
My Hot Uncle bagian 20
Oleh Sept
Ferdinand sebenarnya sudah lelah, karena ia pulang telat. Ia benar-benar tidak berniat menyentuh Mika, meskipun ada sedikit nalurinya yang selalu tergugah saat berdekatan dengan gadis yang beranjak dewasa tersebut.
17 tahun, menjadi usia yang sangat ranum-ranumnya. Ibarat buah, Mika sudah bisa dipetik. Namun, Ferdinand tidak sebejatt itu. Tidak mungkin ia menyentuh Mikaela yang bahkan baru memiliki KTP.
Dengan kuat Ferdinand malam ini menepis rasa tertariknya pada Mika, tidak ingin goyah. Saat tubuh mereka seperti kue lapis, menempel tanpa cela, Ferdinand pun menarik diri. Ia bergegas bangun, tapi tangan Mikaela malah memegang tangannya. Ferdinand menggeleng, seakan menjadi tanda bagi gadis tersebut untuk segera melepasnya, sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada gadis tersebut.
"Om," panggil Mikaela dengan tatapan yang membuat Ferdinand tidak fokus.
Bibirnya yang ranum, piyama pendek yang dikenakan oleh Mikaela, bahkan Ferdinand bisa melihat jelas baju dalam Mikaela, karena piyama yang tipis dan sedikit transparan. Aneh, Mika ini mau belajar atau sengaja menggoda? Pikiran Ferdinand berkecamuk. Andai tidak kuat Iman, sudah ia terkam mangsa empuk yang kini menatapnya seperti kucing kecil yang mengemaskan.
"Om mandi dulu!" ujarnya tegas, Ferdinand mau mendinginkan kepalanya dulu pakai air. Dekat dengan Mika hanya membuatnya gerah. Semakin lama, tubuh Mika memang berubah. Sudah tidak seperti dulu, di mana ia menganggap Mika seperti anak kecil.
Sementara itu, Mika memperhatikan pamannya, matanya tertuju pada jakun sang paman yang mulai naik turun.
'Sepertinya ini berhasil, reaksi om sama seperti artikel yang aku baca di internett, aku rasa ... Om Ferdinand terpengaruh,' batin Mika yang ternyata masih sama, ia bersikap tenang, tidak melawan, itu semua hanya tipuan. Mika tetaplah Mika, ia selalu punya cara untuk mendapatkan perhatian Ferdinand.
KLEK
Ferdinand pergi ke kamarnya, pria itu mandi karena merasa gerah. Dan dasar Mika iseng, beberapa saat kemudian ia malah mengirim sesuatu ke ponsel pamannya.
Ferdinand yang masih memakai bathrobe, sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil, ia sepintas melihat ponsel miliknya yang menyala. Ada pesan gambar dari Mikaela. Matanya melotot, ia menahan napas saat Mika mengirim sesuatu yang tidak lazim tersebut. Buru-buru ia telpon keponakannya yang super nakall itu.
"Ya," ucap Mikaela saat mengangkat telpon dari pamannya. Mereka satu atap, tapi beda kamar, malah memilih telpon dari pada bicara secara langsung.
"Fokus ujian masuk universitas! Jangan macan-macam!"
Mikaela tersenyum jahil, "Maaf Om, salah kirim!"
"Ish!"
"Om sudah makan? Mika tadi ketiduran, belum makan."
"Hemm."
Ferdinand yang niatnya menghindar, akhirnya mengalah. Mika harus sehat, harus banyak makan, ia pun memakai baju kemudian menyusul ke meja makan, meskipun sudah sedikit larut.
Tap tap tap
Ferdinand melihat Mikaela begitu semangat menata makanan.
"Bibi mana?"
"Sudah tidur. Mika bisa kok, ini Mika sudah panasin."
Dahi Ferdinand langsung mengkerut, sejak kapan Mika ke dapur. Bisa menghangatkan makanan juga? Sejak sembuh dari kecelakaan, Mika memang aneh. Apa Mika mengalami gegar otak ringan? Pria itu menatap Mikaela dengan aneh.
