My Hot Uncle

My Hot Uncle
Tidak Sengaja



My Hot Uncle bagian 13


Oleh Sept


"Om gak enak badan?" Mikaela maju kemudian mengulurkan tangan, baru di udara, belum menyentuh wajah sang paman, tapi langsung ditepis halus oleh Ferdinand.


"Om gak apa-apa, pusing sedikit. Sekarang kamu kembali ke kamarmu. Om mau istirahat."


Mikaela menggeleng, "Mika mau tidur di sini!"


"Mika!"


Mikaela tidak peduli, ia memang suka ngelunjak. Sikapnya menjadi pembangkang sekarang. Itu semua hanya untuk menarik perhatian Ferdinand sang paman, yang selalu sibuk, sibuk dan sibuk sepanjang waktu.


Ferdinand yang melihat sulitnya Mika diatur, ia pilih mengalah. Pria itu berjalan ke arah lemari, mengambil piyama panjang kemudian meninggalkan kamarnya sendiri. Membiarkan kamarnya dikuasai Mikaela.


'Lah, kok om malah pergi! Huuuftt!'


Mika mendengus kesal, kemudian membuka lemari pamannya. Ia ambil kemeja putih dengan asal, Mika mandi dan ganti di kamar Ferdinand.


***


Pagi harinya, Mikaela mengerjap. Matanya menatap langit-langit kamar. Ia tersenyum karena bangun di kamar pamannya.


'Apa om Ferdinand gak ke kamar semalama? Padahal pintunya gak aku kunci!' batin Mikaela kemudian meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Tidak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. Mikaela pun memintanya masuk.


"Masuk!"


Bibi berjalan sambil membawa minuman hangat.


"Ini, Non. Tuan besar tadi pesan, Nona harus minum vitamin dan jaga pola makan."


Dahi Mikaela langsung mengkerut. "Om pergi lagi?"


Bibi langsung mengangguk.


"Kali ini ke mana?"


"Kurang tahu, Non."


Mikaela langsung mencari ponselnya, gadis itu bergegas menekan nomor 1, yang merupakan panggilan darurat dan itu adalah nomor Ferdinand.


"Om di mana?" tanya Mika garang.


"Om di Bandara. Lusa Om pulang. Kamu jangan coba-coba kabur lagi."


Bibir Mikaela langsung mengerucut kemudian mematikan ponselnya.


Bukkkk


Ia melempar tubuhnya ke ranjang, ia marah pada Ferdinand, pada semua orang yang ada di sekitarnya.


Bibi yang melihat kemarahan nona mudanya, merasa tidak enak. Ingin ia hibur tapi takut kena semprot. Dan benar saja, bibi akhirnya kena getahnya.


"Suruh nanti guru private Mika pulang. Hari ini Mika libur!"


"Tapi, Non."


Mika menatap sebal.


"Baik, Non."


Mika yang nakal, kembali melakukan apapun sesuka hatinya. Ia menyalakan music sangat keras. Makan snacks sembarangan, membuat kamar Ferdinand seperti kapal keruk.


"Astaga, Non."


Bibi terbelalak, ia mau mengepel kamar Ferdinand tapi malah banyak barang yang berserakan.


"Tuan besar bisa marah, Non."


Bibi merapikan satu persatu figure mainan kecil milik Ferdinand yang sengaja diacak-acak Mika. Ada beberapa yang kaki dan tangannya terlepas.


"Udah, Bi. Tenang saja. Kalau marah, biar Mika yang hadepin!" ucap Mika sambil makan kripik potatoesss.


"Tuan bisa marah sama Bibi," ucap bibi sembari merapikan kekacauan yang dibuat Mikaela.


"Cerewet banget sih, Bik. Dah kaya om," cibir Mikaela kemudian keluar. Ia pun kembali ke kamarnya.


"Bosan bangettttt! Terus gue harus apaaaa? Ya ampun kaya di penjara!" gerutu Mikaela.


Bosan nonton TV, bosan nonton Film di internet, bosa nyetel music, akhirnya ia rebahan sambil nyemil kacang mete.


Jam terus berputar, waktu terasa sangat lamban. Mika mulai jenuh katena tidak bisa main ke mall, main bersama temannya ke klub, ia seperti burung yang dikurung dalam sangkar emas.


***


Sudah dua hari berlalu, Ferdinand belum pulang. Tadi sempat telpon Mika, katanya urusannya belum clear. Mungkin mundur sehari, dan itu membuat Mikaela ngambek.


