
My Hot Uncle bagian 46
Oleh Sept
Sejak kehamilan Mika mulai bertambah, semakin lama hubungan keduanya semakin hangat. Ferdinand yang sangat dewasa, selalu mengalah, bila Mika mulai merajuk atau sangat manja. Tidak peduli dia baru pulang kerja, jika Mika lelah dan mengeluh kakinya kesemutan, maka pria itu akan memijitnya. Ya, ini mungkin salah satu bentuk tanggung jawab Ferdinand, sebab dialah yang membuat Mika berbada dua.
Mika selalu dihujani banyak cinta oleh suaminya, hingga beberapa bulan kemudian, ketika Mika mendekati hari kelahiran sang buah hati. Ferdinand sudah seminggu ini tidak ngantor. Segala pekerjaan ia bawa ke rumah. Jika butuh tanda tangan, maka Billi akan ke rumah.
Dia benar-benar suami yang siaga, 24 jam non stop menjaga Mika saat kehamilan Mikaela masuk bulan ke sembilan.
***
Minggu pagi, Mika sedang menikmati musik klasik di gazebo belakang rumah. Sambil menikmati gemricik air mancur di kolam ikan yang banyak ikan koinya. Sedangkan Ferdinand, pria itu sedang di ruang kerjanya. Ada beberapa berkas yang harus ia periksa.
Harusnya ia ada agenda pertemuan ke LN. Namun, mengingat hari persalinan semakin dekat, dia memutuskan yang lain untuk mewakili. Rasanya tidak mungkin meninggalkan Mika lama-lama.
Drett dretttt
Ferdinand menatap ponselnya yang menyala, ada pesan WA masuk. Dari siapa lagi kalau bukan dari istri kecilnya.
[Sayang! Sini dong ... jangan pacaran sama berkas mulu]
Bibirnya menggembang mengulas senyum tatkala membaca pesan dari Mikaela. Pria itu kemudian mengetik balasan untuk Mika.
[Iya, tunggu ya. Sebentar lagi]
Ferdinand kemudian mematikan laptop, pria itu juga mengambil selembar selimut tebal dan keluar menghampiri Mika. Rumah yang luas dan besar, membuat Ferdinand harus berputar-putar. Dan setelah tiba di taman belakang, ia langsung mencari di mana bidadarinya yang berbadan dua tersebut.
Ia tersenyum saat melihat Mika yang bersandar sambil memejamkan mata. Pelan-pelan Ferdinand mendekat, kemudian mendekatkan wajahnya.
CUP
Mata Mika seketika terbuka, keduanya saling menatap penuh kasih.
"Di luar dingin, anginnya kenceng. Masuk ya?" kata Ferdinand penuh perhatian sembari menyelimuti tubuh Mika.
"Nggak, enak di sini. Aku bosen di kamar," ucap Mika manja.
"Nanti masuk angin, ayo masuk!"
Tidak mau istri dan calon anaknya masuk angin, pria itu langsung membopong Mika masuk ke dalam. Bibi dan ART yang lain sampai senyum-senyum, melihat betapa romantisnya majikan mereka.
"Idih, aku lihat bibi tadi senyum-senyum!" bisik Mika.
"Ya gak apa-apa."
"Malu, biar aku jalan sendiri. Apa aku gak berat?"
"Berat, sih!"
Mika langsung terkekeh.
Keduanya masuk ke dalam kamar. Kemudian menutup pintu.
KLEK KLEK
"Sayang, kok dikunci."
"Biar gak ada yang ganggu."
"Ish."
"Dokter bilang, kalau mendekati hari lahir, kita harus rajin. Biar jalan bayi lancar."
"Apa sih!" Mika langsung melotot.
"Semalam kan kamunya ketiduran lagi, yuk ... mumpung pengen."
"Sayang! Apa sih! Masih pagi."
Mika yang tadi bisa ketawa-tawa langsung diam. Apalagi Ferdinand tidak bercanda, karena Mika dapat melihat cucumber yang sudah mencuat tersebut.
'Mesyumm sekali suamiku!'
"Mau ya? Kasian ... masa dianggurin."
Mika memalingkan muka, kemudian bibirnya tersenyum. Artine dia juga mau.
Seperti mendapat lampu hijau, Ferdinand langsung menutup semua jendela dan tidak kamar. Waktunya untuk membuat jalan untuk si kecil.
***
Ini akibat rajin menciptakan jalan lahir. Malamnya Mika malah langsung kontraksi.
"Bisa tidak nyetirnya lebih cepat lagi?" protes Ferdinand pada sopir karena mereka tidak sampai di rumah sakit. Mika meringis kesakitan dalam pelukannya, tapi mobil tak kunjung tiba. Perjalanan terasa lama, padahal mereka baru keluar dan masuk jalan besar.
"Baik, Tuan."
WUSHHH
Pak sopir menambah kecepatan, sampai menyalip beberapa kendaraan di depannya.
CHITTT
Mobil berhenti mendadak.
"Hati-hati, Pak!" sentak Ferdinand.
Pria yang jarang marah pada sopirnya itu sedikit emosional. Mungkin juga panik karena melihat Mika yang kesakitan.
"Tahan, Sayang!"
Mika mencengkram lengan suaminya, perutnya terasa sakit dan dia tidak bisa menahannya.
"Sakit banget!" Mika memejamkan mata, menahan sakit yang tidak karuan.
"Tahan ya. Bentar lagi." Ferdinand sudah ketar-ketir. Ia kemudian meminta sopir kembali menambah kecepatan.
"Pak. Lebih cepat!" titahnya lagi.
"Baik Tuan."
***
Rumah Sakit.
Sampai di rumah sakit, Mika langsung ditangani petugas medis. Dan Ferdinand selalu menggenggam tangan istrinya sampai masuk ruang operasi. Sempat lepas sebentar untuk pakai pakaian seperti para petugas medis.
"Tidak bisa normal, Dok?"
Dokter memperlihatkan hasil USG pada Ferdinand. Pinggul sempit, dan ketuban Mika sudah mulai habis. Tidak ingin hal buruk terjadi pada Mika dan calon bayinya, Ferdinand pun setuju dilakukan operasi sesar.
"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk istri saya."
Ferdinand mengusap wajahnya dengan berat, kemudian berdiri di sebelah Mika. Kembali menggenggam tangan Mika, menemani Mika berjuang melahirkan
Mika mulai rileks, ia yang semula merasa kesakitan, perlahan merasa tenang saat bius sudah mulai merasuk.
"Bagaimana? Masih sakit?" bisik Ferdinand sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Mika.
Mika mengerjap, lidahnya keluh. Ia kemudian menggeleng pelan. Mika menatap ke atas, lampu operasi membuat matanya buram. Perlahan, ia benar-benar memejamkan mata. Bersambung.
Fb Sept September
IG Sept_September2020