
"Tolong pindahin situ ya" ucap Mikael. Mikael Alexander seorang CEO muda di perusahaan salah satu bidang Development di jakarta tepatnya Software House Company .
Kini ia dan Caramel pindah dari sebuah pedesaan ke jakarta dengan alasan sang kakak ingin mengurus perusahaan yang berada dikota setelah sekian lamanya di urus dengan asisten Mikael. Walaupun sebenarnya dia ingin adiknya melupakan kejadian lima tahun silam.
"Iya kak,"
Mikael beralih menatap Caramel yang menduduki sofa, menatap lurus dan kosong, dia menghampiri sang adik.
Caramel Alexandra. Gadis berusia 8 tahun, Adalah anak yang ceria, dan penuh kebahagian, itu dulu, disaat orang tuanya masih bersamanya dan kakak.
"Udah, kamu tenang aja, kita bakal hidup bahagia disini"
"Kenapa sih kak, kita harus pindah?,"
"Bukan gitu sayang, tapi kamu dan kakak harus tinggal disini. 'Kan kakak udah bilang kakak mau urusin perusahaan pusat Almahrum ayah dikota" jelas Mikael, mengigat wasiat ayahnya 5 tahun yang lalu saat ayah dan ibu mereka masih hidup.
Caramel mengalihkan pandangnya kearah pria itu, terlihat menitikkan air mata. Diapun juga ikut hanyut dalam kesedihan mengigat orang tuanya begitu menyayangi mereka.
Tangan gadis itu terulur, menghapus air mata kakaknya, seraya berkata.
"Kakak jangan sedih, Caramel bakal selalu ada buat kakak" ucapnya dalam isakan tangis yang terdengar memilukan. Dan ia menghapus benih cair yang terpampang di pipi mulusnya, mencoba untuk senyum. "Caramel sayang sama kakak" Katanya, memeluk Mikael.
"Kakak juga sayang sama kamu Mel," balas Mikael memeluk adiknya dengan sayang.
...Flash back on...
...5 tahun yang lalu...
"Ayah, ibu kalian mau kemana?" tanyanya serak khas bangun tidur Caramel sembari menuruni tangga.
"Ibu ikut ayah keluar negri nak"
Caramel mengeryit "Apa itu lual negli?" tanya Caramel polos.
"Luar negri, kota yang sangat jauh…disana itu ada berbagai musim dan pemandangannya juga cantik secantik wajah Caramel. Kita bisa kesana lewat pesawat, Jadi ibu dan ayah mau berangkat bandara karena disana tempat pesawatnya" ucap ayah namun jelas, dan mencubit kecil hidung anaknya.
"Wah, kayaknya selu tuh. Calamel itut ya" ucapnya senang.
"Enggak boleh, kamu disini aja sama kakakmu" Sahut ibu.
"Ko gitu, 'kan Cala juga itut. Pokoknya Cala itut" bujuk Cara kecil dengan suara cedel.
"Cara, Cara anak mandiri ga?" tanya Mikael.
"Mandili,"
"Nah Cara mandiri, kalau Caramel 'kan anak yang strong kuat. jadi biarin ya ayah dan ibu kerja, Caramel sama kakak aja disini. Nanti kakak kesepian dong, ga ada yang cerewet, ga ada yang cubit kakak kalau kakak salah. Mau ya sama kakak ya ya" seru Mikael membujuk.
"Yaudah deh, Cala sama kakak aja" Dia langsung mendarat di pelukan Mikael yang ikut berjongkok depannya.
"Gitu dong," ujar Mikael memeluk kepala Caramel.
Ayah dan Ibu akhirnya tersenyum lega, untung Mikael menghampiri mereka. Kalau tidak ada pria itu mereka pasti susah membujuk anak kecil itu.
***
"Mik, Lo udah denger ga soal berita kecelakaan pesawat itu," ucap Rasya sahabat Mikael sekaligus teman kelasnya dan sebangkunya. Sekarang mereka berdua duduk dibangku kantin, Mikael memperhatikan Rasya mengajaknya mengobrol sembari memakan kentang gorengnya.
"Pesawat?"
"Iya. Pesawat yang menuju ke Australia itu" sahut Rasya. Rasya adalah anak yang tertutup, dia selalu ada untuk Mikael tapi tidak mengetahui soal orang tuanya yang sedang berpergian.
"Australia" gumamnya kaget. Seketika tubuh Mikael menegang pikirnya berkecabuk mengigat beberapa jam lalu, orang tuanya izin melakukan perjalanan ke negari itu.
...........