My Childish

My Childish
Acrophobia



"Kamu tadi kenapa? Kok banyak ngelamun?" tanya Dave setelah duduk ditempat yang terbuat dari batang pohon, belakang tenda menatap bintang-bintang yang kerlap-kerlip di atas sana..


"Gapapa," Dave yang peka akan kata-kata yang dibilang perempuan, mengerti kata 'Gapapa', itu berarti Caramel tidak mau mengatakannya, tapi tak apa Dave tidak ingin memaksa kalau memang Caramel bilang tidak apaapa!


"Yaudah Mel kita balik ke tenda yuk, istirahat. Di sini dingin nanti kamu masuk angin." Caramel setuju, dia segera beranjak dari duduk nya dan Dave menuntun kekasihnya.


Belum terlalu malam sih, tapi benar kata pemuda itu disini sangat dingin cuaca.


Keesokan paginya, semua siswa sudah bangun dan lagi bersantai depan tenda masing masing sambil menyantap pop mie sebelum mereka berangkat ke tempat selanjutnya yaitu kandang sapi apa yang di katakan di malam hari oleh pak Bayu.


"Guys beraksi!" kata Novi menginstruksi teman- temannya untuk mengerjai Caramel.


Jessica menggeleng kepalannya tidak setuju, "Gua gak ikut!"


"Gue sama Lala aja bisa" sinis Novita. Dia segera menarik Lala menemui Caramel di tendanya.


'Gue harus ikutin mereka '


Sementara Novita menghampiri Caramel dan Melda yang duduk diatas rumput.


"Caramel?" sapa Lala.


Kedua gadis itu mendonggak dengan Melda menaikan dagunya seakan bertanya apa?


"Gue juga ada disini kali, kok cuma Caramel disapa"


"Lo juga maksudnya, kalian kan sepaket" ujar Lala lalu gadis itu beralih menatap Caramel, "Mel temenin gue ke toilet yuk?"


"Mau ngapain?" tanya Melda sedikit curiga karena sedari tadi dia diam- diam memperhatikan gerak gerik Novita dan Lala.


"Bukan hajat lah, lo kira apaan?"


"Maksud gue ngapain lo ngajakin teman gue sementara temen lo ada, tuh Novi minta tolong ke dia aja."


"Mel, lo bawakan kotak obat? Pinjem dong tadi ada anak yang kepeleset terus kakinya keseleo deh, gue sebagai anggota PMR mau ngobatin!" pinta Novi kepada Caramel dengan senyum termanis dan Caramel segera meraih tasnya di punggung lalu memberikan pada Novi.


"Dengerkan?" sebuah pertanyaan tapi pada kenyataan Melda mendengar dengan jelas.


"Alesan aja!" gumam Melda geram. "Jangan, lo jangan ikutin Lala. Gue ada firasat buruk ke mereka." bisik nya.


"Jangan suudzon Melda!" balas Caramel


"Gimana? Gue kebelet nih, cepetan napa Mel!"


"Yaudeh aku temanin,"


"Jangan Caramel!"


"Tuh dengerin apa kata Caramel!"


"Yaudah Mel tapi kamu hati-hati ya!"


"Iya, aku pasti baik-baik aja kok."


Masih terlalu pagi sesekali di dalam hutan Caramel mendengar suara kicauan burung-burung yang berterbangan diudara, terlihat seram namun Caramel menahan diri untuk melarikan diri meninggalkan Lala yang notabenya lebih tua darinya alias kakel, dirinya merasa tidak enak.


Tadi dia tidak sempat untuk mandi, tubuh Caramel terasa hangat jadi gadis tersebut tidak memandikan tubuhnya hanya dia bersih-bersih saja, lagipula untuk apa mandi kalau pada akhirnya dia malah bersenang-senang di kandang sapi? Ya Caramel suka bermain-main terlebih bermain bersama hewan.


Dari dulu Caramel sering mengunjungi kebun binatang bersama kedua orangtuanya dan Mike di kampung terlebih lagi sawah-sawah terdapat manusia bentukan patung penjaga padi dan terdapat juga hewan hewan berkaki empat, hari itu Caramel sangat senang.


"Ini dimana kak?"


"Tengah hutan ada wc temenin gua, gue takut kalo sendiri" Caramel mengangguk pelan sembari memegang tengkuknya.


Akhirnya mereka sudah sampai tanjakan tengah hutan, Lala meminta Caramel menunggunya sambil menduduki batang kayu yang terdapat disana, Caramel menurut.


Klik!


"Eh… Huh untung nggak jatoh."


Krek, krek, krek...


"Suara apa itu?"


Tak berapa lama muncullah seekor babi hutan dengan mata ekor menajam membuat Caramel kelimbungan. Langsung saja Caramel berdiri dan segera melindungi diri dari binatang buas tersebut.


"Jangan mendekat." Satu tangan Caramel terangkat mengisyaratkan ketakutannya, dia memundurkan kakinya perlahan. Keringat dingin sudah membasahi pelipis serta tubuhnya yang bergetar.


Caramel terus memundurkan dirinya ketika babi tersebut lagi dan lagi mendekatinya sampai mengenai jurang, gadis itu melihat ke arah belakang bergidik ngeri jangan sampe dia jatuh, batinnya.


Lala mana lagi? Caramel sudah tak tahan lagi. Apa cewek itu sedang bersembunyi karena takut juga? Atau Lala lupa dengan Caramel, pikir Caramel mendesah ketakutan.


'Yaallah tolongin Caramel, Caramel gak mau jatuh kesana, Caramel takut. Mana jurangnya dalem banget lagi, ammpuni hamba yaallah kalo Caramel punya salah. Tolong Caramel! ' Caramel membatin meminta pertolongan 'Caramel gak mau jatuh, Caramel masih mau hidup, Caramel takut tinggi. Tolong… tolong!! ' Jerit Caramel.


"Aaaaaaaaaaaaa.........." kini tubuh mungil Caramel hampir mendarat jatuh beruntung ada tangan dengan sengaja menolongnya.


"Caramel"


"Kak Jessi"


"Pegangan Mel" Caramel mengangguk dia pun mereratkan pegangannya pada kedua tangan Jessica.


...******...