My Childish

My Childish
Ulah Rival



"Udah Mel, Caramel gapapako." celetuk Caramel memegang bahu Melda.


"Lo emang gapapa Caramel, tapi gue yang nggak apa-apa. Gue nggak akan terima kalau sahabat gue digituin sama dia!" sungut Melda tegas.


'Melda. Cantik juga ni cewek, tapi sayang galak', batin Jery berkata sembari melihat sekilas name tag cewek di hadapannya.


"Apa lu, lihat-lihat!" serkas Melda memasang tampang tegas dan pemberani, seperti cewek tomboy pada umumnya.


"Dih, ni cewek GR banget dah. Sapa lihatin lo?"


"Ngomong lagi, gue sumpel mulut lo ya" sengit Melda mengepalkan tangannya dan menatap tajam lawan bicaranya itu. Melda mendekat kepada pemuda di hadapannya, sehingga membuat jarak antara keduanya dekat hanya beberapa senti membuat Jery kembali menelan salivanya menikmati wajah Melda.


"Sekalilagi lo sakit Cara atau pun teman-teman gue yang lain" Melda mengangkat tangannya yang mengepal sedari tadi. "Lo tahu ini apa?, jangan salahkan gue, kalau pulang nanti lo tinggal nama!" imbuhnya dibumbui ancam membuat Jery semakin kicep melihat sisi lain Melda. Dia tidak tahu aja, itu hanya sebuah ancaman belaka, mana ada Melda yang aslinya humble, dan friendly bisa melakukan itu.


"Camkan itu" bisik Melda menyeringai lalu cewek itu menarik Caramel, dan berlalu membawa makan nya menuju kelas, untung saja hari ini ada waktu jam kosong pelajaran.


Jery melihat Dave yang terus mendelik tajam kepada nya seketika menunduk, merasa bersalah meski ini bukan salahnya.


"Maaf Dave, tadi pasti dia yang fitnah gue"


"Siapa yang fitnah lo"


"Sen sen" jawab Jery cepat dan ngasal lalu terkekeh setelah mengucapkan kata sen, pikirannya melayang kepada atap kumuh yang pernah di lihatnya..


Rahang Dave mulai mengeras setelah dua kali mendengar nama itu, nama yang paling ia benci. SENA, Sena adalah rival abadinya. Cowok itu mengedarkan pandangannya, pandangannya tidak sengaja bertemu dengan Sena yang kini tersenyum menyeringai dari kejauhan, mengamati huru-hara tadi.


"Eh eh lo mau kemana Dave?"


"Berisik kalian berdua" ketus Dave sambil terus nelangkahkan kakinya menghampiri Sena.


"Dave Dave tahan emosi lo, ini di sekolah. Lo istighfar, jaga emosi lo, dia gitu hanya ingin menjatuhkan image lo doang di sekolah ini" Nasehat Ehsan menenangkan Dave.


"Astaghfirullah al-adzim" gumamnya sembari mengeluskan dadanya sabar jangan sampai dalam sekolah emosinya dapat meledak, bisa-bisa papa Felix marah lagi ke dia kalau sampai Dave di panggil ke ruang BK.


"Kenapa lo nggak bales, bales dong Dave, masa lo tega denger sepupu lo di fitnah kalu gue minta ukuran C-. Ah gitulah!" sungut Jery dengan air muka penasaran melihat muka Ehsan dan sepupu nya itu.


"Sttttt.. Lo bisa diem nggak, cerewet banget sih jadi cewek"


"Hey, Ehsanio Anreansyah gue cowok" cibir Jery dengan memanjangkan nama bestie nya itu.


"Ya gampang sih, kalau lo mau, bisa kok lo jadi bencong supaya berkurang satu playboy karatan kayak lo" Ehsan langsung lari sebelum Jery mengamok, sementara Dave tertawa kecil melihat tingkah lucu keduanya, sungguh ini sedikit mereda emosinya.


"Sialan lo, emang temen durjanah lo. Woy tungguin" umpat Jery mengejar Ehsan.


*****


"Hahaha, gue ngakak banget lihat air mukanya itu lo Car" tawa Melda seraya membayangkan betapa kicep nya Jery tadi.


Sementara Caramel menaruh jari telunjuk nya di dagu, kayaknya perempuan itu sedang memikirkan sesuatu. "Maksud lo tadi, lo mau bunuh dia?" tanya Caramel polos seraya memasang wajah penasaran akan apa jawaban Melda.


"Adehh..ini lagi, gue tahu lo polos, tapi lo jangan terlalu bego napa" gerutu Meldan.


"Bego itu apa?"


"Udah-udah gue nggak mau lo bertanya lagi, lebih baik kita makan lagi, mumpung mie ayam gue masih anget" pungkasnya lalu menghampiri makanan nya dan makanan Caramel lalu keluar membawa makanan itu menuju taman, sedangkan Caramel hanya bisa mengikuti Melda di belakang dengan heran.


......................