My Hot Uncle

My Hot Uncle
Di Kamar Saja



My Hot Uncle bagian 44


Oleh Sept


Di dalam bathtub yang penuh busa, Mika sedang berendam. Tidak sendiri, ia sedang bersama suaminya. Sambil bersandar, Mikaela mulai bercerita tentang hari-harinya di kampus.


Seperti pendengar sejati, Ferdinand mendengarkan apa yang Mika ceritakan. Tidak lupa tangannya sambil mengusap lembut perut Mika yang sudah buncit.


"Temenku boleh tidak main ke rumah? Mereka penasaran sekali, anak siapa yang aku kandung. Mereka bahkan ada yang tidak percaya kalau aku sudah menikah. Dikira aku gadis gak bener kali, ya?" celoteh Mika sambil memainkan busa.


"Siapa itu? Berani sekali ... boleh. Undang saja mereka."


"Nggak apa-apa?"


"Tidak masalah, sekalian merayakan ulang tahunmu."


"Aku kira lupa," sela Mikaela.


"Mana mungkin aku lupa hari kelahiran istriku?"


"Ish ... gombal!"


Ferdinand tersenyum kemudian menempelkan bibirnya di kelala Mika.


"Undang saja temanmu, mau di mana? Hotel atau rumah?"


Mika menoleh.


"Boleh di rumah saja?"


"Tentu saja, tidak jadi masalah."


Senyum Mika langsung menggembang. "Makasi ya."


"Hemm."


Mika terlihat lega, ini karena ia mendengar sedikit gosip di kampus. Ia mendengar bisik-bisik kalau dia hamil di luar nikah. Ini karena Mika tidak mengekspose suaminya.


Yang orang-orang tahu, Mika masih gadis. Belum menikah, tapi begitu bentuk tubuh Mika berubah, ada tonjolan di perutnya, orang-orang mulai membicarakan Mikaela dengan hal-hal berbau negative.


Ia kini lega, saat Ferdinand memberikan ijin untuk mengundang beberapa teman ke rumah. Setidaknya ia akan memberikan klarifikasi secara langsung, menunjukkan siapa suaminya, dan siapa ayah dari anak yang ia kandung. Ia akan pamer pada teman-temannya, bahwa menikah muda itu enak.


Belom lagi suaminya yang super ganteng, cool, perhatian, dijamin teman-temannya seketika akan iri. Tiba-tiba Mika tersenyum sendiri, membayangkan reaksi teman-temannya yang sok tahu dan hobby julidin hidup Mika selama ini.


***


Beberapa hari kemudian.


Rumah Mika kini disulap menjadi layaknya tempat suatu pesta. Bertepatan dengan ulang tahun Mika, Ferdinand mengadakan pesta yang cukup meriah untuk sebuah ulang tahun saja.


Di halaman rumah, yang sudah disulap menjadi garden party yang asik, dengan lampu kelap kelip yang cantik, Mika terlihat menawan dengan gaun merahnya yang sedikit menonjolkan perutnya yang mulai terlihat besar.


"Mik, mana suami kamu?"


Teman Mikaela mulai penasaran.


"Tunggu ya, masih di atas."


Mika clingak-clinguk, kemudian mendapati Billi sendand bicara dengan Fabiola. Mika kemudian pamit pada temannya, lalu berbisik pada Billi. Pria itu lantas mengangguk kemudian meninggalkan Mika serta Fabiola. Sepertinya Mika minta dipanggilkan Ferdinand.


Benar saja, tidak lama kemudian, sosok pria tampan muncul dengan jas Navi, terlihat cool sekali. Para remaja yang hadir, banyak yang terpana oleh pesona paman Mikaela tersebut, paman yang kini jadi suaminya.


"Nah, itu suamiku!" kata Mika sambil tersenyum pada teman-temannya. Senyum Mika semakin menggembang tatkala Ferdinand langsung meraih pinggangnya. Seolah memberikan tanda pada semuanya, bahwa dia adalah pria itu. Pria yang sudah berhasil membuat Mika hamil.


'Ganteng banget!'


'Sugar daddy ini mah gue mau juga!'


'Beruntung banget Mika, usia jauh kalau model begini aku juga mau!'


Teman-teman Mika mulai bisik-bisik, pada terpesona oleh sosok Ferdinand yang memang diam saja cukup membuat hati cewek-cewek berdesir.


"Eh .. kalian malah bengong, kenalin ... Ini Mas Ferdinand, suamiku!" ucap Mika kemudian menatap Ferdinand dalam-dalam. Membuat teman-teman Mika ikut baper. Dunia seolah punya Mika, sisanya ngekos.


"Salam kenal!" ucap teman-teman Mika bersamaan.


Ferdinand melempar senyum, membuat para remaja itu semakin salting. Mika dengan bangga melingkarkan lengannya di lengan Ferdinand. Malam ini bukan seperti ulang tahun Mika saja, tapi seperti press conference, bahwa Mika sudah menikah.


Pesta pun berjalan meriah, apalagi saat acara dansa dimulai. Mika dan Ferdinand seolah tidak peduli sekitarnya. Keduanya berdansa sangat romatis dengan alunan musik yang syahdu. Dunia benar-benar milik mereka. Sisanya mungkin akan pesan ticket roket ke Pluto.


***


CIUMMM ... CIUMMM ...


Ferdinand menatap barisan anak-anak remaja itu, sedangkan Mika, istri kecilnya itu malah tersenyum sangat manis. Seolah memberikan ijin.


"Sayang! Di kamar saja!" bisik Ferdinand.


CIUMMM ... CIUMMM ...


'Ish ... kelamaan!'


Mika langsung jinjit, BUMIL itu dengan lembut langsung menyesapp bibir Ferdinand di bawah cahaya lampu taman yang temaram. Karena ketika Mika mulai mendekat, lampu langsung dimatikan. Siapa lagi kalau bukan Billi.


'Di kamar saja Sayang!' batin Ferdinand kemudian membalas sesapan Mikaela lebih dalam.


Bersambung