My Hot Uncle

My Hot Uncle
Belum Siap



My Hot Uncle bagian 21


Oleh Sept


Ia pikir hanya akan menggoda dan menguji pamannya tersebut. Namun, ketika tembok Berlin di hati pamannya runtuh, Mikaela yang dibuat kalang kabut. Jantungnya meletup-letup, bergemuru, berdegup dengan kencang. Seumur-umur baru kali ini adrenalinenya begitu terpacu.


Selama ini ia memang sayang pada manusia bernama Ferdinand tersebut, tapi itu sayang seperti keluarganya sendiri. Hari ini, hari menjelang matahari terbit, sayang itu mendadak terasa lain. Bukan kasih antar keluarga, tapi kasih antara perasaan orang dewasa. Sebut dia kekanak-kanakan, tapi Mikaela jelas sudah merasakan apa itu cinta. Terlebih ketika Ferdinand sudah berani menyentuhnya saat ini.


***


'Aku akan menjaganya, biarkan Mikaela bersamaku,' batin Ferdinand yang seakan bicara pada sang kakak yang telah tiada.


Pria dewasa tersebut memejamkan matanya dalam-dalam, masih menyelami rasa, menyesap lembut bibir Mikaela yang sudah membuatnya mulai goyah.


Sementara itu, dengan jantung yang berdegup kencang, Mika melingkarkan lengannya di leher Ferdinand. Ia seolah larut, ini adalah ulahnya, dan meskipun gugup, perlahan ia mengikuti arus bersama sang paman.


Cukup lama bibir mereka menyatu, bersilat lidah dalam arti yang sebenarnya, dengan saling memberikan gigitan yang menimbulkan gemuru yang menggeloraaa. Mika dan Ferdinand, tidak mampu menahan gejolak dalam diri mereka, keduanya sudah terjebak akan rasa yang selama ini hanya bisa ditahan.


'Ini hal gilaa yang pernah aku lakukan ... tapi, aku tidak akan menyesalinya. Mika ... maafkan om.' Hati Ferdinand kembali bergejolak, tapi tubuhnya tidak mau menyerah.


Seperti kucing kelaparan di pasar berbulan-bulan, begitu melihat ikan segar, Ferdinand sungguh ingin menyantapnya. Seolah tidak peduli, bahwa gadis itu adalah gadis kecilnya yang ia rawat sendiri sejak kecil. Sedikit merasa berdosa, tapi mereka tidak terikat darah.


Ferdinand yang sudah tidak bisa menahan gejolak jiwanya sebagai laki-laki dewasa, ia pun tidak mampu menepis tangannya sendiri yang mulai tidak tahu malu.


Masih saling bertaut, Mika begitu panik saat tangan Ferdinand masuk dan pakaian yang ia kenakan. Ia terhenyak, tidak menyangka pamannya akan seberani itu sekarang.


"Om," bisik Mika yang melepaskan tautan bibir mereka, ia menyentuh tangan Ferdinand.


"Mika takut," tambah Mika.


Ferdinand yang wajah dan tubuhnya sudah sangat panas, ia kemudian melepaskan Mikaela. Ia bisa melihat keponakannya itu ketakutan, biarpun bandell, Mika memang belum pernah pacaran. Ferdinand sengaja menjaga hal itu. Ia tidak mau keponakannya itu dijamahh oleh pria-pria tidak bertanggung jawab. Apesnya, ia sendiri yang malah mengerjai keponakannya itu.


Ferdinand kemudian merengkuh pinggang Mikaela, kemudian berbisik.


"Terima kasih sudah mengingatkan, Om. Hampir saja Om melewati batas," bisik Ferdinand, ia menghela napas panjang. Berusaha mendapatkan kewarasan. Namun, tubuhnya masih belum bisa berdamai. Hingga membuat Mikaela ketakutan kembali. Pelukan mereka membuat Mika dapat merasakan sesuatu yang aneh. Ada yang mengganjal seperti ganjalan pintu di bawah sana.


Jantung Mikaela masih belum aman, tiba-tiba saja ia menjadi sangat takut. Kemudian bayangan yang waktu itu tiba-tiba juga muncul dalam pelupuk mata, membuat Mika malu campur gelisah.


Sesaat kemudian, Ferdinand melepaskan pelukan. Ia juga tidak tahan menahannya lama-lama.


"Om ke kamar mandi dulu."


Saat Ferdinand menarik diri, Mikaela merasa lega, tapi ia juga penasaran. Mau apa pamannya di kamar mandi?


