
My Hot Uncle bagian 23
Oleh Sept
Bibirnya mengulas senyum, kemudian membetulkan Seattle yang dikenakan Mikaela.
'Kena kamu Mika ... kemarin sok-sokan godain om!' batin Ferdinand kemudian kembali ke kursinya. Pria itu lantas kembali memacu kendaraan warna hitam tersebut.
'Jantung gueee, astaga. Ini om Ferdinand ngerjain gue!' Mikaela mendesis kesal, kemudian mulai mengantur napasnya agar tidak kelihatan gugup.
"Kita ke makan dulu ya, kamu pasti belum makam."
"Udah ... udah makan!"
"Oh, ya sudah. Mau langsung nonton bioskop?"
"Hemm."
Ferdinand pun kembali menambah kecepatan, melesat ke mall paling besar yang ada di kota itu. Hari ini, ia akan mengajak Mika jalan.
Mungkin keputusan mereka jalan bareng mengundang orang lain untuk berkomentar. Begitu mereka tiba di salah satu mall, saat mereka ada di eskalator, beberapa orang bisik-bisik.
Ferdinand tidak terlalu tua, tapi kalau bersanding dengan Mikaela di sebelahnya, maka usia mereka akan jomplang. Mika terlihat masih belia dan wajah Babyface. Meskipun bongsor badannya, tapi wajah masih imut.
Sedangkan Ferdinand, ia terkesan terlalu berwibawa, hingga menimbulkan kesan sangat dewasa, ya meskipun wajahnya ganteng. Jadi kalau mereka jalan bareng, sudah mirip om-om bawa sugar beby nya.
***
Sesuai rencana, mereka langsung memilih film apa yang mau mereka tonton. Mikaela mau yang romance, sedangkan Ferdinand suka horor. Karena Mika gak suka horor-horor, mereka pun menonton film yang banyak adegan sweet tersebut.
"Ya sudah, ayo masuk!" Ferdinand meraih lengan Mikaela, membuat jantung gadis tersebut mulai tidak normal lagi.
Bagai terhipnotis, Mika mengikuti ke mana Ferdinand membawanya. Mereka ternyata duduk di bangku paling belakang.
"Kok di sini, Om?"
"Gak apa-apa, enak di sini, gak kelihatan orang-orang."
Mika mulai panik, biasanya ia yang akan membuat pamannya itu terjebak oleh keadaan, kini semuanya berbalik. Dan memang benar feeling gadis tersebut. Ketika film sudah diputar, dan saat masuk adegan romantis, sebuah tangan langsung menggenggam tangannya. Terasa hangat, menyatu dengan tangannya sendiri yang dingin.
'Aduh!' Mika tambah panik. Adegan di layar lebar itu menunjukkan dua sejoli sedang rebahan di taman. Keduanya saling menatap, karena suasana sangat sepi, ditemani langit senja jingga yang indah, mereka pun mulai melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan orang pacaran kebanyakan.
Miakela menelan ludah, melihat adehan ini bersama pamannya hanya membuatnya gugup, ia lantas menarik tangannya dari genggaman Ferdinand. Namun, pria itu malah meraihnya lagi. Mika tidak bisa melihat ekspresi omnya, karena lampu yang dimatikan, membuat ruangan gelap gulita.
Gadis itu tambah gugup, saat merasakan pipinya menghangat terkena hembusan napas pria si sebelahnya. Jelas ini Ferdinand sedang mendekat.
CUP
'Astaga naga!' Mika semakin lemas.
Ia yang sudah gugup sejak tadi tambah jadi tegang. Tidak menyangka Ferdinand sangat berani dan tidak jaim seperti biasanya. Setelah kejadian di kala fajar itu, Mika merasa pamannya lebih aggressiveee. Padahal dulu sang paman seperti tembok beton yang kaku dan sulit untuk ditembus.
"Om nanti dilihat orang!" bisik Mika saat Ferdinand mengecupp pipinya.
"Gak ada yang lihat, tuh ... mereka juga begitu," ucap Ferdinand lirih.
