
My Hot Uncle bagian 32
Oleh Sept
Hallo, jangan lupa ya! Sebelum membaca, mohon pastikan bahwa sudah cukup semuanya. Cukup umur, cukup dewasa, cukup mengerti, dan cukup waras. Hehehe ... Tidak cocok untuk yang belum menikah, mohon skip ya ... untuk kebaikan bersama. Terima kasih.
***
Malam ini mungkin akan menjadi malam bersejarah bagi Mikaela Marques Hartanto dan Ferdinand. Ini adalah malam yang sudah ditunggu Ferdinand. Sudah kepala tiga lebih, ia bertahan untuk tidak menikah. Dan akhirnya sekarang, ia menikah juga.
Menikahi keponakannya sendiri. Ya, meskipun tidak ada hubungan darah. Karena Ferdinand merupakan anak angkat dari keluarga maminya Mikaela. Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Alexander, dan kematian Dinara, bagi Ferdinand, menjaga Mikaela adalah prioritas pria tersebut.
Selain meneruskan bisnis keluaran, ia harus menjaga Mika yang waktu itu masih kecil. Dan sekarang, gadis kecil itu sudah tumbuh dewasa. Bahkan kini sudah menjadi istrinya. Jujur, ini masih seperti mimpi. Rasanya baru kemarin ia selalu dibuat pusing oleh ulah nakal keponakannya itu. Mika yang ia jaga dari kecil dengan sepenuh hati, kini tumbuh menjadi sosok gadis cantik dan cukup memikat hati Ferdinand.
Seperti malam ini, saat Mika duduk di pangkuan Ferdinand. Baru menghirup aroma sabun Mikaela yang habis mandi, jantung Ferdinand sudah berdegup lebih kencang. Hatinya mulai berdesir.
"Aku kira tadi sudah tidur," kata Mika dengan canggung karena duduk di pangkuan Ferdinand, yang kini sudah menjadi suaminya. Aneh sih, agak malu, dan sangat canggung.
"Mana mungkin aku tidur malam ini?" bisik Ferdinand di balik telinga Miakela, membuat gadis bar-barr itu semakin bergidik.
'Mati aku!'
"Memang Om gak capek?" tanya Mikaela basa-basi.
"Capek sih, tapi masih kuat."
Mendengar jawaban Ferdinand, pipi Mika langsung menghangat.
'Kuat apa? Astaga!'
"Bentar, Om. Mika pakai baju tidur dulu," sela Mika yang mau ganti pakaian karena memang masih mengenakan handuk mandi dari hotel.
"Gak usah, nanti juga aku lepasin."
'Aduh!'
Jantung Mika seperti diseruduk banteng. Dan Mika semakin panik, ketida apa yang ia duduki mulai terasa mengganjal. Mika memejamkan mata, ia jadi teringat apa yang pernah ia lihat sebelumnya. Saat ia tidak sengaja masuk ke kamar Ferdinand ketika pria itu habis mandi. Malu sendiri, Mika malah terlihat gugup dan kaku.
Apalagi ketikan tanga Ferdinand mulai melepaskan tali bathrobe yang terikat di pinggangnya. Membuat napas Miakela menjadi tertahan.
Cup
Bibir Ferdinand langsung mendarat di kulit bahu kanan Mikaela, membuat Mika merasa geli karena bulu lembut di wajah suaminya.
Saat tangan Ferdinand mulai berkelana lebih jauh, Mika langsung memegangi tangan itu.
"Mika malu, bisa lampunya diganti?"
Ferdinand tertegun, kemudian tersadar, buru-buru ia turun dari ranjang, kemudian mematikan lampu yang tadi terang benderang. Ia ganti dengan lampu tidur yang menimbulkan cahaya remang-remang. Temaran dan syahdu, cocok untuk menemani malam romantis dan hangat malam ini.
Sebelum kembali naik ke ranjang, Ferdinand melepaskan semua apa yang ia pakai, tinggal segitiga biru yang tersisa. Yang isinya sudah menyembul menantang alam.
Meski sedikit gelap, entah mengapa mata Mika masih saja tertuju pada benda itu, ngeri tapi ia tergelitik, tiba-tiba pikirannya mulai memikirkan hal yang macan-macam.
"Mau aku lepasin apa lepas sendiri?" tanya Ferdinand yang akan merambat ke ranjang bagai biawak yang merayap menghampiri mangsa.
'Apanya yang dilepaskan, aku bahan tidak pakai apa-apa,' batin Mika yang memang hanya pakai bathrobe.
Perlahan, Mika menurunkan kain tebal warna putih itu. Semula ia merasa takut, tapi melihat suaminya yang gagah perkasa, membuat jiwa mudanya berkobar. Rasa penasaran dan beraninya mendadak keluar dengan sendirinya malam ini.
Ferdinand kaget, saat ia melihat pemandangan yang lebih indah dari pada lukisan. Ia tidak mengira, Mika belum memakai apapun. Kemudian ia tersenyum, kan tadi Mika habis mandi, kemudian ia menarik tubuh gadis itu sebelum menegangkan pakaian.
"Boleh aku sesap?" tanya Ferdinand sembari mendekatkan wajahnya.
Belum juga diapa-apain, Mika sudah dag dig dug. Mika lantas menggantupkan bibir, lalu memejamkan mata sambil menahan sesuatu. Karena belum dijawab, suaminya langsung beraksi. Kenapa pakai ijin segala, kalau belum dijawab langsung dilahap?
"Om ...!" desis Mikaela sambil memegangi kepala suaminya karena merasa geli.
Mendengar Mika yang mendesis, malah ia semakin terpacu. Ferdinand yang sudah lama bertapa, seperti keluar dari gua. Malam ini, ia akan menjelajahi apa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Om ... cukup, Mika geli!" Mikaela mendorong wajah suaminya.
Ferdinand menarik napas, ia mengatur napasnya yang memburu, apalagi saat membuka kaki Mika. Wajahnya langsung panas.
"OMMMM!!!!"
Bersambung