
My Hot Uncle bagian 39
Oleh Sept
Setelah melakukan permainan yang singkat pagi itu, mereka kini kembali beraktifitas seperti biasa. Selesai sarapan bersama, mereka pergi bareng. Ferdinand mengantar Mikaela sampai ke kampus seperti biasanya, dan berpesan kalau tidak ada yang penting, lebih baik langsung pulang.
"Nanti habis kuliah, langsung pulang ya. Aku usahankan pulang cepet."
"Iya."
"Dah, masuk. Sudah sepi, nanti telat," kata Ferdinand.
Bibir Mikaela langsung mengerucut. Dia hampir telat kan karena Ferdinand tadi pagi.
"Ya sudah, Mika masuk ya."
Pria itu kemudian mengangguk, lalu memperhatikan Mikaela yang berjalan menjauh.
***
Kehidupan rumah tangga Ferdinand dan Mikaela masih mulus-mulus saja, hingga suatu hari, Ferdinand harus ke luar negeri untuk melakukan perjanjian kerja.
LDR membuat Mikaela galau. Pas suaminya di rumah ia merasa capek, karena harus melayani kalau Ferdinand mau. Begitu Ferdinand baru pergi dua hari, ia malah merasa kesepian.
Baru juga dua malam tidur sendirian, tapi ia sudah gelisah. Tidak bisa memejamkan mata, insomnia kambuh hingga menghubungi Ferdinand lewat video.
"Belum tidur?" tanya Ferdinand yang melihat jam. Di sana sudah jam 10 pagi, itu artinya di Jakarta sekitar pukul 10 malam.
"Gak bisa tidur."
"Kenapa? Sakit?"
Mika menggeleng menghadap laptop yang ada di depannya. Dilihatnya wajah Ferdinand, entah mengapa ia kok jadi kangen. Baru dua hari, rasanya lama juga.
"Jadi pulang kapan?" tanya Mika kemudian pindah tempat. Ia membawa laptop ke atas ranjang sambil tengkurap dan mendongak ke laptop.
"Mungkin masih 5 hari lagi, masih ada urusan yang belum selesai."
"Kok lama?" Mika langsung memasang muka cemberut.
"Kenapa?"
Mika menggeleng.
"Ada apa?" desak Ferdinand.
"Nggak apa-apa, ya udah. Mika tutup ya," pamit Mika dengan muka masam. Mungkin ia BT, mendadak bad mood karena suaminya pulanglah masih lama.
"Mika udah ngantuk!" kata Mika, padahal aslinya sedang BT.
"Gak usah dimatikan, dah ... kamu tidur. Biarkan menyala."
Mika lantas meletakkan laptop di atas meja, tapi mengarah padanya. Kemudian menarik selimut bersiap tidur sambil dipantau dari jauh oleh suaminya.
Tidak lama kemudian, Ferdinand yang juga masih bergelut dengan berkas, memperhatikan Mika yang sepertinya sudah tertidur. Ia membiarkan laptop tetap menyala, melihat Mika yang tidur pulas.
Akan tetapi di sela-sela ia fokus pada pekerjaan, tidak sengaja ia melihat Mika yang terbangun. Meskipun di Jakarta sudah tengah malam, di sana baru jam 12 siang.
"Mika ... kamu kenapa? Mikaa!" panggil Ferdinand yang melihat Mika buru-buru turun dari ranjang sesaat setelah terbangun.
Ferdinand tidak sabar menunggu Mika kembali, hingga istrinya itu muncul kembali dan menyapanya dengan wajah kusut.
"Kok belum dimatikan? Sudah jam 12 malam di sini," kata Mika kemudian membuka laci, sepertinya mencari sesuatu.
"Cari apa, Sayang?"
Ferdinand kini fokus pada layar laptop yang tidak memperlihatkan Mika. Ia memanggil Mika berkali-kali, tapi istrinya malah tidak tampak.
"Sayang ... Mik ... Mikaa, jawab aku Mika!"
Sesaat kemudian, muncul Mika sambil membawa gelas. Ia meminum sesuatu, terlihat seperti obat.
"Minum apa kamu sayang? Sakit? Bangunin bibik, panggil dokter!" titah Ferdinand.
"Masuk angin mungkin, tadi seharian gak enak makan. Sepertinya kembung, asam lambung naik," kata Mika kemudian minum lagi.
Baru juga dua hari ditinggal, Mika sudah membuat Ferdinand was-was.
"Ayolah, makan yang banyak. Jangan pilih-pilih!" kata Ferdinand.
"Gak ada temennya kalau makan, gak enak."
"Ish. Tunggu ya ... Lima hari cuma sebentar."
Mika mengangguk, tapi perutnya kembali terasa tidak nyaman. Rasanya mual, Mika pikir asam lambungnya mungkin sudah parah.
HUEKKK ...
"Mika ... MIK ... Mika!" Ferdinand panik karena Mika kembali menghilang di dalam layar laptop miliknya. Bersambung
FB Sept September
IG Sept_September2020