
My Hot Uncle bagian 28
Oleh Sept
Siang hari, ketika matahari sangat terik, Ferdinand dan Mikaela akhirnya check-out. Masih jam 11 siang, tapi matahari begitu panas.
"Kita langsung pulang ya? Pekerjaan Om sudah beres semuanya."
"Hemm!" jawab Mikaela yang kini merebahkan kepalanya di bahu Ferdinand.
Setelah check-out, bersama Billi mereka berdua akhirnya meninggalkan hotel. Langsung meluncur ke Jakarta lagi.
"Om," panggil Mikaela lirih.
"Ya," jawab Ferdinand yang sebelah tangannya mengusap kepala Mikaela, sedangkan tangan satunya sibuk scroll smartphone miliknya.
"Kenapa kok gak kadi bicara?" tanya Ferdinand heran kemudian menyimpan ponselnya. Pria itu kini fokus pada Mikaela yang bersandar di bahunya.
"Gak apa-apa, Om. Gak jadi."
Ferdinand lalu mencebik, sembari tangannya menarik hidung Mikaela gemas. Bagaimana pun juga, kadang ia masih merasa Mikaela sangat mengemaskan, seperti anak kecil.
"Ya sudah, tidurlah. Nanti Om bangunkan!" ucap Ferdinand kemudian menepuk lembut bahu Mikaela.
'Bagaimana bisa tidur? Kepalaku terus memikirkan pernikahan yang om tawarkan ... Apa aku mundur saja?' batin Mikaela yang ternyata meragu.
Mika sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Ferdinand, ia menatap ke depan. Melihat jalan dengan tatapan kosong. Ia juga sebenarnya berpikir, bagaimana setelah ini, setelah ia menikahi gadis kecil yang kadang emosinya masih labil.
Hingga tanpa terasa, setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, mereka pun sampai di kediaman Ferdinand. Dan Mika benar-benar tertidur.
"Mika ... bangun. Kita sudah sampai."
Ferdinand membangunkan keponakannya itu dengan sangat lembut saat Billi sudah turun duluan untuk mengeluarkan semua barang-barang.
"Kita sudah sampai, Mika."
Mikaela mengerjap, ia kemudian mengerakkan lengannya. Otot lehernya terasa kaku, dengan mata yang masih mengantuk, gadis itu turun dari mobil. Ferdinand ikut jalan di belakangnya.
Mereka langsung istirahat, hanya sebentar karena Ferdinand kembali keluar rumah lagi. Sementara Mikaela, gadis itu terkapar di atas ranjang empuk miliknya.
Mendengar deru mobil, Mika sadar, pamannya sudah pergi lagi. Gadis itu kemudian merentangkan kedua tangan dan kakinya. Menatap langit-langit kamar sembari berpikir.
"Apa aku sudah siap?"
Ia menggeleng keras. Mika kemudian mencari teman untuk ngobrol. Ia turun ke bawah, mencari bibi. Bibi yang mengasuh Mika sejak dulu.
Tap tap tap
Dia begitu cepat menuruni tangga, membuat ART yang lain langsung berlari mendekat karena kaget.
"Nona ... hati-hati, nanti jatuh."
Mikaela hanya tersebut.
"Bibi mana, Mbak?" tanya Mikaela pada ART yang masih muda itu.
"Ada, tadi di halaman samping, lihat mang Ujang bersihin air kolam renang."
"Oh. Oke."
Mika mencari wanita paruh baya yang sering ketar-ketir karena ulahnya.
Seorang wanita menoleh, menatap Mika yang datang ke arahnya.
"Iya, Non ... ada yang bisa Bibi bantu."
Mika menghela napas panjang, kemudian mereka duduk-duduk di gazebo yang ada di dekat sana.
"Ada apa?" tanya bibi sambil mengusap lembut rambut Mika yang rebahan. Sudah seperti anak sendiri, karena memang merawat Mika sejak kecil. Apalagi Mika tidak punya orang tua lagi, membuat bibi tambah kasihan.
"Bik ..."
"Iya, Non."
"Emmm ... Om ngajak Mika nikah."
Krik krik krik
Suasana langsung sepi. Bahkan tukang kebun yang sedang potong rumput di sebelah mereka, langsung berhenti memotong.
"Oh, itu ... ayo bicara di dalam, Non."
Bibi melihat sekeliling kemudian membawa Mika masuk.
"Loh ... kenapa, Bi?"
Karena wajah bibi sangat serius, Mika pun ikut dan tidak banyak bertanya.
***
Di ruang tamu.
"Kenapa diam-diam Bik? Mika kan gak nikah sama penjahat?"
"Sebagian tidak tahu, kalau Nona tidak ada hubungan darah sama tuan besar."
"Oooo! Kirain apa, Bik. Ngagetin aja."
"Maaf Non, takutnya malah banyak fitnah."
"Iya, Bik. Mungkin banyak yang ngira juga, om Ferdinand om kandung Mika selama ini."
"Nah itu, Non ... maksud Bibi."
"Bibi tenang saja, orang lain kan gak tahu kenyataannya. Emm ... menurut Bibi bagaimana? Apa Mika gak terlalu cepat menikah? Mika kan masih kuliah."
"Kan bisa nikah sambil kuliah, Non. Lagian selama ini tuan besar juga sudah terlihat tulus sayang sama non Mika."
Bibi menghela napas dalam-dalam kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Lagian sudah waktunya tuan besar berkeluarga, hidup bahagia, punya anak. Aduh ... pasti nyonya Dinara sama tuan Alexander senang melihat kalian bahagia. Bibi gak sabar juga, nanti akan seganteng dan secantik apa anak-anak kalian," tutur bibi dengan tulus. Namun, cukup menohok hati Mika.
'Anak-anak?'
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020