My Hot Uncle

My Hot Uncle
Tanda-tanda



My Hot Uncle bagian 40


Oleh Sept


Amerika.


Di sebuah gedung tinggi, siang itu Ferdinand terlihat buru-buru.


"Tuan, Tuan yakin akan pulang sekarang? Bagaimana dengan pekerjaan kita? Kesempatan ini tidak datang dua kali."


Billi mencoba membuat Ferdinand untuk berpikir ulang agar tidak segera pulang. Sebab masih banyak perjanjian bisnis yang harus Ferdinand urus.


"Sepertinya Mika sakit."


"Tuan ... Nona Mika sudah dewasa. Di rumah pun ada bibi. Nanti akan saya suruh Fabiola untuk memeriksa dan mengantar ke rumah sakit," bujuk Billi.


Kaki tangan Ferdinand itu sampai menawarkan kekasihnya untuk memeriksa Mikaela, istri dari bosnya. Billi tahu, ini perjanjian penting. Dan kesempatan emas untuk memperluas bisnis Hartanto Group. Jadi sangat disayangkan kalau tiba-tiba Ferdinand pulang dengan tangan kosong saat peluang besar ada di depan mata.


Hufff


Ferdinand terduduk, mengusap wajahnya. Kemudian menelpon Mikaela dengan panggilan biasa.


Tut Tut Tut


Lama sekali tidak diangkat, baru panggilan ke lima terdengar suara Mikaela.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Hemm ... tadi ke kamar mandi."


"Kamu kenapa? Maaf, aku gak bisa pulang sekarang. Kamu tunggu, Ola akan ke sana."


"Ngapain pacar Billi ke sini?" sela Mikaela.


"Gak apa-apa, aku gak enak kamu di rumah sedang aku aku ada di sini."


"Mika gak apa-apa, cuma masuk angin. Ini mau minta kerok bibi."


"Maaf ya ... ini kerjaan masih banyak, aku belum bisa pulang," ucap Ferdinand sedikit menyesal kemudian menatap Billi yang menelpon seseorang. Mungkin Billi menghubungi kekasihnya.


"Ini bibi dah di kamar, mau kerokan dulu. Udah ya ... Mika mau istirahat juga. Sudah larut malam."


"Iya, mana bibi, aku mau bicara."


Mika kemudian berbaring, sebelumnya ia memberikan ponselnya pada ART yang selama ini menjaganya sejak kecil.


"Bik."


"Iya, Tuan."


"Tolong awasi Mika. Jaga pola makannya."


"Baik, Tuan."


"Satu lagi, pastikan dia tidak telat makan. Paksa makan sayur dan buah," titah Ferdinand cerewet.


Bibi menatap Mikaela, bagaimana mungkin dia memaksa nona mudanya itu. Karena akhir-akhir ini tidak selera makan. Malah hanya makan buah yang cenderung masam. Pasti asam lambungnya naik, pikir bibi.


"Baik, Tuan," kata bibi kemudian.


"Ya sudah. Titip Mika ya, Bik."


"Iya."


Akhirnya telpon pun terputus.


"Ngomong apa, Bik?" tanya Mikaela kepo.


"Itu ... disuruh maksa Non Mika makan."


Mika langsung terkekeh.


"Suruh makan sayur sama buah," jawab bibi lagi.


"Ya ampun, dah kaya anak kecil aja. Hehehe ... Suami Mika lucu ya, Bik?" tanya Mika sambil curhat sama bibi yang paling lama kerja di rumah itu.


"Bukan lucu, Non. Tapi perhatian sekali sama Non Mika, sejak Non kecil."


Senyum Mikaela langsung lenyap. Jika ingat masa kecilnya, ia hanya ingat tentang kesedihan dan rasa kehilangan.


"Bik ..."


"Ya, Non."


"Kalau mami sama papi masih hidup, mungkin Mika gak akan menikah sama om Ferdinand ya, Bik?"


Sambil memijit, bibi mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya. "Belum tentu, Non. Bisa iya, bisa tidak. Jodoh kan misteri, Non."


"Ish, Bibik. Maksud Mika, kalau mami masih hidup, jelas dia gak bakalan bolehin Mika nikah muda. Apalagi sama om Mika sendiri. Hehehe."


"Memangnya kenapa, Non? Tuan Ferdinand kan ganteng, perhatian lagi."


Mika terdiam, Ferdinand memang sosok sempurna. Siapa sih yang nolak pesona pria dewasa dan matang tersebut?


"Menurut Bibi, om Ferdinand nikahin Mika karena sayang atau kasihan? Semacam balas budi?"


Kini bibi langsung berhenti memijit.


"Kok pertanyaan Non Mika begitu? Bukannya tuan Ferdinand sayang sekali sama Non? Bibi saja melihatnya sekilas sudah bisa merasakan."


"Ish ... Bibi. Kan barangkali Bibi ngerasa, om cuma kasihan sama Mika."


"Non Mika kok bicara begitu? Apa tuan Ferdinand melakukan kesalahan?"


"Gak tahu lah, Bik. Mika cuma merasa gimana gitu ... ini aja Mika sakit, tapi dia gak pulang."


"Mungkin masih banyak pekerjaan, Non."


Mika menghela napas panjang, entah mengapa ia kok menjadi mellow sekali. Dan karena keenakan dipijat, ia pun akhirnya terlelap.


***


Pagi hari. Fabiola sudah datang, ia sengaja datang pagi-pagi karena diminta Billi untuk memeriksa Mikaela. Ola merupakan dokter, dan sebelum ia ke rumah sakit untuk bekerja, ia mampir dulu ke rumah Ferdinand.


Di dalam kamar, Mika masih tidur saat Ola datang.


"Biar saya bangunkan, Dok."


Bibi langsung menyentuh lengan Mika, tapi Mika belum bangun.


"Non ... Non Mika."


Mika menggeliat, mengerjap kemudian menatap bibi dan sosok wanita yang berdiri di dekat bibi.


"Selamat pagi."


Mika menggosok kedua matanya kemudian tiba-tiba merasa pusing. Ia memegang keningnya, matanya pun berkunang-kunang. Seperti vertigo saja.


Fabiola kemudian mendekati Mika.


"Mika, maaf sebelumnya. Apa kamu sudah telat datang bulan?" tanya Fabiola yang sepertinya curiga sesuatu.


'Gak mungkin, aku selalu minum obatnya kok. Pernah telat, tapi itu hanya sekali!' batin Mika dengan wajah gelisah.


Mika kemudian menatap perutnya. Bersambung.


Fb Sept September


IG Sept_September2020