dia pasti baik-baik saja," sambung Sandra kemudian menghela napas panjang.
"Semoga," jawab Ferdinand lesu.
KLEK
Pintu terbuka, dokter keluar menjelaskan sedikit masalah kemudian kembali masuk bersama dokter lain.
"Selamatkan keponakannya saya, Dok ... Apapun caranya ... dokter harus selamatkan Mikaela!"
Ferdinand yang tegas mendadak tidak berdaya, setelah apa yang menimp Mika, ia merasa sakit sekali. Ia tidak sanggup kehilangan lagi untuk kali ini.
Merasa Ferdinand sangat terpukul dan shock, meskipun kecewa, Sandra pun menenangkan pria tersebut. Ia peluk Ferdinand, tapi sesaat kemudian melepaskan pelukan itu.
"Tolong ... tolong jangan muncul lagi di depanku."
"Fer ...!"
Sandra tambah sakit hatinya, kenapa Ferdinand jahat sekali. Tidaklah ia sudah banyak mengalah?
"Ini gak adil," ujar Sandra.
Ferdinand kemudian menyentuh tangan Sandra, ingin meminta wanita itu untuk memaafkan dirinya. Lebih baik seperti sebelumnya, mereka tidak usah bertemu lagi.
"Fer ... kamu gak boleh kaya gini. Dia hanya keponakan kamu ... usia kalian sangat jauh, kamu gak mungkin kan menjadikan dia pendamping kamu ... realistic Fer. Hanya karena anak yang masih labil itu, kamu menggulang kesalahan yang sama? Aku cukup diam, tapi gak dengan ini. Cukup."
"Maafkan aku, Sandar. Kamu boleh membenciku ... kamu boleh mengutukku. Tapi aku tidak bisa bila hidup tanpa Mikaela."
DUARRR
Hati Sandra seperti dicubit kepiting. Sakit!
"Brengsekkk kamu, Fer!"
Sandra yang terluka hatinya, langsung beranjak. Ia pergi dengan luka yang memenuhi hatinya. Sementara itu, Ferdinand hanya bisa menundukkan wajah sembari mengusapnya dengan kasar. Sudah ia putuskan, ia telah memilih Mikaela.
***
Berjam-jam sudah berlalu, Mika sudah dipindahkan ke ruang VIP. Gadis itu belum sadar, masih pingsan, belum siuman.
Hingga malam, Mika belum juga bangun. Ferdinand yang belum pulang sejak pagi, hanya duduk di tepi ranjang. Padahal Bill sudah mengantar pakaian ganti, tapi Ferdinand masih memakai baju yang sama.
"Tuan ... makan dulu."
Ferdinand mengabaikan seruan Billi. Ia terus saja melamun sambil memegang tangan Mikaela.
"Tinggalkan aku sendiri."
"Baik, Tuan."
Setelah Billi, sang sekitar pergi. Ferdinand mulai bicara pada Mika, meskipun gadis itu belum sadar.
"Mika ... bangunlah! Kamu sangat menyukai Om, kan? Om tahu ... Om paham. Bahkan saat pertama kali kamu berani menci um Om ... Om tahu Mika. Bangunlah ..."
Ferdinand mengusap lembut kening Mika, kemudian menempelkan bibirnya perlahan. Namun, gadis itu tidak mau bangun. Membuat Ferdinand mencari cara lain agar Mika mau membuka mata. Pria itu lantas berbisik tepat di telinga Mikaela.
"Bangun ... jika bangun, kita mungkin bisa menikah."
Ferdinand tersenyum getir, dilihatnya kelopak mata Mikaela mulai bergerak-gerak.
"Anak nakal!"
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Kisah sudah END, the Devil Husband, my Boss my Husband, dipaksa Menikah, dinikahi Milyader, suami Satu Malam, kekasih Bayaran, Rahim bayaran. Klik profile Sept, temukan puluhan bacaan yang mungkin menarik. Terima kasih bestie.