
My Hot Uncle bagian 24
Oleh Sept
Ajakan segera menikah secara tiba-tiba dari Ferdinand, membuat Mikaela langsung mundur. Ia mengalihkan perhatian Ferdinand, kemudian kabur dari kamar pria tersebut. Ferdinand sendiri tersenyum geli memperhatikan tingkah polah Mika yang salah tingkah.
Sementara itu, Mika langsung melesat ke kamarnya. Tidak lupa ia kunci pintunya dari dalam.
"Astaga ... ya ampun. Ini gak bener, gue beneran takut nikah, ntar hamil ... punya anak trus bagaimana?"
Mikaela kemudian mondar-mandir, ia juga melirik laptop, di mana masih tertera namanya.
"Gue mau fokus belajar!"
"Tapi bagaimana kalau Sandra datang? Bagaimana kalau Sandra menggoda om Ferdinand?"
"Tidak, pasti wanita itu tidak akan mengganggu om lagi ... tapi bagaimana dengan wanita di luar sana?"
Mika terus saja bicara pada dirinya sendiri.
***
Beberapa minggu kemudian.
Mika sudah mulai memasukkan dunia baru, sudah bisa keluar rumah dengan bebas. Namun, masih harus mengikuti aturan main Ferdinand. Boleh main, tapi tidak boleh sampai malam. Hanya pulang kuliah sampai sore, selanjutnya ia harus ada di rumah.
Mikaela yang beberapa bulan ini dikurung di rumah, mulai menikmati hawa kebebasan. Pulang dari kampus, ia hang out bersama teman-temannya. Bisa ngemall lagi, bisa nonton dan nongkrong sampai sore.
Starbus
Mika sedang menikmati es kopi dengan teman-temannya, sambil membahas hal-hal receh. Mikaela kini memiliki teman baru yang jauh lebih asik dan lebih sehat. Dia bercanda ria dengan teman-teman sebayanya. Untuk sesaat ia sedikit lupa pada obsesinya pada Ferdinand.
Apalagi saat ngafe, ada banyak cowok cakep yang ada di sekitar mereka. Salah satu bahkan duduk di sebelah Mika, basa-basi, sambil kenalan. Eh mereka ternyata satu kampus, tapi beda jurusan.
"Bisa tukar nomor WA?" pinta cowok hobby basket tersebut.
Miakela tampak ragu, tapi temennya malah berbisik.
"Udah, Ka. Kasih aja. Lumayan buat gebetan."
Mika langsung melotot, kemudian memberikan cowok di sebelahnya menscan WAnya.
"Trims, lain kali bisa lah Kita jalan rame-rame."
Tata dan temennya tersenyum tipis. Mereka kemudian kembali berbincang, selayaknya anak muda yang lagi nongkrong di cafe.
"Eh, sudah jam 4 sore. Aku balik dulu." Mikaela pamit, tapi langsung dicegah teman-temannya.
"Ya ampun, masih jam empat, Mika."
"Sorry ya, aku harus balik. Bye ..."
"Ish! Gak asik kamu, Ka!"
Miakela hanya tersenyum, kemudian meninggalkan meja di mana temannya masih nongkrong.
Tap tap tap
Pria yang bernama Marsel si pemain basket itu tiba-tiba berlari menghampiri Miakela.
"Aku anter."
Mika menggeleng pelan.
"Gak usah, aku bawa mobil sendiri."
"Oh, oke ... hati-hati di jalan. Nanti malam boleh telpon kan?"
Mikaela hanya tersebut kemudian bergegas pergi.
***
Saat di jalan, ponsel Mikaela berdering. Pamannya menelpon. Sepertinya mau ngecek Mika di mana.
"Iya, Om ... Mika otw."
"Jangan ngebut."
"Iya, Om."
"Ya sudah, Om juga mau pulang. Sampai ketemu di rumah."
"Hemm."
Mika kemudian melepaskan headset dari telinga, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.
"Gak mau nikah dulu ... gak mauuu!" gumam Mikaela yang kini enggan diajak nikah cepat-cepat oleh pamannya. Padahal dulu ngebet, tapi sekarang mundur. Mika sudah mulai nyaman menjalani hidup sebagai mahasiswi baru, banyak teman, bisa nongkrong, banyak kenalan. Kalau menikah, sudah pasti ruang geraknya akan terbatas.
