
My Hot Uncle bagian 29
Oleh Sept
Kring ... kring ... kring ...
Mikaela dan bibi yang semula terlibat obrolan santai, keduanya langsung melirik ke samping. Mereka sama-sama melihat telpon rumah yang berdering.
"Sebentar, Non. Bibi angkat dulu."
Mika hanya mengangguk, sembari menunggu bibi mengangkat telponnya. Siapa yang telpon rumah itu. Kira-kira ada urusan apa?
"Hallo ... ya benar."
PRANGGGGG ...
Bibi menjatuhkan telponnya, ia langsung berjalan dengan gugup menuju Mikaela.
"Siapa, Bik?" tanya Mika takut, takut jika ia mendapat kabar buruk.
"Ayo Non, ke rumah sakit ... mobil tuan besar masuk ke sungai."
Napas Mika langsung sesak, ia seperti tercekat, wajahnya yang cantik seketika menjadi pucat. Masih dengan tubuh yang gemetar, bibi menarik lengan Mika. Mereka langsung diantar sopir ke rumah sakit setelah polisi menelpon kediaman Hartanto tersebut.
Mika mencoba menelpon nomor Billi dan juga pamannya, tapi keduanya sama-sama tidak bisa dihubungi.
'Tidak boleh. Tidak boleh ada yang terluka, cukup mami papi yang Engkau ambil Tuhan ... tidak dengan om Ferdinand." Batin Mikaela bergejolak. Ketakutan akan kehilangan lagi kembali mengelayuti hati gadis tersebut.
Hingga sampai tiba di rumah sakit, ia langsung berlari menyusuri lorong. Tidak peduli ia menabrak salah satu suster, ia hanya ingin melihat kondisi pamannya.
Tap tap tap
Kakinya berhenti, ia mengurangi kecepatan langkah kakinya. Ketika melihat seorang pasien di dorong di atas ranjang rumah sakit.
Kepala Mikaela seketika menjadi pusing, matanya perlahan buram dan menjadi tidak jelas. Ia mencoba meraih sesuatu untuk tetap berdiri tegak.
Apalagi datang seorang pasien yang penuh luka dengan baju berlumurr darah, Mikaela langsung paranoid. Seolah melihat orang yang terluka itu adalah pamannya.
"Non ... Nonaa!" panggil bibi. Wanita itu hampir saja menangkap tubuh Mikaela yang akan jatuh.
Akan tetapi, seseorang sudah terlebih dahulu menangkap Mika, dan langsung membopong Mikaela yang pingsan.
"Tuan ... tuan tidak apa-apa?" tanya Bibi khawatir sambil mengikuti Ferdinand yang membopong Mikaela ke salah satu ruang.
"Saya tidak apa-apa, Bi. Hanya saja Billi. Sepertinya dia butuh jahitan di kepalanya."
Bibi terlihat ngeri, kemudian memperhatikan dahi Ferdinand yang di plester. Sepertinya Ferdinand juga terluka, tapi tidak separah Billi, sekretaris Ferdinand.
***
Kurang lebih tiga puluh menit Mikaela pingsan, begitu tersadar, Mika langsung memeluk Ferdinand yang kala itu sedang duduk di sebelah ranjang.
"Jangan tinggalin Mika," ucap Mikaela dengan suara serak sambil memeluk Ferdinand erat. Seakan tidak mau berpisah.
"Maakan Om. Membuat Mika khawatir. Om tidak apa-apa."
Ferdinand mengerti, pasti Mikaela trauma dengan masa lalu, di mana sebuah kecelakaan tragis sudah merenggut nyawa papinya. Dan tidak berselang lama, maminya menyusul. Jelas sekali Mikaela takut kehilangan lagi sosok yang dekat dengannya.
"Semua baik-baik saja, Sayang ... Om gak apa-apa."
Traumanya masih suka datang dan pergi, saat ini Mikaela yang bandell badung dan nakall itu, berada pada titik ketakutan yang dasar. Hingga kata-kata Ferdinand belum bisa membuatnya tenang.
Beberapa saat kemudian.
Mika sudah lebih mendingan, mereka semua kini di ruang Billi. Ferdinand ingin melihat kondisi Billi yang baru saja menerima jahitan di kepalanya.
"Tuan tidak usah khawatir, saya tidak apa-apa. Tuan bisa pulang sekarang," kata Billi yang tidak enak. Di ruang rawat inapnya banyak sekali orang.
"Ya, dan sepertinya nona Mikaela kurang sehat. lebih baik kalian pulang."
Ferdinand kemudian menatap Mikaela, memang Mika sepertinya kurang sehat. Mungkin kejadian hari ini membuatnya shock.
"Ya sudah, kami permisi."
Billi yang sudah ditemani kekasihnya, ia lalu mengangguk.
***
Ferdinand dan Mika naik taksi bersama bibi mereka langsung pulang. Tidak menunggu jemputan dari rumah, karena akan menunggu waktu.
Sampai di rumah, Mika malah tidak mau lepas dari Ferdinand. Dari turun dari taksi sampai malam, Mika terus membuntuti Ferdinand seperti layaknya sebuah ekor.
"Kamu gak pindah ke kamarmu?"
Mika menggeleng kepala, kemudian berbaring di sebelah Ferdinand. Keduanya tidur di ranjang yang sama.
Sambil mengusap dan memainkan rambut Mikaela, Ferdinand pun mulai bicara.
"Kalau terus-terusan begini, sepertinya Om akan mulai menyiapkan berkas pernikahan Kita," kata Ferdinand lirih.
Kok Mika diam saja, tidak ada sahutan, Ferdinand pun kembali bicara.
"Bagaimana? Besok mulai Om ajukan ya?" tanya Ferdinand lagi.
"Ya," jawab Mikaela dengan tangannya yang memeluk Ferdinand.
Mendengar jawaban singkat keponakannya itu, Ferdinand jadi tertegun. Percaya dan tidak percaya.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Baca yang sudah tamat ya
Crazy Rich, kekasih Bayaran, Rahim bayaran, dinikahi Milyader. dll
SEMOGA terhibur
ketik SEPT di kolom pencarian, ada 21 judul yang tersedia. Terima kasih banyak yaaa