My Hot Uncle

My Hot Uncle
Gelisah



My Hot Uncle bagian 22


Oleh Sept


"Aku masih mau main, kalau aku menikah sama om Ferdinand, aku bisa hamil. No ... Apa kata temenku, lagian aku gak suka anak kecil. Bayangin aja aku ngeri ... ya ampun, kenapa jadi gini. Tapi tunggu, aku kan bisa KB," gumam Mikaela di dalam kamarnya. Ia kemudian tersenyum senang seperti mendapat ide.


"Betul! Aku bisa KB. So ... gak usah takut diajak nikah om."


"Tapi tunggu, bagaimana kalau om minta anak? Astaga!"


Mika terus saja berbicara dengan dirinya sendiri, sesekali memukul kepalanya. Pusing, ingin selamanya bersana Ferdinand, tapi takut hamil dan punya anak. Tidak heran jika pikiran Mika masih naif, polos, dan lugu. Sesuai dengan umurnya, Mika hanya berpikir seperti anak muda kebanyakan.


***


Pukul 7, bibi mengetuk pintu kamar Mikaela. Sejak tadi belum keluar. Bibi memanggil karena disuruh Ferdinand. Waktunya sarapan, tapi keponakannya itu tak kunjung keluar.


"Sepertinya non Mika masih tidur, Tuan."


"Hemm. Ya sudah. Jangan lupa ingatkan dia makan, Bik."


"Baik, Tuan."


Pagi itu, Ferdinand makan seorang diri. Meja yang panjang itu hanya ia sendiri. Karena Mika belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin juga takut pada Ferdinand.


Ya, Mika memang menghindar dari pamannya itu. Entah mengapa, pikiran hamil dan punya anak terngiang-ngiang di kepala gadis tersebut. Pokoknya dia belum siap. Ia pun memilih menghindar dari Ferdinand pagi itu.


Sementara itu, setelah selesai makan, Ferdinand bersiap untuk ke kantor, dengan sopir pribadi, ia berangkat ke kantor. Deru mobil yang terdengar oleh Mikaela, membuat gadis itu keluar balkon dan melihat mobil pamannya yang mulai keluar gerbang.


Gadis itu menghela napas dalam-dalam, kemudian tampak galau. Ingin dekat dengan pria tersebut, tapi takut resikonya. Akhirnya ia hanya bisa diam saja di dalam kamar, sampai bibi memanggil lagi karena Mika harus makan sesuai pesan tuan besar di rumah itu.


"Mika gak lapar, Bibik." Gadis itu cemberut saat bibi membawa makanan ke kamar.


"Makan, Non. Tadi tuan besar telpon. Nanti Bibik yang dimarahi, Non. Makan ya? Sedikit juga tidak apa-apa, asal makan."


"Huuff! Nggak lapar kok dipaksa-paksa sih, Bik!" gerutu Mikaela, karena melihat wajah bibi yang memelas.


Selesai makan, Mika kembali berkutat dengan lembaran soal ujian. Ia sedang uji coba mengerjakan banyak soal. Sampai tidak terasa, senja mulai menyapa dengan langit jingganya.


CHITTTT ...


Suara mobil yang berhenti, suara yang selama ini ia tunggu, yaitu kedatangan Ferdinand, kini membuat Mikaela gelisah. Buru-buru ia mengurung diri. Mika takut hamil.


Di ruang tamu, Ferdinand melihat sekeliling.


"Mika mana, Bik?"


"Ada, Tuan. Di kamar."


"Di kamar aja seharian?"


"Nggak, Tuan. Tadi di sini kok, Tuan datang kok buru-buru masuk."


Keterangan bibi, membuat Ferdinand tersenyum getir. Bibirnya mengulas senyum, kemudian menghampiri kamar Mikaela.


"Ada apa dengan anak ini? Kemarin gencar menggoda, lalu sekarang mengapa dia menghindar. Apa yang membuatnya takut?"


Tok tok tok


"Mika," panggil Ferdinand.


'Aduh!'


"Mika!"


Mikaela mondar-mandir, jalan seperti setrikaan.


"Buka pintunya, kamu sedang apa? Om belum melihatmu sejak pagi!"


