
My Hot Uncle bagian 34
Oleh Sept
Sepertinya masih harus di skip untuk yang belum ada KTP. Maaf ya, lewati saja. Hehehe ....
***
"Sakit?"
Ferdinand menatap wajah istri kecilnya itu, ia tatap dengan lembut, sesaat yang lalu dia sudah merobek dinding pertahanan lawan. Meninggalkan bercak darah dan jejak-jejak pertempuran yang berlangsung cukup dramatis.
"Iya ... perih."
Mendengar suara lembut Mikaela, Ferdinand menatapnya dengan senyuman. Kemudian mengusap wajah Mikaela.
"Nanti ... kalau kita sering-sering, pasti tidak perih lagi."
Wajah Mikaela langsung merona, malu rasanya. Ia sampai memalingkan wajah, tapi pria itu langsung menangkup wajah Mikaela tersebut.
"Kamu cantik sekali kalau malu-malu begini," goda Ferdinand. Dan Mika langsung menggatupkan bibir. Wanita muda itu terlihat sangat salah tingkah.
"Aku gendong ya? Kita bersihkan badan dulu."
Settt ...
Mika sempat terhenyak karena Ferdinand langsung saja membopong tubuhnya.
"Pegangan!" bisik Ferdinand sembari melangkah pelan ke kamar mandi yang jaraknya tidak jauh dari ranjang.
Dengan perhatian, Ferdinand menurunkan Mikaela dengan hati-hati. Kemudian memenuhi bathtub sampai penuh. Mereka berdua masuk di wadah yang sama, bukannya langsung mandi, Mika dan Ferdinand malah sama-sama berendam di dalam bathtub yang sudah penuh busa.
"Mau minum?" tawar Ferdinand yang melihat minuman dan gelas sudah disiapkan sebelumnya untuk pengantin baru tersebut.
Mika menggeleng, tapi Ferdinand dengan tangannya yang panjang, ia meraih segelas minuman tersebut. Ia minum sampai habis, kemudian menatap Mikaela.
"Om!"
Mika kaget, karena Ferdinand langsung saja merampas bibirnya. Ada rasa pait dari anggurrr yang tersisa.
"Aku mau lagi," bisik Ferdinand lembut saat melihat pemandangan yang membuatnya kembali bergejolak.
Mika menelan ludah, ia heran, suaminya kok masih kuat. Padahal beberapa waktu yang lalu sudah loyo, sekarang tombak sakti itu kembali mencuat lagi dengan berani.
Akhirnya terjadi lagi, sesuatu yang semestinya. Namun, di tempat berbeda. Tempat paling favorite bagi pengantin kedua. Di bawah guyuran shower, sepasang manusia olah raga bersama.
***
Sesaat kemudian, Mika berjalan dengan aneh. Ia sedikit meringis saat melangkah, sedangkan Ferdinand, pria itu masih mandi. Mika yang keluar duluan, karena jika masih terus di dalam, maka ia akan terus dimakan oleh suaminya yang kelaparan itu.
"Sayang ....!"
Mika langsung menoleh, suaminya menyusul jalan di belakang.
'Astaga! Dia tidak punya malu. Tolong pakai handuknya dengan betul!' omel Mika saat menoleh tapi malah melihat sesuatu yang menggantung dan membuat otaknya langsung oleng.
Sett
Ferdinand kembali membopong Mika sampai Mika ke ranjang.
"Kenapa jalanmu mirip bebek?" goda Ferdinand kemudian mencubit hidung Mika.
Mika langsung manyun, dan Ferdinand terkekeh.
"Jangan minta lagi ya? Sudah tengah malem, Mika capek."
"Lihat nanti," jawab Ferdinand penuh senyum.
Bukk ...
Mikaela langsung memukul lengan Ferdinand. Dan membuat pria itu langsung memeluknya. Masih pakai handuk, Ferdinand merebahkan tubuhnya di ranjang, sembari memeluk Mikaela dalam pelukannya.
***
Drett ... dreeet
Sudah pukul 7, tapi keduanya masih terlelap. Namun, suara ponsel yang bergetar, membuat salah satu dari mereka terbangun. Ferdinand membuka mata kemudian merabaa ponselnya.
"Jam tujuh," gumamnya kemudian memejamkan mata lagi. Namun, beberapa saat kemudian ia membuka mata. Dilihatnya Mikaela yang sudah terlelap. Ia kecupp dahi Mika, kemudian turun pelan-pelan.
Ferdinand menggeliat, kemudian memperhatikan Mika kembali. Ia selimuti tubuh Mikaela, kemudian ke kamar mandi. Ferdinand mengambil alat cukur, karena merasa dagunya sedikit kasar, bulu-bulunya terlalu cepat tumbuh. Setelah bercukur, ia buang alat cukur itu ke tempat sampah, karena hanya ia pakai sekali saja. Sudah rapi, ia pun mencuci muka dan mengusapnya dengan handuk bersih.
Puk ... puk ... puk ...
Ia menepuk pipinya, wajahnya terlihat cerah ceria. Wajah Ferdinand berseri-seri, mungkin karena dapat service full semalaman.
Sesaat kemudian, terdengar dering ponsel. Namun, bukan berasal dari ponselnya. Tidak ingin Mika bangun, karena pasti kecapekan semalam. Ferdinand pun mencari sumber suara. Ponsel Mika ada dalam tas, pria itu pun mengambil lalu mematikannya.
Mata Ferdinand kemudian teralihkan, ia menatap sesuatu di dalam tas yang tadi ia buka. Mata pria itu memincing, wajahnya yang tadi berseri, mendadak berubah. Bersambung.
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Gempa bumi sebentar lagi. Heheheh