My Hot Uncle

My Hot Uncle
D-Day



My Hot Uncle bagian 30


Oleh Sept


Seperti apa yang ia ucapkan sebelumnya, Ferdinand esok harinya menghubungi sebuah event organizer (EO). Kala itu Ferdinand dan Mikaela sedang sarapan bersama, setelah semalam mereka tidur satu kamar. Namun, tidak terjadi apapun. Mika hanya memeluk Ferdinand sampai tertidur. Membuat Ferdinand bangun tidur merasa kaku semua, karena Mika tidak mau lepas.


Hingga akhirnya Ferdinand memutuskan hari dan tanggal pernikahan mereka. Sebab kalau sering terjadi seperti semalam, ia tidak yakin tidak akan terjadi apa-apa kedepannya. Karena ia masih pria yang sangat normal.


"Om tadi sudah telpon salah satu EO," kata Ferdinand sambil makan.


"Hemm."


Mika juga melanjutkan makan, ia terlihat pasrah, tidak mengelak seperti sebelumnya. Ferdinand sampai heran, kenapa Mikaela jadi penurut begini?


"Kamu baik-baik saja, kan?"


Mika mendongak, perlahan menatap Ferdinand.


"Mika sehat, Om."


Ferdinand tersenyum tipis.


"Oh."


"Hari ini Om gak usah ke kantor. Mika juga sudah ijin tadi."


"Loh?" Ferdinand heran.


"Om habis kecelakaan kemarin, udah istirahat di rumah!" pinta Miakela.


"Yang parah itu Billi, kamu lihat kan? Om baik-baik saja. Tidak ada luka yang berarti."


"Tetep jangan ke kantor dulu, hari ini Kita di rumah saja!" tegas Mika kemudian menghabiskan makan yang tersisa sedikit.


'Ada apa dengan anak ini?' batin Ferdinand mengamati Mikaela.


"Habiskan Om makannya!" titah Mika yang melihat omnya malah bengong.


Ferdinand pun tersenyum, kemudian kembali sarapan lagi.


***


Sore hari, mereka kedatangan tamu dari pihak EO, kala itu Ferdinand dan Mika sedang duduk santai sambil nonton film di rumah. Ya, seharian ini keduanya tidak ke mana-mana.


Makanya, saat ada tamu mereka pun menemui bersama-sama. Karena ini membahas pernikahan keduanya.


Pihak EO sempat sedikit kaget, saat melihat siapa yang menikah. Mungkin karena perbedaan usia pengantin yang cukup kontras. Wajah Mikaela yang sangat fresh dipadupadankan dengan Ferdinand yang dewasa dan berwibawa. Namun, si EO tidak berani julid pada kliennya itu. Meskipun dalam hati selau ingin berkomentar.


"Baik Pak Ferdinand, sesuai yang Bapak mau. Kami akan membantu kalian mewujudkan hari bahagia kalian."


"Terima kasih."


"Harinya sudah deal ya? Seminggu lagi?" tanya si EO.


Mika saling menatap dengan Ferdinand, kemudian mereka berdua mengangguk.


"Ya."


"Baiklah, kami akan melakukan yang terbaik untuk kalian."


Mereka bertiga ditambah dengan assisten si EO, membahas rencana pernikahan Ferdinand dan Mikaela yang akan diselengarakan di salah satu hotel terbaik di kota itu.


Sampai malam, baru meeting sederhana tersebut selesai. Pihak EO pamit, dan berjanji akan melakukan yang terbaik.


***


Pukul 10 malam


Ferdinand sudah terlelap dalam kamarnya, sedangkan Mikaela, gadis itu sejak tadi terjaga. Matanya tidak mengantuk, ia hanya diam dengan kedua mata yang terus terbuka dan pikiran ke mana-mana.


"Seminggu lagi statusku bakalan berubah. Ini mimpi nggak? Kenapa malah gak bisa tidur?"


Sampai pukul 2 dini hari, Mikaela tetap terjaga. Hingga ia usil dan memutuskan ke kamar Ferdinand.


Tok tok tok


Ferdinand yang terlelap kemudian terbangun ketika ada yang mengetuk pintu kamar.


"Om."


Tahu itu suara Mika, bukannya bangun dan buka pintu, Ferdinand malah mengambil bantal kemudian menutup telinganya.


'Tahan Mika! Jangan sekarang!' batin Ferdinand.


Tok tok tok


"OMMM!"


Mika mondar-mandir di depan pintu, tapi sudah lima menit malah tidak ada respon. Mika yang kesal akhirnya kembali ke kamarnya.


Hingga akhirnya saat pagi menjelang, ia bangun dengan mata panda karena semalaman bergadang.


