My Hot Uncle

My Hot Uncle
MIKAELA



My Hot Uncle bagian 19


Oleh Sept


Mika yang sejak tadi memasang muka dongkol, saat itu juga menjadi tertegun.


'Mungkin om Ferdinand bohong, biar aku gak kabur lagi,' batin Mikaela yang tidak mau tertipu dan terjebak dalam permainan sang paman. Paling ini juga akal-akalan orang dewasa tersebut, biar Mika patuh. Tidak mau percaya begitu saja, Mika pun memasang muka jutek lagi.


"Kamu dengar Om ngomong, kan?" tanya Ferdinand lagi.


Mika melirik, tapi tidak mau menjawab apapun.


'Astaga anak ini.'


Mulai dari sini, Mikaela bersikap dingin pada sang paman. Ia yang biasanya merajuk, mengelayut manja pada lengan pamannya, sekarang membuat tembok pembatas. Bahkan menyapa Ferdinand saja Mika enggan.


Jika Ferdinand ada di dekatnya, Mikaela benar-benar cuek. Akan tetapi, jika pria itu tidak ada, Mika merasa kesepian. Mika tidak paham pada perasaanya sendiri, benar-benar anak yang masih labil.


Seperti saat ini, sudah dua hari dirawat. Karena Ferdinand harus melakukan pertemuan penting, ia meminta bibi untuk menjaga Mika, di sana Mikaela mulai sebal kembali. Jiwa bebasnya jelas meronta ketika harus berbaring sepanjang hari di atas ranjang rumah sakit.


"Non, mau ke mana?"


Bibi panik ketika melihat Mikaela mau keluar.


"Cuma ke taman, Bi. Mika bosan."


"Tapi Nona masih sakit," sela bibi sambil memperhatikan plester di dahi Mika.


"Mika gak apa-apa, Bik. Tenang aja! Masih kuat kok." Mika bersikeras keluar untuk mencari udara segar. Terkurung di dalam kamar serba putih itu cukup membuatnya bosan. Dan karena gak bisa ditahan, bibi akhirnya mengikuti Mikaela sampai taman. Ia sampai ngantuk karena lama duduk menunggu Mikaela.


"Non, Non Mika gak capek?" tanya bibi yang memperhatikan Mika yang hanya duduk melamun berjam-jam.


"Udah, bibi kalau mau pulang atau mau istirahat, rebahan di dalam sana. Mika mau duduk di sini."


Jelas bibi langsung menggeleng, bisa-bisa ia kena marah pak Ferdinand. Ia ditugaskan untuk menjaga Mika, kok malah disuruh ninggal. Malah nanti bisa dipecat oleh Ferdinand.


"Nggak, Non. Bibi tunggu di sini saja."


Mika pun melempar senyum, terlihat miris memang. Jika dilihat-lihat, yang sering menghabiskan waktu bersamanya selama ini ya art di rumahnya. Dari ia bangun tidur sampai tidur lagi. Mika menghela napas dalam-dalam, memejamkan mata. Mengingatkan masa lalunya.


"Mami ... Mika kangen ... Mami kangen gak sama Mika? Pi ... Papi ...."


Mika menunduk wajah dalam-dalam, bulir bening jatuh menetes di pangkuan gadis tersebut. Ia menangis diam-diam tanpa suara. Sambil menunduk, tidak mau orang melihat ia menangis.


Bibi tertegun, ia bisa merasa bahwa nona mudanya itu sedang larut dalam kesedihan. Andai kedua orang tuanya masih hidup, pasti gadis itu akan merasakan banyak kebahagian.


Bibi tidak tega melihat punggung Mika yang bergetar menahan tangis. Hingga tanpa terasa, matanya ikut berkaca-kaca.


"Ya Allah, kasiahn sekali nona Mika. Di saat seperti ini, dia pasti rindu orang tuanya," gumam bibi kemudian mengusap matanya dengan lengan pakaiannya.


SROTTTT


Mika yang nangis, bibi yang menyusut hidung.


Mika yang masih larut dalam kesedihan, sampai tidak sadar, seseorang berdiri tegap di belakangnya. Bibi yang tahu, ia lantas mendongak, tapi sosok tersebut memintanya tidak mengatakan apapun. Bibi lantas pergi meninggalkan keduanya.


Ketika ada yang duduk di sebelahnya, Mika hanya diam. Ia pikir itu pasti bibi.


SROTTTT


Ganti Mika yang menyusut hidung. Dan sebuah tangan terulur memberikan sapu tangan warna navi.


DEG


Mika langsung beringsut, ternyata bukan bibi yang duduk di sebelahnya.


"Kenapa menangis?"


Mika kembali tertunduk. Ferdinand pun menarik napas panjang, kemudian mengusap punggung Mika.


"Mika kangen mami papi," ucap Mikaela kemudian terisak.


Ferdinand seketika membisu, kalau sudah membahas Alexander dan Dinara, ia juga tidak bisa berkata-kata. Ferdinand hanya bisa memeluk Mika untuk menenangkan gadis tersebut.


***


Beberapa hari kemudian.


Mika sudah pulang dari rumah sakit, setelah tiba di rumah, Mika menjadi murung. Dia yang selama ini sering melakukan banyak hal yang berani dan nekat, menjadi sangat pendiam. Sandra juga sudah tidak datang lagi ke rumah itu.


Setelah benar-benar pulih, Mika kembali menjalani aktivitas. Ia fokus pada pelajaran yang diberikan oleh guru-guru private yang selalu datang setiap hari. Ferdinand sampai heran, kenapa Mika mendadak menjadi sangat penurut.


Sampai suatu malam, ketikan Ferdinand pulang kerja, ia mengintip kamar Mika. Dilihatnya Mikaela tertidur, dengan kepala di atas meja. Gadis itu ketiduran saat belajar, terlihat dari buku yang beserakan di meja. Ferdinand mengambil buku-buku itu, kemudian membopong tubuh Mikaela. Memindahkannya ke atas ranjang berbalut seprai lembut seperti sutra pilihan.


Saat akan diletakan, lengan Mika malah melingkar erat, membuat Ferdinand tertegun.


"Mika!"


Ferdinand akan melepaskan lengan gadis tersebut, semakin akan dilepaskan, malah semakin erat.


"Mika," bisik Ferdinand.


"Lepaskan, Mika. Om belum mandi," tambah Mikaela.


"Om mandi dulu, lepasin Om." Ferdinand menarik diri, tapi Mika malah menariknya balik. Membuat Ferdinand oleng dan jatuh tepat di atasnya.


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020


Follow yaaa... hehheh