
My Hot Uncle bagian 35
Oleh Sept
Pria itu seperti merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Ferdinand mungkin marah, tapi saat ia berbalik dan menatap wajah Mikaela yang masih sangatlah muda, pria itu kemudian menghela napas panjang.
Ia kemudian mengambil obat penunda kehamilan tersebut, lalu membuangnya ke tempat sampah. Kemudian membangunkan Mikaela setelah menata hatinya terlebih dahulu.
"Sayang, bangun."
Mika masih terpejam, ia masih tertidur pulas. Mungkin karena terlalu kelelahan. Dan Ferdinand pun membiarkan Mika tidur lebih lama. Sedangkan dia sendiri, ia memutuskan mandi dan keluar sebentar.
Meninggalkan note kecil di atas nakas, siapa tahu Mika bangun saat dia pergi. Ternyata, setelah ia kembali, Mika masih terlelap.
Ferdinand kembali menenteng paper bag, berisi makanan kesukaan Mika. Memang ada makanan dari hotel, hanya saja, pria itu ingin mencarikan sesuatu yang biasanya Mika makan.
"Mika ... matahari hampir naik sempurna, kamu gak bangun? Atau kamu sengaja ingin di kamar saja?" bisik Ferdinand saat membangunkan Mikaela, istri kecilnya.
"Sayang," bisiknya lembut. Untuk sesaat Ferdinand akan melupakan perihal obat tadi. Ia tidak mau merusak moment bulan madu mereka.
"Mika ..."
Kelopak matanya bergerak, Mika perlahan membuka matanya, lalu mengosok dengan tangan.
"Jam berapa ini?" tanya Mikaela dengan suara yang serak karena tidur lembur.
"Kalau capek banget, mandi dulu ... terus makan. Nanti boleh tidur lagi," kata Ferdinand dengan penuh pengertian.
"Iya ... badan Mika pegel-pegel semua."
Ferdinand hanya tersenyum tipis.
"Ya sudah, mandi terus makan. Aku laper ... nunggu makan bareng."
"Belum makan?" tanya Mikaela. Dan Ferdinand menggeleng.
Istri Ferdinand itu pun hendak turun, tapi ia malah meringis menahan sakit.
"Kenapa?"
Mika menggeleng keras. "Gak apa-apa."
Settt
Ferdinand langsung membopong Mikaela. Membawa istrinya itu ke kamar mandi.
"Maaf, ya. Karena aku kamu jadi begini."
Mika diam saja, bangun tidur sudah membahas sesuatu yang membuatnya canggung. Ia pun meminta Ferdinand keluar, kalau lama-lama berduaan di kamar mandi, bisa-bisa ia tidak akan mandi, tapi melakukan hal yang lain.
"Mika mandi dulu," kata Mika sambil mendorong punggung suaminya.
"Hemmm."
***
Selesai mandi, Mika yang sudah segar dan wangi, kemudian duduk di meja rias. Ferdinand beranjak, membantu mengering rambut Mika dengan handuk kecil.
"Mika ..."
"Ya," jawab Mika sambil menatap Ferdinand lewat pantulan kaca di depannya.
Ingin tidak membahas, tapi saat melihat tong sampah tidak jauh dari tempatnya, Ferdinand pun ingat dengan obat yang ia temukan di tas Mika.
"Apa kamu meminum sesuatu tanpa sepengetahuanku?"
Mika langsung diam, ia terlihat tegang. Kemudian melirik tas, jangan-jangan Ferdinand melihat sesuatu di dalam tasnya.
"Maksud Om obat apa? Mika memang mimun vitamin." Ia berusaha untuk tetap tenang, meskipun sangat tegang.
"Kamu yakin?"
Mika langsung menelan ludah.
'Pasti om Ferdinand sudah lihat!' batin Mikaela.
"Om lihat tas Mika?" tuduh Mika galak. Sebelum dimarahi, ia marah terlebih dulu. Ia mengeluarkan jurus terakhir.
Ferdinand menghela napas dalam-dalam.
"Kenapa gak ngomong dulu?" tanya Ferdinand kemudian.
"Jadi Om buka-buka tas Mika?" tanya Mika dengan nada meninggi, sebelum Ferdinand marah padanya.
"Kenapa kamu yang jadi marah?" Dahi Ferdinand langsung mengkerut.
"Hemm ... jangankan cuma tas. Baju saja aku buka!"
Mika langsung melotot menatap Ferdinand. Pria yang tadinya ingin marah, akhirnya hanya bisa menelan ludah. Ia tidak bisa marah pada istrinya itu. Apalagi sekarang, sudah seperti kucing yang ngajak ribut.
"Harusnya bilang dulu, karena kita sekarang sudah menikah. Apa-apa dibicarakan berdua."
Mika kemudian diam.
"Oke ... Kita tunda. Tapi kamu harus bilang, jangan sembunyi kaya begitu. Diam-diam minum obat. Jujur ... aku tidak suka."
Mika semakin menundukkan wajah.
"Mika ... kamu dengar kan?"
Perlahan Mika mengangkat wajahnya.
"Mika takut hamil," ucapnya sambil.
Ferdinand menatapnya dalam, kemudian mengusap pipi Mikaela.
"Iya, aku tahu. Kita tunda ... tapi sebisa mungkin. Apapun itu, harus bicarakan berdua. Kamu sekarang istriku."
"Om gak marah?"
Ferdinand tersenyum.
"Bagaimana bisa aku marah padamu?"
Mika langsung memasang muka bebek.
"Dah. Jangan minum sembarang obat. Kita konsul dokter saja."
Mika kemudian mengangguk.
"Ya sudah, ayo makan. Lapar banget."
Mereka berdua kemudian makan, sambil duduk di sofa. Bukan bersebelahan, tapi Mika duduk di atas Ferdinand.
"Susah ini makannya, Om!" protes Mika sambil menyuapi suaminya yang kini maunya manja-manja.
"Sekali-kali, mumpung Kita di hotel. Kalau di rumah juga gak bisa."
'Ish! Mesyumm!'
"Tapi Mika susah ini Om makannya."
Ferdinand langsung mencubit pipi Mikaela.
"Jangan panggil OM ya. Aku geli sendiri, di panggil istriku om."
Mika hanya kedip-kedip. Bingung mau panggil apa.
"Terus mau dipanggil apa? Uncle? Honey? Sayang, Papi, ayang?" Mika kemudian terkekeh.
"Ish!" Ferdinand mendesis, kemudian mengambil piring dari tangan Mika. Ia letakkan makanan di atas meja kemudian makan yang lain.
"OMMMM!"
Cup
"Ayo ...!"
Mika langsung menggeleng. "Semalam udah 3 kali!" protesnya.
"Gimana dong, lihat kamu aku jadi kek gini!"
Mika manarik napas panjang, kemudian akan berdiri, tapi Ferdinand malah menariknya.
"Gimana gak berdiri terus, Om aja mepet Mika terus!" protesnya.
"Jangan OM Sayang!"
Mika kemudian tersenyum, "Iya sayangggg. Jangan dekat-dekat ... nanti nyetrum!"
"Gak apa-apalah. Kan istrinya sendiri."
"Tunggu ... obatnya sudah nggak ada. Nanti ..."
"Nanti dikeluarkan di luar. Udah ... yuk."
Mika langsung lemes.