
My Hot Uncle bagian 12
Oleh Sept
"Tidak usah marah seperti itu, Om."
Mikaela turun dari ranjang, bibirnya mengerucut masam.
"Pakai apa kamu itu? Jangan sekali-kali menegangkan pakain seperti ini!" omel Ferdinand kemudian melempar selimut ke tubuh Mikaela yang sudah berdiri.
Bagi Mika, sudah biasa ia berbaring di ranjang yang sama. Ya, meskipun itu dulu. Dan masalah pakaian minim yang ia kenakan, sepertinya ia sudah sering memakainya. Lalu kenapa pamannya malam ini sangat marah? Astaga, Mikaela takut lama-lama pamannya kena stroke, karena sedikit-sedikit marah.
"Kenapa Om pulang-pulang marah-marah. Lagian biasanya juga gak protes apa yang Mika pakai!" bantai gadis itu kemudian menatap Ferdinand dengan kesal.
"Mulai sekarang! Kamu dilarang memakai pakaian seperti ini. Kalau kamu masih nekat, Om pastikan akan membakar semua baju-bajumu!" ancam Ferdinand.
Pria itu mulai ketar-ketir, sebab Mika bukan gadis kecil lagi. Yang mana terlihat lucu bila pakai rok tutu. Atau terlihat menggemaskan kalau hanya pakai singlet. Itu semua jelas berbeda, mungkin bagi Mikaela itu biasa saja, tapi tidak dengan Ferdinand.
Pria dewasa itu mencoba keras membangun benteng besar, agar tidak berpikir macam-macam tentang keponakannya sendiri. Meskipun semua tahu, mereka bukan sauadara. Hanya saja, Ferdinand akan merasa bersalah jika sampai melakukan hal aneh-aneh pada Mikaela.
Ia tidak mungkin membalas kebaikan keluarga Hartanto itu, sebisa mungkin Ferdinand akan menjaga Mikaela sepenuh hatinya. Bahkan ia sampai belum menikah hingga sekarang. Padahal, banyak sekali wanita yang antri mendekati. Sayang, hati pria itu masih terkunci. Masih tertutup rapat, karena fokus membesar Mikaela dan mengurus perusahaan.
Saat ini, Mika yang kesal karena diancam sang paman, bahwa bajunya yang minim akan dibakar semua, gadis itu pun berjalan ke luar dengan emosional.
"Awas saja sampai om Ferdinand menyentuh semua baju-bajuku! Memangnya apa yang salah dengan baju ini? Apa om gak lihat? Artis Hollywooddd juga melakukan hal yang sama. Ini masih mendingan, hanya kelihatan pusarrr!" gerutunya kesal.
Mika kemudian membuka semua lemari bajunya. Dari deret pertama sampai bawah, isinya memang rata-rata sama. Minim bahan dan bikin masuk angin. Yang paling sopan hanya baju sekolah. Itu pun kini sudah tidak ia kenakan lagi, karena sang paman sudah mengeluarkan Mikaela dari sekolahnya.
Sampai larut, Mika yang kesal pada Ferdinand tidak bisa tidur. Mika melihat jam di atas meja, sudah pukul 11 malam. Tapi belum bisa tidur juga, akhirnya ia keluar.
Mika bermain di kolam samping rumah. Hanya kakinya yang masuk kolam, sedangkan tangannya memainkan air. Gadis itu tidak tahu, ada yang mengintip dari atas jendela. Ya, Ferdinand belum tidur, sama sepertinya. Pria itu sedang berdiri di balkon, dan saat melihat Mikaela keluar, ia malah mundur.
"Kenapa anak itu belum tidur?"
Ferdinand melangkah sedikit, ia intip Mika yang bermain dengan air. Sementara itu, di bawah sana, Mika yang sedang gabut parah, tiba-tiba turun perlahan. Tidak hanya kakinya yang basah, kini seluruh tubuhnya juga basah kuyup. Ditambah ia malah langsung menyelam. Mika yang hatinya sedang gunda gulana, memilih berenang tengah malam.
"Astaga Mika!"
Ferdinand memijit pelipisnya ketikan melihat keponakannya yang renang tengah malam. Namun, pria itu lama-lama khawatir. Mikaela tidak muncul setelah menyelam beberapa menit.
Panik, Ferdinand langsung turun dari kamarnya. Suasana sangat sepi, Ferdinand yang panik, begitu sampai tepi kolam, ia langsung menceburkan diri dan terjun ke kolam untuk memeriksa Mikaela.
