My Hot Uncle

My Hot Uncle
LOVE



My Hot Uncle bagian 42


Oleh Sept


Setelah kata hamil terucap dari bibir Mika, butuh sepersekian detik bagi Ferdinand untuk menyelami apa yang istri kecilnya itu katakan. Kata hamil yang Mika ucapkan, bagai aliran listrik yang langsung menyenggat hati Ferdinand.


"Aku pulang sekarang," response Ferdinand kemudian yang terkesan lambat. Ya, karena ia butuh berpikir. Mantan perjaka tua itu masih belum yakin dengan apa yang dia dengar. Setahu Ferdinand, Mika sudah teratur minum obat penunda kehamilan. Mana tahu dia, kalau ternyata itu tidak ampuh. Atau jangan-jangan miliknya yang terlalu manjur?


"Aku tutup sekarang, nanti kita bicara lagi."


"Ya."


"Jangan ke mana-mana."


"Ya."


***


Di tempat Ferdinand sekaran, hari sudah gelap. Malam itu juga, ia memutuskan untuk balik ke Indonesia. Meninggalkan Billi, meminta sekretarisnya itu membereskan apa yang tidak bisa ia kerjakan. Rasanya, Mika dan calon penerusnya jauh lebih penting dari pada perjanjian bisnis bernilai besar.


"Saya turun senang mendengar kabar baik itu, Tuan. Barusan Fabiola mengatakan pada saya."


Ferdinand mengangguk, kemudian buru-buru berlari mendekati helicopter yang sudah berputar-putar di atas gedung. Dia akan naik helicopter kemudian menuju tempat landasan pesawat pribadi. Billi sendiri, kini hanya mengantar bosnya sampai atas gedung. Bosnya sudah tidak sabar segera pulang, Ferdinand melakukan cara tercepat agar perjalanan lebih singkat.


Sepanjang perjalanan udara, Ferdinand tidak bisa duduk dengan tenang. Pikirannya sudah terbang ke lain tempat. Membayangkan Mikaela, Mikaela yang sekarang sedang menggandung benih cinta mereka. Sesaat kemudian ia tersadar, bagaimana dengan mental istri kecilnya? Bukankah Mika bilang berkali-kali kalau dia belum siap?


Ferdinand menghela napas panjang, kemudian memejamkan mata dalam-dalam. Berharap Mika akan menerima kehamilan ini dengan sepenuh hatinya. Sebab ini juga yang ia inginkan.


***


Jakarta


"Non Mika mau makan apa? Biar Bibi buatin!"


Mika menggeleng, sejak tadi memang dia mual muntah. Baru makan satu sedok, ia sudah ke kamar kecil. Seperti ada sesuatu yang menggaduk-aduk dalam perutnya.


"Mau Bibi bikinkan jus, Non? Ada alpukat sama mangga?" bujuk ART yang paling lama bekerja di sana.


"Nggak, Bi. Mika capek muntah terus, Mika mau tidur saja."


"Bibi telpon dokter, ya?"


"Bik ... gak usah. Dikit-dikit dokter. Sudah ... Mika mau tidur. Capek semua badan Mika."


"Baik, Non. Apa mau Bibi pijit?"


"Bikkkkk," protes Mikaela. Dia hanya mau rebahan, tidak mau diganggu. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Apalagi sebentar-sebentar ia harus ke kamar mandi. Sudah minum obat pereda mual, tapi malah semakin menjadi. Bibi sampai ikut khawatir.


"Nanti kalau Non Mika butuh apa, tidak usah turun, langsung panggil Bibi saja ya, Non."


"Hemm ... iya."


Mika kemudian menarik selimut, sambil memeluk guling. Sepertinya ia mencari posisi nyaman agar tubuhnya mendingan.


***


Seharian Mika sama sekali tidak keluar kamar, bibi dan ART yang lain beberapa kali memeriksa kamar Mika. Sampai sore hari, Mika belum makan sama sekali. Bibi lantas menelpon seseorang dokter. Dokter pribadi yang biasanya dipanggil ke rumah.


"Bibi kenapa panggil dokter gak nanya Mika!" protes Mika saat dokter sudah pergi. Malam itu, Mika terpaksa diinfus. Karena tubuhnya lemah, makanan tidak mau masuk dalam tubuhnya. Beberapa sendok langsung mual. Tidak mau dibawa ke rumah sakit, Mika pun hanya diinfus di kamarnya.


"Non, cepet sembuh ya ... makan sedikit-sedikit, biar ada tenaga."


"Bibi terpaksa panggil dokter, nanti tuan bisa marah kalau bibi diam saja saat Non Mika gak enak badan," sambung bibi.