Mika yang tahun depan akan masuk kuliah semester pertama itu, mendadak menjadi uring-uringan, marah-marah pada art yang ada di rumahnya gara-gara Ferdinand gak pulang-pulang.


Pukul 10 malam. Mikaela tidur sambil memeluk pigura kecil. Dalam pigura itu terdapat poto Mikaela kecil, yang digandeng oleh kedua orang tuanya. Mika yang manis tersenyum cerah sambil memegangi tangan mami dan papinya.


KLEK


Sosok pria masuk ke dalam kamar, kemudian menatap Mikaela lekat-lekat. Dia adalah Ferdinand, baru pulang dari Bandara. Turun dari mobil, langsung mencari Mikaela. Ferdinand lantas mengambil benda yang dipeluk keponakannya itu. Dan matanya berubah sendu, ketika membalik pigura tersebut.


"Apa kamu sangat rindu mereka?" tanya Ferdinand lirih.


Pria itu lalu meletakkan pigura yang berisi foto kecil Mikaela bersama orang tuanya ke atas nakas. Kemudian membetulkan selimut Mikaela. Kalau tidur begini, terlihat manis. Karena Mika sudah terlelap, Ferdinand pun tidak membangunkan keponakannya itu.


***


Pagi hari, matahari cerah menyinari kamar Mikaela yang terbuka. Dan Mika mengusap matanya yang silau.


"Bibi, jangan dibuka!" ucap Mikaela serah karena baru bagun dari tidurnya. Ia merasa terganggu karena gorden kamarnya dibuka lebar-lebar. Mika menarik selimut lagi, tapi sebuah suara lembut membuatnya menyibak selimutnya itu.


"Selamat pagi."


"Kamu siapa?"


Wanita berusia 30 tahun itu melempar senyum pada Mikaela.


"Saya Sandra."


"Lalu kenapa kamu di kamar saya?"


"Om yang suruh!" sela Ferdinand.


"Om ... Om sudah pulang?"


Ferdinand mengangguk. "Mulai sekarang, kamu harus menurut apa kata Sandra ketika Om tidak ada di rumah."


'Astaga!' Mikaela langsung bergidik.


"Baik, Tuan." Sandra mengangguk sopan, tapi setelah Ferdinand pergi, wanita itu berubah menjadi tegas.


Sandra adalah lulusan akademi militer, rupanya Ferdinand mencari sosok yang pas untuk mendisiplinkan keponakannya itu. Ferdinand kenal baik dengan orang tua Sandra, oleh karena itu, ia merasa yakin, Sandra bisa merubah sikap Mikaela yang terlanjur bar-barr.


"Setengah jam lagi Nona harus bersiap, ini jadwal pertama kita."


Mika langsung mendongak, menatap galak. Tapi ia tidak menyangka, bahwa Sandra menatap tajam balik.


'Astaga!'


"Saya akan ke sini lagi, dan Nona harus siap. Jika tidak ..."


"Jika tidak terus kenapa?" omel Mikaela.


Sandra yang sudah berpengalaman menangani anak-anak nakall, ia langsung berdiri tegap, sikap sempurna. Lalu mengeluarkan tongkat platinum kecil dari punggungnya.


"Nanti Nona akan lihat sendiri akibatnya," jawab Sandra kemudian berbalik dan pergi. Tidak lupa, ia menggetuk beberapa kali tongkat miliknya ke pilar yang ada di dekatnya.


"30 menit, tidak lebih!"


KLEK


"Astaga ... Mahluk apa itu? Matanya melebihi guru killer!" gerutu Mikaela kemudian beranjak.


"Eh? Ngapain aku nurut dia?"


Mika yang bandel kemudian memilih berbaring lagi.


Setengah jam kemudian.


KLEK


Settt ...


Sandra membuka paksa selimut Mikaela.


"Nona ... Nona sudah mengabaikan peringatan dari saya. Sepertinya Nona lebih suka pemaksaan," ucap Sandra lirih tapi nadanya mengerikan.


Mika yang malah mendengkur, sama sekali tidak terpengaruh. Terpaksa Sandra pun mengeluarkan aksinya, ia memutar music sangat kencang, hingga kaca di kamar itu bergetar.


"OMG!" teriak Mikaela kaget.


