
My Hot Uncle bagian 41
Oleh Sept
Mika terduduk di closest yang tertutup, tangannya memegang benda pipih panjang yang tadi diberikan oleh Fabiola, kekasih Billi, sekretaris Ferdinand. Raut wajah Mikaela terlihat gelisah saat menunggu hasil dari alat yang sesaat lalu ia celup ke dalam cairan warna kuning tersebut.
'Bagaimana kalau hasilnya positive?' batin Mika yang takut-takut melihat alat di tangannya.
Ia menarik napas panjang, kemudian matanya menatap alat itu dalam-dalam. Jantungnya berdegup semakin cepat, sampai ia mengerjap dan menatap dengan saksama.
"Mamiii!" gumamnya kemudian berdiri lalu meletakkan alat itu di meja dekat kaca besar di depannya.
Mika melirik alat itu, kemudian menatap wajahnya sendiri.
"Mami ini gak mungkin ... Mika bahkan belum 20 tahun!"
Mika seolah bicara pada mendiang ibunya, terlihat sekali kalau ia separuh ketakutan, terkejut dan panik. Ia kemudian mondar-mandir di dalam kamar mandi, sampai akhirnya sebuah suara ketukan pintu membuatnya menatap sumber suara.
"Mika? Apa kamu baik-baik saja?"
Fabiola juga berdiri di depan pintu kamar mandi, karena Mika belum keluar sejak beberapa saat lalu.
Tok tok tok
Mika menyalakan kran, membasuh wajahnya. Kemudian mengusap dengan berat. Seperti menahan sesuatu yang teramat berat.
KLEK
Mika muncul, dilihatnya Fabiola berdiri menatapnya.
"Bagaimana?" tanya Fabiola.
Mika yang terlihat lemas, langsung memeluk Fabiola. Meskipun hanya seorang kekasih dari sekretaris suaminya, nyatanya Mika merasa Fabiola seperti teman juga kakak. Karena sikapnya yang baik selama ini. Meskipun jarang bertemu, tapi kalau ketemu biasanya Fabiola bersikap hangat. Mika yang kurang kasih sayang keluarga pun, merasa nyaman. Seperti sekarang, ia pelik pacar Billi sambil menangis.
***
Mika sudah terbaring lagi di atas ranjangnya yang empuk dan besar, sesaat lalu mual muntahnya mulai bertambah. Matanya juga sembab, hampir setengah jam ia bicara dari hati ke hati dengan Fabiola. Mengatakan apa yang ia rasakan, menangis, mengatakan ia belum siap.
Akan tetapi, seperti menemukan sosok kakak. Ia mulai tenang ketika mendengar apa yang Fabiola katakan.
Flashback On
Mika menangis sambil memeluk Fabiola.
"Apa hasilnya positive?"
Dalam tangisnya, Mikaela mengangguk.
"Bagaimana ini? Aku belum siap," ucap Mikaela dengan suara serak.
Fabiola kemudian mengusap punggung Mika, lalu menenangkan wanita muda yang baru saja tahu bahwa dalam tubuhnya ada mahluk lain.
"Tapi kami sudah sepakat menunda beberapa tahun lagi!" sela Mika sambil melepaskan diri lalu mengusap pipinya.
Fabiola tersenyum.
"Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Aku justru iri padamu. Kau tahu? Sampai sekarang Billi belum juga melamar? Padahal aku juga ingin menikah, memiliki keluarga, memiliki buah hati yang mengemaskan. Itu impian semua wanita, Mika."
Mika menggeleng.
"Itu mungkin impian kalian, tapi aku merasa aku belum siap!" sela Mika lagi. Hormon kehamilan membuatnya tambah labil. Apalagi tidak ada suaminya di samping Mika, membuatnya galau.
"Tenanglah ... aku tahu kamu masih shock, masih sangat kaget. Jadi istirahatlah, pikirkan lagi, apa yang membuatmu bahagia ... kebahagian apa yang selama ini kamu cari ... pikirkan dalam-dalam, sebab aku yakin, meskipun kamu belum siap, kamu harus menerima kehamilan ini. Janin sudah tumbuh, itu buah dari cinta kalian berdua. Bukankah begitu?"
Mika langsung diam, ia kemudian menatap poto Ferdinand saat memeluknya. Di sana terlihat raut wajah Ferdinand yang tersenyum tanpa beban. Kemudi ia melirik perutnya, Mika wanita muda. Ia mungkin butuh waktu untuk menerima kondisi terbarunya saat ini.
Flashback END
Setelah curhat dengan Fabiola, Mika yang semula terbaring kini bersandar di sandaran ranjangnya yang besar dan kokoh. Di sana sudah pukul 9 pagi, dan di tempat Ferdinand masih jam 9 malam.
Fabiola menyambungkan keduanya lewat panggilan video. Ia belum cerita pada siapa pun, membiarkan Mika sendiri mengatakan pada Ferdinand. Lalu ia pamit pulang karena harus bekerja juga. Sambil berpesan pada bibi, agar mengawasi Mikaela.
Di dalam kamarnya, Mika kini sedang bicara pada Ferdinand.
"Kenapa matamu sembab? Apa yang terjadi? Tunggu ya, masih ada hal yang harus aku urus. Aku masih belum bisa pulang," kata Ferdinand dengan nada menyesal.
Mika mencoba terlihat baik-baik saja. Namun, ketika melihat wajah Ferdinand dan juga mendengar suaranya, matanya kembali perih.
"Mika ... jangan telat makan ya. Fabiola tidak mengatakan apapun, di bilang ada yang ingin kamu katakan, ada apa? Kenapa tidak mau ke rumah sakit?"
'Kenapa aku harus ke rumah sakit ketika tahu kalau aku hamil? Aku gak sakit, aku hanya hamil!' batin Mika menatap laptop.
"Sayang, kenapa diam saya? Apanya yang sakit? Apa nyeri datang bulan?" tanya Ferdinand menebak-nebak.
"Mika ... Mika ... sayang!" panggil Ferdinand yang cemas karena Mika malah mengusap pipinya.
SROTTTT
Mika menyusut hidung, kemudian mengambil tisu. Setelah selesai mengusap matanya dengan tisu, Mika kemudian mulai bicara pada Ferdinand. Seperti ada biji kedondong yang tersangkut di tenggorokan. Mika sulit mengatakan kondisinya saat ini. Hingga akhirnya sebuah pengakuan terucap dari bibirnya.
"Aku hamil!"
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Btw, matur suwun yang sudah ngucapin dan doain Sept ya. Semoga Allah balas doa-doa kalian. Yukk, makan-makan ... daring tapi ya. Makan di rumah masing-masing. Hehehe ...