Mika lantas menoleh ke jam besar di dinding kamarnya. Wajahnya sendu, mungkin lama menunggu Ferdinand.


"Letakkan sana saja, Bik. Ini udah diinfus," kata Mika kemudinya memalingkan muka.


Ada bibi di depannya, tapi ia merasa kesepian. Ia butuh sosok lain, andai maminya masih hidup, andai papinya tidak meninggal dalam kecelakaan, tiba-tiba memorinya terbang ke masa lalu. Membuat matanya perih, tidak terasa pipinya malah basah.


Hamil muda di usia yang masih belia, membuat jiwanya benar-benar tidak mengerti harus menyikapi semua ini. Apakah harus senang? Atau malah cemas dan gelisah seperti sekarang ini. Mika yang menangis diam-diam, akhirnya tertidur. Sampai bibi menyelimuti tubuhnya pun dia tidak tahu.


Bibi keluar dan menutup pintunya dengan hati-hati, dilihatnya Mika sebelum pintu tertutup sempurna. Ada rasa kasihan melihat Mikaela yang dulu ia layani sejak kecil tersebut.


***


Di ujung fajar, sebuah mobil masuk kediaman pribadi Hartanto. Pak security di rumah itu pun membuka gerbang, kemudian membantu mengeluarkan barang di dalam bagasi. Membawa masuk koper dan tas milik bosnya.


Tap tap tap


Langkahnya cepat, seperti tidak sabar. Namun, kemudian memelan, mepambat ketika sadar ini masih sangat pagi. Bahkan langit pun masih sangat gelap, pasti semua sedang tidur.


Klekkkk


Dengan hati-hati tangannya membuka pintu, ia menghela napas lega saat melihat wanita muda yang ia cintai sedang tidur pulas. Ada tiang infus di sudut ruangan, pasti Mika tadi habis diinfus.


Perlahan ia mendekat, dan sedikit membungkuk saat di tepi ranjang. Di tatapan wajah Mikaela, kemudian menatap perut Mika yang tertutup selimut.


CUP


Satu kecupann mendarat di kening Mika, tapi ia masih tertidur pulas.


'Tidur apa pingsan?'


Tanpa sengaja, matanya menatap ke sebelah. Banyak sisa tisu. Ia pun menghela napas panjang, kemudian bergumam, "Maafin aku ya, Sayang."


Ferdinand kemudian ke kamar mandi, membasuh wajahnya. Lalu ganti pakaian. Setelah itu ia hati-hati naik ke atas ranjang. Mika seperti patung, ia tidak bangun meskipun ada suara-suara di sebelahnya. Hingga lengan Ferdinand menyusup ke pinggang Mika, kemudian mendekap Mika dari belakang.


Barulah Mika merespon, tubuh Mika bergerak. Bumil itu mengerjap kemudian menoleh ke belakang. Baru bagun, baru tahu suaminya pulang, bukannya disambut penuh suka cita, Ferdinand langsung dapat banyak pukulan.


Mika memukuli da da bidang suaminya, sambil memarahi Ferdinand.


"Aku hamil ... bagaimana ini?"


Mika terus saja memukulnya, hingga Ferdinand memegang pergelangan tangan Mika lembut.


"Aku tidak akan minta maaf, aku hanya akan mengucap rasa terima kasih. Terima kasih, karena sudah melengkapi hidupku ... Aku mencintaimu ... selamanya."


Tangan Mika yang tadi masih ingin memukul, perlahan melemas. Kalau Ferdinand sudah mengeluarkan jurus gombal, sudah pasti bumil tersebut auto luluh. Apalagi setelah mengatakan kata-kata manis itu, Ferdinand langsung meraih wajahnya, kecupann singkat yang berubah menjadi moment pelepasan rindu setelah beberapa hari tidak ketemu. Pasangan bucin, baru LDR beberapa hari, tapi sudah tidak mampu menahan rindu.


Dengan lembut, Ferdinand menyesap, dalam dan lama bermain-main di dalam sana. Tidak lupa, tangannya bergerilya. Aneh, Mika dari kemarin mual, tapi tautan ini malah membuatnya fresh. Matanya yang sayu, tiba-tiba langsung membulat sempurna. Mika seperti dapat transferan energy dari suaminya.


Setelah tautan yang meninggalkan rasa kebas tersebut, Ferdinand kemudian menangkup wajah manis Mika yang imut. Menyentuhkan hidung mereka, kemudian kembali membisikkan kata cinta yang membuat pipi Mika merona.


"Thanks for making every miracle possible for me. I am so lucky to have you," bisik Ferdinand lembut kemudian menempelkan bibirnya lagi.


Bersambung


Fb Sept September


IG Sept_September2020