
My Hot Uncle bagian 45
Oleh Sept
Cerita ini bisa membuat jantungan. Wajah panas dingin, napas sesek. Yang belum punya KTP mundur ya. Jangan baca, cukup skip ... Yang sudah menikah, maju terus jangan pernah kepikiran untuk mundur. Heheheh. Warning!
***
Acara malam ini begitu berkesan bagi Mikaela. Apalagi saat mendengar response positive dari teman-temannya tentang sang suami, bahwa pria yang kini jadi suaminya, menjadi idola teman-temannya. Mika semakin PD, tidak minder meski menikah muda dan kini tengah hamil. Karena kata teman-temannya, dia sangat beruntung memiliki suami yang super HOT!
Apa yang teman Mika katakan memang benar, sebab selesai acara pesta, Ferdinand langsung mengiring Mikaela ke kamar. Tidak peduli di luar masih ramai para pelayan membereskan sisa-sisa acara, Ferdinand malah akan memulai membereskan acara yang tadi belum tuntas.
Klik
Pria itu langsung mematikan lampu, membuat kamar menjadi sangat gelap tanpa penerangan. Namun, sesaat kemudian ia menyalakan lampu tidur, menciptakan cahaya yang samar, remang-remang yang menambah suasana semakin intense.
"Aku ganti baju dulu," kata Mika sesaat. Tapi Ferdinand langsung merengkuh pinggang istrinya.
"Tidak usah ganti," bisik Ferdinand membuat Mika bergidik, karena pria itu meniup tengkuknya.
Pelan tapi pasti, tangan Ferdinand meraih resleting yang masih terpasang di bagian belakang. Ia turunkan pelan, sembari meniupnya, sengaja mengerjai Mikaela.
"Sayang! Jangan gitu, merinding!" protes Mikaela karena merasa bulu-bulunya mulai merinding.
Dasar Ferdinand, semakin dilarang semakin menjadi. Kali ini tidak hanya meniup, ia bahkan memberikan beberapa kecupann di pundak sampai bawah, ikut bersama dengan gaun yang perlahan turun itu.
"Sayang!!!!"
Mika menggeliat, ketika bibir Ferdinand sudah sampai pinggang. Ia tidak tahan sampai menepis kepala suaminya itu.
"Geli!"
Ferdinand kemudian berdiri, tapi tidak berdiri sendiri, sebab ada yang lain ikut berdiri dengan tegap saat menatap Mika yang sudah kehilangan gaunnya. Gaun itu sudah lepas sempurna, meninggalkan kacamata kuda dan segitiga bermuda motif renda-renda.
Mika cukup kaget, karena suaminya sudah sangat ON. Ia sampai menelan ludah, dia yang menggoda kini dia sendiri yang gelisah, geli-geli basah.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Ferdinand sembari mendekatkan wajah mereka. Keduanya kini berdiri di sebelah ranjang, karena Mika mulai malu-malu kucing, pria itu langsung saja membawa Mika naik. Berdiri sepertinya bukan cara yang nyaman, mengingat Mika sedang berbada dua.
Bukkk ...
Mata Mika terus saja menatap wajah suaminya, yang kini sudah di atas. Mika berbusa rileks, tapi jantungnya malah berdegup kencang. Harusnya ia sudah terbiasa, tapi entahlah. Ditatap suaminya seperti itu, cukup membuat wajahnya menghangat.
Apalagi saat Ferdinand sudah menangalkan semua helai demi helai pakaian yang dikenakan, sudah pasti body Ferdinand membuat wajah Mika memanas. Bukan hanya wajah saja, karena jiwanya juga sudah terbakar. Tambah besar usia kehamilan, Mika merasa semakin besar pula napsuhhnya.
'Sejak kapan pikiranku menjadi sekeruh ini?' batin Mika kemudian melingkarkan lengannya pada leher suaminya.
CUP
'Aduh!'
"Ishh ...!"
Tangan Mika mulai mencengkram, kuku-kukunya yang cantik menekan kulit punggung Ferdinand. Bukan karena apa-apa, karena Mika tidak tahan, Ferdinand sudah menyesap tempat ASI yang mulai besar tersebut.
'Astaga ... jangan itu, sumpah geli!'
Mika sampai menekuk lututnya, ia tidak tahan karena sensasi sesapan dan gigitan Ferdinand yang membuatnya tidak tahan.
Ferdinand menyeringai, kemudian melepaskan Mika. Namun, hanya sekejap. Karena berikutnya bibirnya malah menyesap yang lain, membuat Mika langsung menggigit bibirnya.
"Sayang ...!" Mika mendesis seperti ular kobra.
Sedangkan Ferdinand, ia terlalu fokus. Napasnya juga sudah memburu, desisan Mika membuatnya malah semakin terpacu.
"Jangan ... stop. Pengen pipisss!"
Barulah Ferdinand melepaskan Mika, ia kemudian mengusap perut Mika, sembari berbisik.
"Sehat-sehat ya Sayang ... Papa tenggokin!" bisik Ferdinand lirih. Hingga Mika mungkin tidak bisa mendengarnya.
"Ngomong apa Sayang?" Mika penasaran. Di tengah rasa geli yang merasuki tubuhnya, ia masih sempat kepo.
Pria itu hanya melempar senyum, kemudian membuat Mika memejamkan mata.
"Ishhh .....!!!!"
Mika mencengkram kain sprai setelah melepaskan tangannya dari tubuh Ferdinand.
'Bagaimana? Terasa kan? Ini sudah penuh, bukan hanya ujungnya saja seperti kemarin!' batin Ferdinand kemudian mulai naik turun dengan pelan-pelan. Lama-lama gerakan semakin cepat, membuat Mika mulai menegang, tidak hanya Mika yang mencapai puncak Krakatao, karena detik berikutnya, wajah Ferdinand pun tegang. Ya ... keduanya sama-sama tegang sesaat setelah bertukar cairan.
Napas masih memburu, jantung masih berdegup kencang. Hingga Ferdinand menarik diri, melepaskan cucumber miliknya yang mulai menciut dan layu, lalu merebahkan diri di sisi Mika. Masih ngos-ngosan, ia kecupp pipi Mika.
"Lemes Sayang?" goda Mika sambil menarik selimut.
Bibir Ferdinand mengulas senyum, kemudian merapat ke sisi Mika.
"Lemes bentar aja, nanti juga ON lagi, Sayang. Kalau hamil gini, lihat kamu dari belakang saja sudah napsuhh banget!" kata Ferdinand jujur. Tidak lupa bibirnya menggembang mengulas senyum.
'Astaga!' Mika menelan ludah, dia tidak sendiri, mereka berdua ternyata sama-sama memiliki pemikiran yang tidak jauh-jauh dari ranjang yang berdecit.
'Emang hotttt banget suamiku!' batin Mika kemudian menci um bibir Ferdinand.
"Sayang ... kasih jedah."
Mika terkekeh, karena cucumber masih sangat layu. Butuh beberapa saat dan sentuhan hingga kembali tegak sempurna.
Bersambung