
Dave menepikan karena cuaca siang ini mendung mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Keduanya memasuki sebuah Cafe depan untuk meneduh sekalian memesan makan dan minum cokelat panas.
"Kak, dingin" ujar Caramel manja dan segera Dave melepas jaketnya dan memakaikannya di pundak Caramel.
Inilah perlakuan sederhana tapi berkesan yang dilakukan Dave membuat Caramel ingin terus berada di samping Dave dan terus bermanja - manja dengan pemuda itu.
"Silahkan Mbak, Mas" Seorang pelayan membawa nampan meletakkan pancake di atas meja. Caramel yang baru datang dari toilet begitu terkejut melihat cake kesukaannya diatas meja mereka.
"Pancake?" sambut Caramel bergumam membuat Dave mendonggak dari ponselnya.
"Mel" Dave berdiri menghampirinya, menuntun Caramel duduk.
"Kak"
"Ini cake kesukaan kamu kan"
Caramel hanya mengangguk dan kemudian menunduk. Tak lama kemudian cairan bening pun lolos di pelupuk matanya.
"Loh, loh, kok nangis?"
"Kakak tau darimana ini kesukaan Caramel?"
"Apasih yang nggak aku tahu tentang kamu, ya aku cari taulah ke kak Mike. Gimana suka nggak?"
"Suka. Dulu Caramel juga pernah belajar dari kecil cara membuat pancake sama ibu" sesekali Caramel menghapus air natanya namun mengigat kenangan masa lalu bersama keluarga lengkap menjadi bertambah sesak dan hujan pun sampai mendukung, terbukti hujan bertambah kencang di luar sana.
Terlebih dahulu Caramel mengambil nafas se dalam - dalamnya. "Buat butter milk mengaduk, susu dengan air lemon, lalu diamkan selama 10 menit" gumaman Caramel. Dave mendengar gumaman lirih itu meski hampir tak terdengar merasakan juga apa yang di rasa oleh gadisnya. "Campurkan tepung, gula, vanilla, baking powder, baking soda, garam, dan aduk rata. Ambil teflon dan panaskan dengan api sedang, lalu tuang panekuk menggunakan sendok sayur ke dalam teflon dan setelah berongga balik adonan dan angkat. Pancake teflon sudah siap di sajikan." ucapnya panjang lebar dengan senyum lebar cerah merekah sehingga membentuk bulan sabit.
"Maaf, kamu jadi ingat lagi tentang mereka" seduh Dave tunduk merasa bersalah.
"Aku salah mengigat mereka kak?" tanya Caramel sedikit bergetar.
"Tidak, kamu nggak salah. Maksud aku bukan begitu Caramel--" Jawabnya cepat walaupun terpotong oleh Caramel.
Setelah hujan reda, motor Dave melaju bukan mengarah ke rumah Caramel melainkan ke arah apart. Disana sudah ada Diva dan Ehsan sudah menunggu keduanya.
"Loh kok kita kesini? Bukannya pulang, ini juga ada kak Ehsan, ada apa?"
"Yuk aku anter kamu keatas"
"Kemana?"
"Keatas unit apartemen aku"
"Mau ngapain kak?"
"Kamu perlu ganti baju"
"Ah?"
"Jangan mikir macam-macam deh. Aku udah diizinin sama kak Rara dan juga kak Mike, bahkan kak Mike udah bawain kamu baju kesini"
"Hah"
"Kak ayuk, Diva juga temenin" Mereka bertiga segera memasuki tangga lift menuju unit apart Dave. Sementara Ehsan menduduki kursi lobby.
"Kita mau kemana sih?"
"Kakak nggak ingat hari ini tanggal berapa?" sahut Diva sedikit kecewa.
"Hari ini jum-- Astagfirullah Caramel baru ingat ini hari ulang tahun kamu?" Oalah Caramel baru ingat minggu depan di mana Diva bertambah umur.
Diva hanya tersenyum menanggapi ucapan polos Caramel itu.
...****...