BYURRR ...
Tidak peduli akan dinginnya air kolam, pria itu terus saja menyelam mencari Mika, sang keponakan.
Byurrr ...
Mika yang kaget ada yang menceburkan diri, langsung naik ke permukaan, tapi tidak ada orang. Detik berikutnya, ia melihat pamannya keluar untuk mengambil napas.
"Om?" panggil Mikaela heran, mengapa pamannya itu mandi tengah malam.
"Om ngapain?" Mika kembali bertanya dengan wajah penasaran.
Ferdinand yang matanya merah karena habis menyelam lama, pria itu pun berenang menghampiri Mika. Ia peluk Mika erat, membuat gadis tersebut mendorongnya.
"Mika gak bisa napas, Om!" protes Mikaela.
Ferdinand kemudian menarik Mika ke tepi, keduanya akhirnya duduk di pinggir kolam.
"Om kenapa panik gitu? Apa gara-gara Mika?" tanya Mika berkali-kali. Sedangkan Ferdinand masih menata hati. Hampir saja ia merasakan ketakutan. Takut jika Mika ikut menyusul Alexander dan Dinara, kedua orang tua si gadis.
"Mika ... apapun itu, jika semua terasa berat. Om harap kamu tidak akan mengakhiri hidup."
Mika kemudian geleng-geleng kepala, meskipun sempat berpikir ke arah sana sih.
"Mika hanya kau renang, karena gak bisa tidur," kata Mikaela kemudian.
Ferdinand mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu kemudian berdiri.
"Baguslah! Jangan pernah berpikir akan hal itu."
Mika langsung memotong ucapan Ferdinand.
"Tergantung! Kalau Om jahat sama Mika, mungkin ...!"
"Mika!' sela Ferdinand marah.
Mika pun beranjak, ia ikut berdiri persis di depan sang paman. Hingga tanpa sengaja, pria itu bisa melihat lekuk dan gambar dibalik tubuh itu dengan jelas.
"Siallll!" gumam Ferdinand kemudian berbalik. Ia bergegas pergi meninggalkan Mikaela setelah melihat pemandangan yang membuatnya pusing.
"OM!" teriak Mikaela kemudian menyusul langkah sang paman.
"Pergi ke kamarmu!" ujar Ferdinand tanpa mau menatap Mikaela.
"Nggak mau!"
Mika malah ikut berjalan ke kamar Ferdinand.
"Anak ini, pergi ke kamarmu sendiri."
"Gak mau, Mika gak mau! Malam ini Mika mau tidur di sini! Mau tidur sama Om!"
JLEB
Kepala Ferdinand semakin nyut-nyutan, apalagi matanya tidak sengaja lagi menatap sesuatu yang menyembul dan terlihat ramun tersebut. Pria itu harus mengumpat dan langsung pergi ke kamar mandi.
"Om!"
Tok tok tok
Mika berteriak kencang memanggil Ferdinand yang mengunci diri di kamar mandi. Padahal pria itu susah payah menahan diri, tapi Mika terus datang mendekat seolah menggoda. Kini ia pun nyalakan shower, membasahi kepalanya yang terasa panas.
Malang bagi Ferdinand, tubuh Mika yang ia lihat barusan membuatku terbayang-bayang. Hingga ia menutup mata pun, bayangan Mika lewat dengan jelas di pelupuk mata.
Frustasi sendiri, akhirnya ia memilih melepaskan apa yang tertahan. Pria itu memilih melakukan arisan dari pada harus menyentuh Mika yang masih SMA tersebut.
Ditambah suara Mikaela yang begitu berisik di depan pintu, rasanya ingin ia menarik gadis itu. Tapi akal sehatnya masih jalan, tidak mau berbuat macam-macam, Ferdinand pun akhirnya bersolo karir.
Tok tok tok
"Om ngapain di dalam?" teriak Mika.
Sembari ditemani suara Mika, Ferdinand melakukan sesuatu yang mubazir, yaitu membuang inti sari kehidupan, membuangnya dan membiarkan hanyut terbawa air yang mengalir deras. Hanya beberapa kali gerakan, sumber kehidupan itu langsung keluar. Mungkin sudah lama ditahan-tahan, akhirnya baru dimainkan sebentar sudah keluar.
KLEK
"Om."
Ferdinand keluar dengan wajah lemas.
BERSAMBUNG
Sabar Uncle, ujianmu baru dimulai. Hihihi