"Om mau ngapain?" tanya Mika sembari mengangkat wajahnya tinggi karena tinggi mereka yang jauh berbeda. Meskipun Mikaela sudah tinggi di atas rata-rata, tapi masih terpaut jauh dengan tinggi Ferdinand. Gadis campuran Amerika, Belanda dan Indonesia ini, masih kalah jauh dengan sang paman yang sangat jangkung tersebut.


Sementara itu, ketika Ferdinand ditanya mau ngapain, ia hanya tersenyum tipis.


"Kenapa kamu jadi penasaran saat Om mau ke kamar mandi?" pancing Ferdinand yang mulai berani menggoda balik Mikaela.


"Itu ... itu bukan yang seperti itu kan?" tanya Mikaela polos.


"Sudah berapa banyak yang kamu tonton, Mika?"


Mika langsung gugup, ketahuan kalau ia tidak selugu kelihatannya. Pasti pamannya tahu, Mika suka lihat yang aneh-aneh.


Mike pun menggeleng pelan, membuat Ferdinand gemas. Kemudinya mengusap wajahnya dengan lembut.


"Om hanya ingin menjagamu," ucap Ferdinand Kemudian beranjak.


"Om! Om Ferdinand," panggil Mikaela sambil berdiri di depan pintu.


Di dalam kamar mandi, Ferdinand sedang susah payah melakukan arisan. Napasnya memburu, hampir keluar, tapi gara-gara suara Mikaela yang berisik itu, mendadak konsentrasi Ferdinand buyar.


"Ada apa?"


"Kok lama, Om?"


Ferdinand mendesis, kemudian tersenyum tipis. Pria itu merapikan bajunya lagi kemudian membuka pintunya.


KLEK, suara pintu terbuka dari dalam.


Mikaela kemudian menatap wajah Ferdinand yang tegang, gelisah tidak seperti biasanya.


"Sudah selesai?" tanya Mikaela dengan berani sambil menatap pamannya.


Ferdinand jelas tertegun, Mika benar-benar bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa.


"Bagaimana bisa selesai, kamu menganggu Om terus."


Suasana menjadi hening, kemudian Mika maju ke depan. Ia masih bisa melihat sesuatu yang menyembul tersebut. Seperti tidak takut, Mika malah memeluk pamannya.


"Mika ..."


"Ya, Om."


"Untuk saat ini, jaga jaraklah sama Om."


Mika tertegun, tapi semakin mempererat lengannya memeluk Ferdinand.


"Apa Om takut kita melewati batas?"


"Ya ... jangan membuat Om merasa bersalah pada orang tuamu."


"Lalu bagaimana kalau kita segera menikah?"


"Kamu masih kecil!" sela Ferdinand kemudian menepuk bamper Mikaela karena gemas.


"Aku sudah punya KTP, Om. Tidak lama lagi lulus. Bagaimana kalau setelah lulus?" tawar Mikaela.


"Rasanya Om terlalu egois, jika hanya karena tidak bisa menahan diri, kemudian menikahimu cepat. Belajarlah lebih banyak, Om tidak bisa membayangkan kalau pas kamu kuliah, Om bikin hamil."


Seketika Mikaela bergidik, kata hamil yang Ferdinand katakan, membuat Mikaela merasa gugup. Belum lagi saat merasakan sesuatu yang keras di dalam sana. Pikiran Mika yang sudah keruh, mendadak menjadi kotor, hitam seperti oli.


Mendapati Mikaela yang terdiam, Ferdinand kembali bersuara.


"Jadi jangan minta cepat dinikahi, sebelum kamu benar-benar siap. Siap ... untuk menjadi ibu dari anak-anak, Om."


Pelukan Mikaela perlahan melemah, ia sadar, pikirannya belum sejauh itu. Ia hanya ingin hidup bersama sang paman. Menjadi satu-satunya, selalu bersama. Mika mungkin lupa, selain menikah itu karena cinta dan ingin hidup bahagia bersama, menikah juga untuk mendapat keturunan. Jelas Mika belum siap hamil, gadis itu kemudian beringsut.


"Mika balik ke kamar, Om."


Ferdinand tersenyum getir. Sedikit lega, tapi ada rasa kecewa sedikit. Karena mungkin Mika tidak sehebat ekspetasinya. Mika tetaplah bocah, yang belum bisa ia harapkan akan jadi ibu dari anak-anaknya kelak. Harus menunggu bertahun-tahun, sampai Mikaela siap. Sedangkan dirinya, semakin lama ia semakin tua.


Pria dewasa itu mendadak dilema. Apakah rencana menikahi Mikaela sudah benar?


BERSAMBUNG