'Aduh!'


Mika hanya odah aduh, panik mau ketemu sama omnya. Yang biasanya ia rindukan, mendadak jadi menakutkan.


Tok tok tok


Karena terus diketuk, Mika pun membukanya.


KLEK


"Lagi apa?"


"Lagi belajar," jawab Mika kemudian menoleh ke belakang. Di mana di atas ranjang banyak buku yang tersebar.


"Oh, bagus. Ya sudah, lanjutkan. Om juga mau mandi dulu."


"Ya, Om."


"Habis itu, ke meja makan ya. Kita makan bareng."


Mika menelan ludah, mau menolakknya tapi bingung alasannya apa.


"Ya, Om." Lidahnya yang keluh, hanya bisa mengangguk.


***


"Ayo, makan yang banyak. Tuh ... perut kamu krempeng kaya gizi burukk," canda Ferdinand.


Dalam bayangan Mikaela, perutnya mendadak besar karena hamil. Ia kemudian menggeleng keras.


"Mika!"


Gadis itu mendongak, menatap pamannya.


"Ya, Om."


"Mikir apa kamu? Gak usah diet, makan yang banyak. Semakin gemuk, semakin bagus!"


Mikaela langsung lemas.


***


Selesai makan, Mika buru-buru ke kamarnya.


"Kok buru-buru sekali?"


"Itu ... ada banyak soal yang masih harus Mika kerjaan, Om."


"Jangan terlalu bekerja keras, otak juga butuh istirahat. Sini, sama Om. Kita lama gak nonton theaters di rumah.


Mika semakin bergidik, jika mereka nonton di rumah, biasanya Mika gelendotan dan rebahan di pangkuan Ferdinand. Mendadak ia panik sendiri.


"Gak, Om. Mika mau belajar saja. Waktunya mepet, kan bentar lagi tesnya."


"Oh, ya sudah. Yang rajin ya, biar cepet lulus."


'Lulus terus nikah, terus hamil? NO!' batin Mika langsung berbalik.


"Mika duluan, Om." Mika pun langsung nyelonong saja ke kamarnya.


Saat Mika pergi, Ferdinand melamun.


"Mika kenapa ya? Aneh banget." Tidak mau ambil pusing, Ferdinand pun fokus pada masalah yang jauh lebih penting.


***


Hari ujian masuk perguruan tinggi.


Di sebuah ruangan, dengan banyak orang dari banyak kalangan masyarakat, Mikaela duduk di antara mereka, fokus mengerjakan soal-soal milikinya.


Hingga ujian selesai, ia menunggu dijemput sopir pribadi. Saat mobil berhenti, Mika langsung membuka pintu belakang. Ia sudah duduk tapi tiba-tiba sebuah suara membuatnya terhenyak.


"Pindah, Mika. Pindah ke depan."


"Loh, Om?"


Ferdinand tersenyum.


"Bagaimana ujiannya."


"Lumayan."


Mika kemudian pindah ke depan.


"Kita nonton ya, Om lama gak nonton."


Mika melirik, semakin Ferdinand banyak waktu, dan perhatian, Mika jadi semakin takut.


"Gak, Om. Mika mau belajar di rumah."


Mobil yang baru melaju beberapa meter itu langsung berhenti.


"Kamu menghindar dari Om, ya?"


"Om ngomong apa, sih?"


"Om rasa kamu mulai jaga jarak setelah kejadian pagi buta itu."


Mika menepis, ia menggeleng keras.


"Perasaan, Om saja!" ucap Mika canggung.


"Benarkah?" tanya Ferdinand sambil memajukan tubuhnya ke arah Mikaela. Membuat jantung Mika kembang kempis.


Wajah Ferdinand yang condong ke arahnya, membuat Mika memalingkan muka. Sembari menahan napas tentunya.


Sementara itu, Ferdinand malah menikmati kegugupan sang ponakan. Biasanya ia yang dikerjain Mika, sekarang gantian.


"Mikir apa kamu, Mika?" bisik Ferdinand sangat lirih. Hembusan napasnya yang hangat sampai terasa ke pipi Mikaela.


"Om! Pliss!" desis Mikaela yang gelisah.


BERSAMBUNG