
My Hot Uncle bagian 48
Oleh Sept
Mata Ferdinand sudah pedih, rasa kantuk sudah menggelayut berat. Tapi ia masih terjaga, baby Key masih rewel. Minta gendong terus sampai tengah malam, Ferdinand harus gendong sambil goyang-goyang. Sementara itu, Mika baru saja tidur. Habis memberi ASI eksklusif, Ferdinand meminta istrinya itu untuk tidur.
Pukul 3 dini hari, akhirnya Key sudah nyenyak. Ferdinand pun meletakkan bayi kecilnya itu ke dalam box. Dan ia beranjak naik kasur. Rasanya matanya sudah sangat berat.
Baru juga terpejam, eh ... baby Key kembali menangis. Akhirnya, Ferdinand begadang sampai pagi. Ia setengah tidur sambil duduk dan Key dalam pangkuannya.
***
Pagi hari, Mika bangun dengan segar. Sedangkan suaminya, kantung matanya jelas sekali terlihat.
"Sayang ... semalam gak tidur? Kok mukanya gitu?"
Ferdinand tersenyum hambar, kemudian naik ke atas ranjang. Merentangkan tangannya hingga mengenai tubuh Mika.
"Nanti kalau Billi datang, bilang aku capek. Jangan ganggu aku dulu. Aku mau tidur sebentar dulu."
"Lah?"
Oek oek oek ...
Anak mereka menangis.
"Sayang, Key nangis. Aku mau ke kamar mandi."
Mikaela langsung ke kamar mandi, sedangkan Ferdinand, ia menghela napas panjang kemudian bangu kembali. Ia bawa baby Key ke ranjang mereka. Kemudian berbaring dan mengusap baby Key agar tenang.
"Sayang ... Papa tidur dulu ya," bisik Ferdinand yang tidak tahan dengan rasa kantuk yang maha berat.
Sesaat kemudian, Mika keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Ferdinand tidur, sedangkan bayi mereka terbangun, tapi pintar tidak menangis.
"Sayang, kok malah tidur?" protes Mikaela kemudian meraih buah hatinya.
"Mikaaa ... izinkan aku tidur sebentar saja," ucap Ferdinand dengan mata terpejam.
"Sama Mama yaaa ... papa molor terus!"
Ferdinand mencebik, matanya memang terpejam, tapi telinganya masih bisa mendengar dengan jelas.
"Sayang ... kapan babysitter nya tiba?" tanya Ferdinand kemudian sembari pindah posisi. Ia meraih guling, lalu memeluknya. Masih ingin bicara lama, tapi matanya terasa lengket sekali. Alhasil, ia bicara masih sambil merem.
"Harusnya hari ini, kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawab Ferdinand. Sesaat kemudian terdengar suara dengkuran halus dari suami Mikaela tersebut. Karena begadang, Ferdinand jadi kurang tidur.
***
Saat Ferdinand sudah terlelap, Mika dibantu bibi memandikan baby Key. Ia berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan cara bibi.
"Babysitter datangnya jam berapa, Non?"
"Nah ... sudah. Sudah ganteng ini."
Bibi kemudian memberikan baby Key pada Mikaela.
"Ih ... wangi bener." Mika mengecupp pipi bayinya dengan gemas.
"Awas kena hidungnya, Non. Nanti pesek."
Mika terkekeh, "Idih, Bibi ada-ada saja. Mama papanya mancung kok anaknya pesek, anak siapa Bik?" canda Mikaela.
Bibi ikut tersenyum, ikut bahagia melihat moment Mika menggendong bayinya. Perasaan baru kemarin ia selalu menggedor kamar Mika untuk membangunkan setiap pagi, entak untuk sekolah atau les. Sekarang sudah punya bayi, sudah menikah, pasti nyonya dan tuan besar ikut bahagia.
Ting tung
"Nah, itu pasti sudah datang, Bik."
Benar saja, yang datang adalah seorang babysitter. Masih muda, usianya paling 22 tahunan. Tapi katanya sudah pengalaman setahun lebih memegang bayi. Bayi artis pula. Kalau dilihat-lihat usianya tidak jauh dari Mika. Hanya saja beda nasib.
"Mbk Gina ya? Kenalkan, saya Mika. Dan ini bayi saya."
"Salam kenal Mbk."
Mika kemudian menjabat tangan suster Gina yang terulur. Selesai kenalan, bibi mengantar Gina ke kamar khusus untuk para assistant di sana.
"Semoga betah ya," kata bibi pada babysitter yang didapat dari agen khusus tersebut.
Setelah meletakkan tasnya, Gina kemudian memulai tugasnya. Ia kemudian mulai mengurus baby Key, putra Mika dan Ferdinand.
***
Selama baby Key bersama Gina, Mika menghampiri suaminya. Ia membangunkan Ferdinand karena sudah siang.
"Sayang, bangun!"
Ngantuk berat, Ferdinand bergeming. Ia tidur sampai sore menjelang. Bangun-bangun bingung rumah sangat sepi. Ia pun ke keluar kamar, mencari para penghuni rumah.
Ferdinand yang masih belum 100 persen, ia berjalan sambil mengusap wajahnya karena masih menguap saja. Begadang lelahnya tidak bisa terbayar meskipun sudah ditukar tidur sampai sore.
Ia kemudian ke dapur, saat melihat sosok yang sedang berdiri di sana. Dia langsung minta minum.
"Sayang! Ambilin gelasnya di sana. Sama apa saja. Bangun tidur jadi lapar."
Ferdinand memijit pelipisnya, pusing juga lama-lama karena tidur sampai sore.
Sebuah tangan dari belakang muncul dan memberikan segelas minuman dingin. Dasar Ferdinand yang sudah bucin dan iseng, ia yang masih ngantuk, langsung menarik lengan sosok tersebut. Langsung ia tarik sehingga duduk dalam pangkuannya.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020