Mika mendesis, menatap sinis. Membuat Ferdinand tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Om semalam bangun kan? Tapi sengaja gak buka pintunya?"


Ferdinand pura-pura berpikir, "Semalam?"


"Ya!"


"Om gak tahu apa-apa. Memangnya semalam kenapa?"


"Cih!" Mika mencebik, ia kemudian memasang muka bebek dengan mata pandanya itu.


Membuat Ferdinand tambah gemas.


"Tahan ya ... beberapa hari ke depan, kamu bebas keluar masuk kamar Om. Pegang saja kuncinya!" ledek Ferdinand yang membuat Mikaela semakin kesal.


"Ish!"


Di tengah suasana mereka yang asik bicara, telpon Ferdinand berdering.


"Oh ya. Baik ... kami berdua akan ke sana," kata Ferdinand di telpon kemudian menutup ponselnya.


"Siapa Om?"


"Kamu siap-siap, Kita fitting baju pengantin."


Tiba-tiba hidung Miakela kembang kempis. Ada perasaan aneh yang menelusuk dalam hatinya.


"Om sudah pakai ini saja, kamu ganti pakaian sana."


Mika mengangguk, "Iya."


***


Mereka berdua akhirnya ke sebuah boutique. Diantar oleh sopir pribadinya, Ferdinand membawa Mikaela menuju sebuah tempat impian para perempuan yang akan menikah. Memilih gaun yang mana yang ia sukai.


Satu persatu Mika mencoba, dan semua terlihat begitu anggun, pas di badan Miakela yang memang ideal itu.


"Aku mau yang seperti ini, tapi jangan terlalu menggembang," kata Mikaela yang terkesima pada salah salah satu gaun pengantin cantik dengan taburan swarovski.


"Bagaimana menurut Om? Bagus kan?" tanya Mikaela yang meminta pendapatan Ferdinand.


Ferdinand mantap Mikaela dengan tatapan kagum, ia tidak menyangka melihat Mikaela memakai gaun pengantin.


"Bagus ... kamu cantik sekali!" komentar Ferdinand.


Beberapa pegawai yang ada di sana sampai salah tingkah, malu melihat calon pengantin itu saling memuji.


"Om juga ganteng ... jas itu pas sekali. Mampi papi pasti seneng lihat Kita ya, Om."


Suara Mikaela kemudian memelan, seperti menahan sesuatu. Ferdinand pun mendekat, kemudian merengkuh pinggang Mikaela.


"Mereka berdua pasti bahagia kalau kamu juga bahagia. Om janji, akan membuat Mika bahagia," ucap Ferdinand yang memang kurang bisa romantis, sebab ia salah satu tipe cowo kaku. Selalu serius dan tidak bisa gombal.


***


Jam terus berjalan, hari berganti hari, sampai tidak terasa hari H sudah di depan mata.


The Rij Calthon Jakarta


Di sebuah hotel berbintang, di salah satu ballroom telah ada persiapan untuk acara pernikahan beberapa jam lagi.


Calon pengantin ada di ruangan masing-masing, mereka sedang dirias dan diambil gambar serta video untuk dokumentasi.


Mika yang duduk di meja rias, menatap pantulan wajahnya. Riasan sempurna, elegant, menawarkan dan cantik jelita.


'Mika ... sebentar lagi kamu akan menjadi istri dari Ferdinand ... ya ampun!'


Mikaela masih tidak percaya, bahwa beberapa jam lagi ia akan menjadi istri dari pria yang selama ini tinggal bersamanya.


"Sudah Nona!" kata MUA yang menatap puas pada sosok cantik nan menawan di depannya.


"Bagaimana? Apa ada yang kurang?"


Mika menggeleng. "Udah, ini dah perfect."


"Pasti calon suaminya sangat beruntung. Pengantin wanitanya sangat cantik."


Wajah Mika yang sudah bersemu karena blush on, kembali memerah. Dan jantung Mikaela semakin deg-degan, saat ia diantar untuk duduk di sebelah Ferdinand. Mika merasa Ferdinand terus saja menatapnya, tapi Mika memilih menunduk, menengelamkan pandangan.


'Cantik sekali pengantinku. Tatap aku Mika, aku ingin melihat wajahmu yang cantik itu!' batin Ferdinand. Entah karena apa, tiba-tiba Mikaela mengangkat wajah dan menoleh ke arahnya.


Mata mereka bertemu untuk sesaat, sampai akhirnya Mika melihat ke arah lain.


'Kenapa om menatap seperti itu? Astaga ... belum apa-apa jantungku sudah berdegup kencang!' batin Mika.


BERSAMBUNG