"Huuff!"
Ia membuang napas berat.
***
Mika turun dari mobil, kemudian memberikan kunci pada penjaga agar diparkir dengan rapi.
"Sudah pulang, Non?"
"Hemm."
"Mau Bibi siapin makan, Non?"
"Nggak, Bik. Masih kenyang." Mikaela langsung nyelonong ke kamarnya.
Beberapa jam kemudian, hari sudah malam. Bibi kembali memanggil Mikaela untuk makan malam.
"Non, sudah ditunggu tuan besar di meja makan."
"Iya, Bik!" jawab Mikaela sambil berteriak di dalam kamarnya.
Tap tap tap
Mikaela menuruni tangga dengan cepat, membuat suaranya terdengar jelas.
"Hati-hati, Mika!" seru Ferdinand sambil menoleh ke sumber suara.
Mika kemudian duduk di depan Ferdinand, keduanya makan malam bersama. Sambil makan, Ferdinand bertanya tentang hari kuliah Mikaela.
"Bagaimana kuliahnya?"
"Baik."
"Banyak temennya?"
"Hemm ... iya."
Habis makan, Mikaela hendak ke kamarnya, sampai Ferdinand mencegah baru ia duduk kembali.
"Mau tidur? Masih jam tujuh. Nonton TV atau film mau?"
'Nanti bahas nikah, gak mau!'
Mika mencari alasan, "Ada tugas dari kampus, Om. Mika kerjakan dulu."
Gadis itu buru-buru pergi meninggalkan Ferdinand yang menatapnya aneh.
"Ada apa dengannya? Kok jadi beda. Apa aku melakukan kesalahan?"
Ferdinand merasa Mikaela banyak berubah. Hal ini berangsur-angsur sampai berminggu-minggu. Mikaela yang selalu merajuk, mengelayut manja padanya, kini sedikit memberikan jarak.
Sampai suatu malam, Ferdinand datang ke kamar Mikaela. Masih berdiri di depan pintu, Ferdinand mendengar suara Mikaela yang tertawa, sepertinya sedang asik telpon. Hingga pagi harinya, Ferdinand langsung to the point saat mereka sedang duduk di meja makan untuk sarapan.
"Kamu sudah punya pacar?"
Klonteng ...
Sendok Mika jatuh ke atas meja.
"Om lihat akhir-akhir ini kamu telpon sampai malam."
Miakela langsung gugup.
"Pacar apa? Mika gak ada pacar, Om!" kata Mika sambil menelan ludah.
"Lalu siapa yang kamu telpon malam-malam?" tanya Ferdinand, ada cemburu yang mulai ia perlihatkan. Pria dewasa itu, mendadak kekanak-kanakan saat Mikaela mulai berubah.
"Teman Mika, Om." Mika semakin tegang, karena mata Ferdinand lurus menatapnya tanpa kedip.
"Kamu pikir Om bakalan percaya?"
'Waduh ... om Ferdinand kayaknya cemburu ini. Aduh ... aduh!'
Mika mengatur napas, kemudian mengatupkan bibir. Gadis itu lalu bangkit dari kursinya. Kemudian memeluk Ferdinand yang masih duduk, ia memeluknya dari belakang.
"Om cemburu, ya?"
"Kembali ke tempat, Om mau kerja!" Ferdinand melepaskan lengan Mikaela. Mika kalau ketahuan salah pasti merayu, ia jadi yakin, keponakannya itu sudah mendua. Entah mengapa, ia jadi snewem sendiri.
"Jangan galak-galak, Om!" bisik Mikaela kemudian menempelkan bibirnya di pipi Ferdinand. Mika paling tahu, kalau omnya tidak tahan kalau dirayu.
"MIKA!"
Gadis itu meringis, terkekeh melihat pamannya yang wajahnya jadi tegang. Kadang Mika suka menikmati moment jahilnya, membuat sang paman salah tingkah.
"Sudah, habiskan sarapanmu!" cetus Ferdinand lalu meninggal meja.
"Ommmm ... Omm mau ke mana?" teriak Mika.
"Kamar mandi! Ikut?"
Mikaela langsung terkekeh. BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020