Mikaela langsung tepok jidat, kerena orang di sebelah mereka jauh lebih parah, malah sudah pangku pangkuan. Ia mengumpat dalam hati, sepertinya mereka salah datang ke sini.
"Om, fokus ke film aja!" kata Mikaela sembari mendorong lengan pamannya yang sudah menghadap Mika.
"Ya, kamu fokus saja sama filmnya, Om bakal fokus ke kamu saja."
'Mati aku!"
Miakela menahan napas ketika Ferdinand memegang dagunya, di tengah gelapnya gedung, kejadian yang ada di film langsung ter realisasikan. Ferdinand langsung praktek di tempat.
Mika yang malu-malu kucing, hanya bisa memejamkan mata ketika merasakan sesuatu yang dingin memaksa masuk. Ia buka bibirnya sedikit, membiarkan Ferdinand menelusuk ke dalam. Menjelajahi sensasi rasa yang membuat wajah mereka menjadi panas dingin.
Ferdinand tidak ragu, ia buat Mikaela lemas tidak berdaya. Baru disesapp, belum yang lain. Karena sadar tempat, meskipun ingin lanjut lama, Ferdinand pun menarik diri. Kemudian kambali menggenggam tangan gadis manis yang duduk lemas di sebelahnya.
***
"Gak usah malu ... Om tadi juga gugup di dalam sana," bisik Ferdinand kemudian merangkul bahu sang keponakan.
"Om juga gugup?"
"Hemm ... duduk di sebelah gadis cantik seperti Mika, apalagi akan melakukan hal seperti itu. Bagaimana mungkin jantung Om akan aman?"
Mika langsung tersenyum, dan itu memang rencana Ferdinand, membuat suasana mencair. Sebab dari tadi Mika begitu tegang.
"Habis ini kamu mau apa? Om temani ... Seharian ini Om milik Mika!"
Bukannya senang, Mika kembali gugup.
"Pulang aja ya, Om?"
"Pulang?"
"Hemm."
"Kenapa?"
"Mika capek," jawab Mikaela pura-pura lemes.
"Oh. Baiklah, ayo kita pulang."
Tanpa ba bi bu lagi, mereka langsung pulang. Membawa kenangan manis yang cukup berkesan.
***
Beberapa hari kemudian.
Hari pengumuman, mata Mika berbinar di delan layar laptop. Pagi itu ia melihat pengumuman resmi lewat webbbb sitee. Namanya tertera di dalam daftar calon mahasiswa yang diterima.
Sangat senang, ia langsung ke kamar Ferdinand.
"Om ... Om!"
Kamarnya kosong, Ferdinand sedang mandi. Ia pun duduk di tepi ranjang, tidak sabar melihat omnya keluar dari kamar mandi.
KLEK
Ferdinand keluar hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Bagian atas tubuhnya yang dipenuhi bulu-bulu lembut, membuat Mikaela hilang konsentrasi.
Napasnya tertahan, diikuti irama jantung yang bergemuru.
"Ada apa?" tanya Ferdinand santai kemudian mencari pakaian.
"Itu ... Mika diterima."
Ferdinand yang memegang kemeja, langsung ia letakkan.
"Benarkah? Congratulations!" ucap Ferdinand berbalik sambil tersenyum ke arah Mikaela.
'Jangan mendekat plisss!'
Setttt
"Selamat ya Mika," ucap Ferdinand sambil memeluk keponakannya. Aroma sabun langsung menusuk hidung Mika, belim lagi shampoo pria tersebut. Aduh, pikiran Mikaela langsung oleng.
"Om ... jangan sering meluk Mika seperti ini. Jantung Mika berdegup kencang."
Ferdinand terkekeh, "Sama!" bisiknya kemudian langsung mentium keponakannya itu.
Akhir-akhir ini Ferdinand selau tergoda, ia takut lama-lama tidak kuat. Sambil memeluk Mika, ia berkata pada sang gadis.
"Bagaimana menurutmu, jika menikah sambil kuliah?"
BERSAMBUNG