"Ayo, Om ... makan."
Mika menyodorkan sepiring lauk ayam goreng dan sepiring salmon.
"Om bisa sendiri. Kamu cepat makan."
"Iya."
"Oh ya, kalau keluar kamar, jangan pakai baju tidur seperti itu. Di sini tidak hanya ada Om!"
"Gerah, Om. Ini nyaman dipakai."
"Itu sangat bahaya Mika."
Mika tersenyum jahat dalam hati.
'Bahayaaa? Mana ada baju bahaya. Terus lah mengelak om. Kita lihat ... om akan tahan sampai mana. Kalau melihat Sandra, jelas aku lebih ... lebih muda, lebih ... lebih apa ya?' Gadis itu malah sibuk bicara pada dirinya sendiri.
"Katanya lapar, cepat habiskan makanmu. Terus tidur."
"Hemm, iya Om."
Mereka pun makan, hanya berdua karena para Art sudah tidur. Selesai makan, Mika tidak langsung meninggalkan meja seperti biasanya. Ia membawa semuanya ke dapur, sampai Ferdinand terheran.
"Sejak kapan kamu jadi serajin ini?" celetuk Ferdinand, kemudian membantu Mika membawa piring-piring ke dapur. Keduanya sudah mirip pasangan baru, yang masih bahu membahu dalam melakukan pekerjaan rumah.
"Kenapa Om jadi kepo? Mika memang suka melakukan hal seperti ini, kalau Om kerja. Makanya, Om jangan lembur terus, sampai gak tahu kebiasaan Mika."
"Ish, jangan mengada-ada. Makan saja bibi yang anter ke kamarmu."
Mika langsung menoleh, menatap pamannya.
"Om ngintip CCTV di rumah ya?" protes Mikaela.
Ferdinand tersenyum, kemudian mengusap lembut rambut Mika, membuat Mika salah tingkah.
"Om hanya pengen tahu, kamu ngapain di rumah. Dan sepertinya akhir-akhir ini kamu rajin sekali belajar. Om harap ujian masuk universitas lancar."
"Hem ... ya. Terus untuk yang itu kapan, Om?"
"Itu? Itu apa?"
Bibir Mikaela mengerucut. Gak mau mengatakan, tapi sepertinya Ferdinand egois sekali. Entah egois atau gengsi, atau mungkin malu, Mika tidak tahu.
"Yang waktu itu."
"Tentang apa, Mika?"
"Tentang ... tentang menikah!" jawab Mikaela cepat.
Ferdinand tersenyum.
"Tunggu usiamu 20 tahu."
Mika langsung melotot, seolah protes.
"Tiga tahun lagi?"
Ferdinand mengangguk.
'Lama sekali?' gerutu Mikaela dalam hati. 'Sepertinya aku kurang gigih menggoda om Ferdinand,' batin Mika kemudian mencari jalan lain.
"Kenapa harus 3 tahun lagi?" tanya Mikaela mencari alasannya.
"Kamu masih SMA."
"Kenapa tidak setelah aku lulus?"
Ferdinand menggeleng.
"Kamu masih terlalu kecil."
'Dia bilang aku terlalu kecil, oke om ... aku kerjain biar tahu rasa.'
"Apanya yang terlalu kecil, Om?" tanya Mikaela yang kembali bar-barr. Mika mendekat, dengan tatapan menggoda, sembari membasahi bibirnya.
"Jangan aneh-aneh, balik ke kamarmu!" usir Ferdinand, takut gak kuat melihat Mika lama-lama. Pria itu pun ke kamarnya. Saat akan menutup pintu, Mika malah berdiri dan mengganjal pintu dengan kakinya.
"Apa yang kamu lakukan," Ferdinand pun jongkok, memeriksa kaki Mikaela. Takutnya terluka karena kena pintu, padahal sih tidak apa-apa.
"Om ini!! sakit Tau!" Mika merajuk, pura-pura.
"Kenapa kamu lakuin itu, Om kan gak lihat tadi."
"Makanya, Om jangan jalan sambil melamun. Sampai gak sadar ada Mika di belakang."