'Tidak sopan banget pembantu ini!' batin Mikaela. Ia menganggap Sandra seperti art yang lain. Dasar, Mika badungg sekali.


"Kamu saya pecat!" ujar Mikaela sambil menunjuk Sandra.


Sandra malah tersenyum, kemudian melemaskan otot lehernya.


"Eh! Lepasin!!! Ehh ... gak sopan!" Mikaela menjerit, ia meronta saat Sandra memaksa masuk kamar mandi.


KLEK


"15 menit. Tidak lebih!" kata Sandra dengan penuh ketegasan.


"Apa-apaan ini? Om Ferdinand dapat orang gilaa ini dari mana? Berani sekali dia?" Mika ngomel-ngomel, tapi tetep mandi.


15 menit kemudian, Mika sudah rapi. Gadis itu dengan terpaksa duduk manis karena Sandra berani melotot padanya lebih galak.


'Wanita iblishhh!' umpat Mikaela sebal.


"Bik, Om ke mana?"


"Sudah berangkat, Non." Bibi kemudian meninggalkan Mika dan Sandra.


'Nenek lampir ini pasti akan senang menyiksaku.' Mika membantin sembari melirik sedikit ke arah Sandra.


"Setelah makan, Nona harus mengerjakan beberapa tugas yang nanti akan saya berikan," ucap Sandra.


Mika mau protes, tapi sepertinya Sandra tipe manusia yang tidak gampang ditindas. Alhasil Mikaela harus menahan emosi setiap kali Sandra memaksa ia melakukan ini dan itu.


***


"Huuuftt!"


Mika baru lepas dari jeratan Sandra ketika malam. Dan ketika mendengar deru mobil di halaman, Mika bergegas turun. Mungkin ia akan mengadukan Sandra seharian ini. Kebetulan, orang itu sudah pulang. Ya, Sandra tidak menginap di sana seperti assisten yang lain. Mika belum tahu saja, Sandra kini sedang berkemas dan besok akan tinggal di sana.


"Om!" Mika mengelayut maja pada lengan pamannya.


Ferdinand yang seharian kerja, hanya mengusap kepala keponakannya itu, kemudian mengajak masuk.


"Mika akan jadi penurut, janji ... tapi tolong pecat wanita itu."


Ferdinand melonggarkan dasi, kemudian menyentuh pundak Mika.


"Om tidak bisa mengawasimu 24 jam, sepertinya Sandra akan banyak membantumu."


"Membantu apa? Wanita itu lebih garang dari pada singa!" protes Mikaela spontan, membuat Ferdinand yang tadi merasa lelah karena pulang kerja, malah mengulas senyum.


"Benarkah? Memangnya apa yang Sandra lakukan padamu?"


"Dia kasar!"


Dahi Ferdinand mengkerut.


"Apa dia melukaimu?"


Mika tidak bisa menjawab. Sandra memang tegas, tapi wanita itu tidak melukainya sama sekali.


"Lagian kenapa Om pekerjaan diaaaa?"


"Biar kamu terkendali," jawab Ferdinand kemudian melepaskan lengan Mika.


"Om mandi dulu."


Bibir Mikaela mengerucut sebal.


***


Beberapa saat kemudian, Mika yang memang suka keluar masuk kamar Ferdinand, kali ini juga melakukan hal yang serupa. Sambil menunggu pamannya mandi, dia bermain HP di kamar Ferdinand.


Ferdinand yang tidak tahu ada Mikaela di kamarnya, berjalan santai hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Pria itu bersiul, bebannya sedikit berkurang. Mungkin karena Sandra, sepertinya ia tidak salah percaya pada orang. Seseorang yang ditakuti Mika tentunya. Baru sehari saja Mika sudah sedikit bisa diatur, melalui laporan Sandra seharian ini lewat telpon, meski harus dipaksa, setidaknya Mika mau mengerjakan banyak soal pelajaran, belajar bersama guru les, dan melakukan hal positive lainnya. Bukannya ke klab, mall, atau main tidak jelas.


'Idih, happy sekali om Ferdinand!' gerutu Mikaela yang mengamati Ferdinand dari belakang. Sementara yang dilihat, tidak menyadari.


"Astaga!" gumam Mikaela. Ia kaget ketika kain putih itu jatuh begitu saja. Mika langsung menutup mata dengan tangannya, tapi dengan penasaran ia malah mengintip sedikit.


Mika menelan ludah, wajahnya jadi menghangat karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020