My Childish

My Childish
Perkara Es Krim



"Kakak mau Caramel makin tertutup sama fans-fans kakak diluaran sana?" Lirih Caramel dengan suara bergetar dan cewek itu memaikan jari-jari lentiknya.


"Bukan gitu Mel, dengerin aku mau sebanyak apapun gadis-gadis yang mengejar aku diluaran. Tapi kamu harus percaya hanya kamu satu-satunya gadis yang terukir di hati aku!"


Itukan Caramel jadi salah tingkah. Caramel memalingkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya menahan senyum.


'Ya tuhan, kenapa sih Caramel dikasih pacar se-tampan dan se-romantis kak Dave, kan jadi melting kan jadinya.'


"Apaansih narsis banget jadi orang!" Caramel menyingkirkan jari jemarinya ditangan kekar cowok itu. "Udah ah Caramel mau kekamar mandi. Kakak pulang aja!" imbuhnya ketus diapun melepaskan pelukan mereka bersiap untuk turun. Namun, sebelum beranjak Dave kembali menarik sampai mereka hanya berjarak beberapa centi.


"Kamu ngusir aku?"


"Ya lebih baik kakak pergi aja, daripada aku macam-macamin,"


"Emang kamu apain aku?" tanya Dave menaik turunkan alisnya.


"Aku一Aku ubah kakak jadi SpongeBob biar aku jadiin penggosok cuci piring. PUAS!" Setelah itu Caramel cepat-cepat beranjak lalu berlari menutup rapat-rapat pintu kamar mandi.


"Kok jadiin penggosok harusnya disayang- sayang dong," gerutu Dave tapi tetap Caramel masih mendengarnya.


"GUA CABIK-CABIK LU!"


Bukannya cepat-cepat keluar Dave malah tertawa terbahak-bahak. Inilah yang membuat Dave jatuh cinta kepada Caramel tingkah lucunya dan tentu saja Caramel beda dari perempuan yang pernah dia temui. Dulu gadis itu memiliki kehidupan serba kekurangan, beda dengan dirinya yang serba berkecukupan.


Perasaan sayang Dave lebih besar kepada Caramel dari apapun di dunia ini, bahkan kalau boleh memilih laki-laki itu lebih pilih menyayangi Caramel melebihi orangtua nya sendiri, anggap saja Dave adalah anak durhaka. Namun terlepas itu Dave tidak ingin menjadi umat beragama islam yang bodoh, tuhan telah menciptakannya menjadi umat yang beriman dan penyayang.


Tok, tok, tok


Cklek


"Loh, Cara mana?" Mike mengedarkan pandangannya disudut kamar adiknya.


Dalam kamar kecil Caramel memegang dadanya yang masih disko dan jingkrak-jingkrak tidak jelas. Gadis tersebut segera membuka krang air untuk membasuh wajahnya, dia menatap dirinya lewat pantulan cermin, dia menyentuh muka nya lalu menyunggingkan senyum malu-malu Caramel. Entah kenapa belakangan ini Dave selalu suka menimbulkan semburat merah merona dipipi bahkan diseluruh wajahnya.


Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Caramel berjalan sembari menggigit bibir bawahnya dia menatap kedua pria dihadapannya bergantian.


"Kenapa kak?"


"Kakak pergi dulu ya? Soalnya bentar lagi ada acara teman kakak jadi kakak dan kak Rara harus pergi. Nggakpapa kan?"


"Yaudah pergi aja."


"Bang, diluar ada mbak Lastri kan?"


Dave manggut-manggut, Dave hanya ingin memastikan bahwa bukan hanya mereka berdua di rumah sebesar ini.


Setelah Mike kembali ke dalam kamarnya pemuda itu menatap gadis disampingnya dengan tajam. "Kenapa? Mau ngusir lagi?"


"Nggak, tapi pengen cakar. Ngeselin banget." umpatnya melangkah keluar menghentakkan kakinya, menuruni tangga menuju dapur.


Dave mengekori Caramel dibelakang sebisa mungkin dia melangkah kesamping dan menggandeng tangan Caramel bermaksud memberhentikan langkahnya, namun gadis itu terlalu sensitif sehingga mudah kesal.


Bagaimana tidak kesal kalau setiap ada Caramel Dave pasti menyusulnya, setiap hari membuatnya posesif, setiap hari membuat jantungnya disko, setiap hari membuat pipinya merah merona.


Sesampai depan kulkas dua pintu Caramel langsung membukanya dan mengambil susu soya yang di beli Dave tadi, tapi setelah dia membuka freezer dalam kulkas gadis itu mendapati satu cup Es krim stoberi kesukaannya.


Lantas Caramel ngiler dan mengusap mulutnya dengan tangan. Lalu tangan mungilnya itu bergerak ingin mengambil Es krim itu namun kalah cepat dengan Dave yang berhasil mengambilnya.


"Ngapain kamu?"


"Ihhh, kakak kok Es krim Cara diambil sih?"


"Kamu tuh baru sembuh dari sakit, mendingan istirahat aja ya?"


"Nggak! Cara gak mau istirahat. Apaansih kak siniin es krim ku," rengek Caramel mencoba meraih es krim diatas udara.


"Lo itu terlalu pendek Caramel, nggak bakal bisa, sayang!" ucap Dave namun yang lebih intinya mengejek Caramel, benar gadis itu hanya sebatas pundaknya saja.


"Iks biarin asalkan gue bisa dapetin. Turunin gak?"


"Nggak bisa!" tegas Dave nyengir kuda menunjukkan deretan gigi rapinya itu namun terlihat menyebalkan bagi Caramel.


"Ikh, siapa lo ngatur-ngatur gue?" ucapnya galak. Dengan tajam Caramel mengatakan itu tanpa beban. Caramel sewaktu-waktu juga bisa kejam, dan melupakan sikap lemahnya itu.


"Pacar! Sayang一" Belum sempat Dave melanjutkan perkataannya gadis itu sudah melenggang pergi menaiki tangga dengan menggerutu dan mengutuk Dave dengan umpatan pedasnya.


"Sayang, lagian juga kalo datang bulan nggak boleh minum bersoda atau ber es gini." pungkas Dave dan berhasil memberhentikan langkah Caramel, gadis itu berbalik.


'Benar juga apa kata kak Dave.' batin Caramel menghela nafas lalu dengan merasa bersalah dirinya menghampiri Dave.


"Aku lupa hehe..."


"Kebiasaan!" Ia menyentil dahi Caramel gemas kemudian sepasang kekasih itupun menuju kamar dengan bergandengan tangan.


...****...