My Hot Uncle

My Hot Uncle
HANGAT



My Hot Uncle bagian 38


Oleh Sept


Sedikit skip. Hehehe ...


***


'Kira-kira bakalan hamil ngak ya? Kalau begini terus, aku kok jadi takut,' batin Mikaela sembari mengusap rambutnya dengan handuk. Sedangkan suaminya sudah keluar duluan. Mika masih mengering rambut di depan cermin kamar mandi.


'Pasti gak lah, dokter bilang aman kok.'


Mika memperhatikan wajahnya dengan gelisah.


'Aman gak sih?'


Ia terus saja berjibaku dengan pikirannya sendiri. Hatinya berkecamuk, takut hamil karena Ferdinand selalu mengisinya minimal sehari 2 kali. Itu pun sering nambah-nambah. Mika khawatir, terlalu banyak diisi, obat penunda kehamilan jadi tidak manjur.


Tok tok tok


Lama di kamar mandi, membuat Ferdinand mengetuk pintu.


"Sayang, ngapain? Kok lama?"


"Iya."


Mika buru-buru meletakkan handuk di keranjang kotor, kemudian keluar menemui suaminya yang sudah wangi, ganteng, dan menawan.


"Sini, duduk ... aku bantu keringin rambut," seru Ferdinand sambil memegang hair dryer.


Mika pun patuh, ia duduk di depan meja rias yang panjang kemudian membiarkan Ferdinand mengeringkan rambutnya.


Keduanya berbicara, mengobrol serta membahas seharian ini apa yang sudah mereka lakukan. Mika mengatakan hatinya seperti biasanya, seperti hari-hari mahasiswa biasanya.


"Oh ya, Mika ada banyak tugas. Malam ini Mika mau ngerjain tugas ya."


"Gampang, nanti aku bantu. Biar cepet selesai ... terus kerjain tugas lain," kata Ferdinand penuh arti.


Mikaela langsung lemes, kenapa stamina suaminya oke banget. Sehari bisa lebih dari sekali? Kalau begini ceritanya, dia yakin pasti bakal jadi mama muda.


***


Di atas ranjang, Mika tengkurapp sambil menulis tugas-tugasnya. Ia capek duduk, sehingga pindah ke ranjang. Sedangkan Ferdinand, ia sedang menghadap laptop. Sesuai janji, ia membantu mengerjakan tugas Mika sebagian.


Hoamm ...


Pukul 9 malam. Tugas masih belum kelar, Mika berkali-kali menguap.


"Udah, tidur saja. Kerjakan besok lagi."


"Tapi dikumpulkan besok," sela Mika. Ia mengosok matanya yang sudah terasa berat.


"Biar aku kerjakan, sudah ... kamu tidur saja."


"Gak, kurang dikit lagi kok. Tanggung."


Mika kemudian kembali fokus, tapi lima belas menit kemudian, saat Ferdinand melirik dari tempatnya duduk, wanita muda itu malah sudah mengembara ke alam mimpi.


"Kasian, sepertinya capek banget akhir-akhir ini. Apa karena aku terlalu bersemangat dan terus menganggu istirahatnya?" gumam Ferdinand.


***


Sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar, membuat Mika mengerjap.


"Sudah pagi?" pekik Mikaela kemudian langsung menyibak selimut.


Ia melihat ke sebelah ranjang, tidak ada sosok suaminya. Mika pun menatap sekeliling, bibirnya mengulas senyum. Dilihatnya Ferdinand ketiduran sambil memeluk buku di sofa kamar.


Mika merasa beruntung, karena mendapat suami seperti Ferdinand. Dewasa, pengertian, dan perhatian. Matanya tertuju pada berkas laloran tugas miliknya. Ia pun mulai membangunkan suaminya. Sembari duduk di sebelah Ferdinand.


"Sudah pagi ... bangun."


Cup


Kelopak matanya bergerak, Ferdinand mulai terbangun.


"Ayo bangun ... nanti telat ngantor."


"Hemm."


"Dah pagi," bisik Mika sambil mengusap lembut pipi suaminya.


"Eh!" pekik Mikaela kaget karena Ferdinand langsung menariknya.


"Semalam kamu pules banget tidurnya."


"Oh ... itu karena kecapekan," kata Mika.


Ferdinand kemudian melepaskan Mika, kemudian membetulkan posisi. Ia kini sama-sama duduk seperti Mikaela.


"Sekarang capek nggak?" tanya Ferdinand dengan wajah serius, membuat Mikaela merasa aneh.


Mika menggeleng, tidur cukup membuatnya bangun dengan tubuh lebih segar.


"Nggak sih, sudah fresh karena tidurnya cukup."


Tiba-tiba semburat senyum terpancar jelas di wajah Ferdinand. Mikaela langsung mendapat petunjuk, apa yang akan terjadi berikutnya. Sepertinya mereka harus olah raga pagi ini.


Dengan semangat juang yang tinggi, Ferdinand langsung ke kamar mandi. Mencuci muka sebentar kemudian kembali lagi dan menutup semua jendela. Tidak lupa mematikan lampu kamar.


'Astaga ... Kita kan mah ke kampus dan kantor, sudah pagi ... aku kira absen, ternyata ditagih juga paginya,' batin Mika pasrah ketika melihat Ferdinand langsung menurunkan piyama miliknya.


"Nanti telat loh," sela Mika ketika suaminya mulai beraksi.


"Telat sedikit gak apa-apa, ini wajib sayang!"


"Ish!" Mika no comment, apalagi kalau Ferdinand sudah mulai gigit menggigit, sudah pasti ia dibuat lunglai tidak berdaya.


"Jangan dileher, nanti ditanya anak-anak. Kemarin aku sudah bilang alergi. Masak hari ini allergy lagi?" ucap Mika saat Ferdinand mau memberikan tanda cap bibir di lehernya yang jenjang.


"Tutup aja pakai sweater panjang," bisik Ferdinand kemudian mendesak Mika sampai gadis itu tidak memiliki kuasa apapun.


'Ya ampun ... eh ... pillll ... pagi ini belum,' Mika akan menepis kepala suaminya, tapi tiba-tiba saja sambil menyesap bibirnya, Ferdinand langsung masuk. Tidak sulit bagi pria tersebut untuk memasuki Mikaela, karena ia begitu lihai membuat istrinya basah.


Mika semakin panik campus cemas ketika Ferdinand bergetar cepat.


"Sayang!" panggil Mika lirih, ingin menghentikan aksi suaminya tapi tubuhnya juga semakin menikmati. Mika kacau, hingga akhirnya ia merasa sesuatu yang hangat mengalir di bawah sana. Bersambung