"Lah, ngapain juga Mika jalan di belakang Om?"
Keduanya malah berdebat.
"Ish ... Om. Gak mau ngalah sama Mika."
"Hati-hati dong, Mika." Ferdinand berdiri tegap, kemudian duduk di sofa.
"Om mau istirahat, kamu juga. Kembali ke kamarmu."
"Boleh tidur sini? Om sibuk seharian ini, Mika janji, gak ngapa-ngapain. Cuma tidur aja."
Ferdinand menarik napas panjang. Kemudian merangkul pundak Mikaela.
"Biasanya juga gak papa, kan?"
Ferdinand menelan ludah.
"Sekarang apa-apa, ini kamar pria dewasa. Dan Mika tidak boleh masuk sembarangan."
Bukkk
Mika malah melempar tubuhnya di tengah ranjang. Kemudian merentangkan kedua tangannya.
"Jangan khawatir, Om. Mika percaya ... Om Ferdinand tidak akan nyentuh Mika. Dinding pertahanan Om sangat kuat, jadi tidak masalah aku tidur di sini," ucap Mikaela yakin.
Pria itu mencebik, bangkit kemudian berkacak pinggang.
"Ya sudah! Kamu tidur di sini. Om ke kamar tamu," kata Ferdinand.
"Loh! OM!"
Mika bergegas turun kemudian BUKKKK. Gadis itu memeluk pamannya dari belakang.
"Jangan membuat Om khilaf," desis Ferdinand.
"Aku kira, Om tidak akan sanggup melakukan itu. Bertahun-tahun kita tinggal bersama, Om Ferdinand bahkan tidak pernah goyah."
"Mika ... jangan menyiksa Om begini, rasanya tidak enak kalau harus berakhir di kamar mandi!" kata Ferdinand terus terang.
Mika gadis yang cerdas, ia paham betul apa maksud dari pamannya itu. Itu pasti seperti apa yang selama ini ia lihat di internettt, pakai sabun atau pakai hand body.
"Aku pikir, dalam kepala Om Ferdinand hanya isinya tentang pekerjaan," bisik Mika, masih memeluk pamannya dari belakang.
Ferdinand mencebik, "Kamu pasti akan lari jika tahu apa saja yang ada dalam kepala Om," ungkap Ferdinand sedikit manakuti agar Mikaela merasa takut sedikit saja bila mereka berdekatan seperti saat ini.
Diancam begitu, mana mungkin Mikaela takut. Gadis tersebut malah semakin tertantang. Jiwa muda yang berkibar, mengelora, penuh akan rasa ingin tahu, membuat adrenaline Mikaela semakin terpacu.
"Memang apa yang Om pikirkan sehingga Mika harus lari?"
"Om bisa memakanmu!" jawab Ferdinand sedikit bercanda, kemudian memutar tubuh.
"Jadi, kembali ke kamarmu, sekarang!" tambah Ferdinand kemudian mendorong Mikaela keluar dari sana.
"Ish! Mika mau tidur di kamar ini." Mika berbalik cepat kemudian merebahkan tubuhnya lagi di atas ranjang.
"Kenapa lama sekali ... kenapa harus menunggu tiga tahun?" gumam Mikaela menatap langit-langit kamar pamannya.
'Nakall sekali anak ini.'
Ferdinand kemudian memilih keluar kamar, sedangkan Mika, gadis itu lebih suka tinggal di kamar sang paman.
***
Pukul 5 pagi, Ferdinand yang terbangun di kamar tamu, menatap jam dinding. Masih jam 5 subuh, tapi ia sudah terbangun.
"Apa dia masih ada di kamarku?" gumamnya lalu pindah kamar.
Ferdinand memutar knop pintu, tidak dikunci.
"Mungkin dia sudah pindah semalam," ucap Ferdinand bicara pada diri sendiri.
KLEK
Ia tutup kembali pintu kamarnya, kemudian rebahan di ranjang yang kosong.
Tap tap tap
Ferdinand langsung bangun, ia bergegas duduk saat melihat Mika keluar dari arah kamar mandi.
Gadis itu berjalan setengah mengantuk, mungkin habis buang air, kemudian dengan santainya rebahan di ranjang. Ferdinand yang kaget, sempat menarik selimut. Ia bersembunyi di balik kain yang tebal itu.
Mika yang masih belum sadar sepenuhnya, menaikkan kakinya di atas selimut yang ia kira ada guling di bawahnya. Ia peluk dengan erat.
'Wanginya mirip aroma perfume om,' batin Mikaela, meskipun ngantuk, hidungnya masih bisa menci um aroma dengan benar.
Ferdinand lama-lama gerah, karena diapit kaki gadis tersebut. Perlahan ia mau kabur, pelan-pelan ia singkirkan kaki Mikaela.
Ada yang bergerak-gerak, atau merasa aneh dengan guling yang ia peluk, Mika langsung tersadar.
"Penyusup!"
Brukkkk ....
Mika menendang benda di balik selimut dengan sangat kuat. Membuat Ferdinand terjengkal jatuh ke bawah.
"Mikaa," desis Ferdinand.
Mikaela kaget, langsung turun menyusul Ferdinand.
"OM!"
Gadis itu membantu Ferdinand bangun, kemudian duduk di tepi ranjang.
"Ngapain Om sembunyi seperti maling? Om mau ngintip Mika?" tanya Mika penuh percaya diri. Ferdinand langsung menatapnya sinis.
"Sudah, sana kembali ke tempatmu. Om mau tidur."
Ferdinand kemudian berbaring, kakinya mengambil selimut yang ada di bawahnya. Ia tarik dengan jari kakinya kemudian menutupi seluruh tubuhnya.
"Jangan lupa tutup pintunya juga!" ucap Ferdinand kemudian pura-pura tidur.
"Ish!"
Mika mendesis, kemudian tersenyum jahil. Dengan gerakan pelan, ia merambat masuk selimut.
Srekkkk
Kaget, Ferdinand membuka kain yang menutupi tubuhnya. Ia menghela napas panjang, kemudian menatap Mika tajam.
"Turun sekarang."
Mika yang bandell, tidak mau turun. Malah langsung memeluk Ferdinand dengan sayang.
"Jangan marah-marah, nanti Om cepat tua."
"Sudah tahu Om tua, kenapa masih mau dekat-dekat Om?" cetus Ferdinand.
Mika melepaskan pelukannya, kemudian menjadikan lengan Ferdinand sembagi bantal. Keduanya berbaring di ranjang yang sama.
"Mika ..."
"Hemm."
"Sana pindah ke kamarmu."
"Apa sih, Om. Ngusir terus dari tadi. Lama-lama Om cerewet juga!" Mika menaikkan sebelah kakinya di atas kaki Ferdinand. Hal itu membuat Ferdinand melirik wajah Mika, sampai tidak sengaja matanya justru melihat ke arah yang lain. Mana masih jam 5 subuh. Alamat Ferdinand dibuat resah gelisah.
Ferdinand berusaha bergeser, tapi Mika malah semakin merapat.
"Mika!"
"Iya," jawab Mikaela dengan full senyum sambil mendongak ke samping.
Ferdinand menahan napas, bangun tidur saja Mika masih terlihat cantik. Ia mengusap dahinya, terlihat mulai gelisah. Pria itu pun memilih memejamkan mata saja.
"Om ... Om ... Om tidur lagi?"
Mika membetulkan posisi, kemudian menatap wajah Ferdinand dari dekat.
'Tampan sekali suami masa depanku,' gumamnya kemudian langsung saja menempel bibir di pipi Ferdinand.
Blakkk
Ferdinand membuka mata, keduanya saling menatap, suasana menjadi sangat hening, sampai akhirnya Ferdinand menangkup wajah Mikaela. Dengan lembut, ia tatap dalam-dalam sembari mendekatkan wajahnya.
"Lain kali, jangan menggoda Om," ucapnya sebelum langsung menyesap bibir ranum Mikaela, lalu bersambung.
Fb Sept September
IG Sept_September2020