My Childish

My Childish
Gadis Manja



BRAK.....


"Ayah, Ibu." gumamannya. Caramel memegang dadanya yang terasa sesak, entah kenapa anak kecil itu tiba-tiba memikirkan orang tuanya.


"Aduh.. Non, non Caramel gapapa?" tanya ART mengendong Caramel dan dijawab menganggukan kepala bocah itu.


"Mbak, ayah ibu" lirih Caramel mata sudah berkaca-kaca.


'Ya allah aku kasihan sama non Caramel, kalau tau soal pesawat itu'


"Mbak, pelacaan Calamel ko, khawatil ya mba," Kata Caramel bingung menahan isak tangis.


"Non-"


"Caramel" Panggil Mikael menuruni tangga dengan tas punggungnya. Dia langsung menuju dapur dimana Caramel di gendong oleh Mbak Lastri


"Kakak,"


"Mbak, tolong jagain Caramel bentar ya mba"


"Iya den"


"Kakak mau kemana?,"


Mikael tersenyum "Caramel, Cara disini dulu ya kakak ada kerja kelompok. Caramel disini aja ya sama mbak," Mikael lalu beralih pada ART itu.


"Yaudah mba, Cara, kakak pergi" ucap Mikael lirih menatap wajah polos adiknya.


"Baik den," Sahut Mbak Lastri sementara Caramel hanya mengoleng kepala.


Mikael segera menghampiri Rasya di teras Rumah, sahabatnya itu terlihat mencari informasi tentang kecelakaan pesawat.


"Lo yang sabar,"


"Kita ke bandara sekarang," gumam Mikael, menatap kosong memikirkan nasib orang tuanya.


"Yaudah yuk" Rasya menuntun sahabatnya menuju mobil sport milik nya.


Rasya langsung menancap gas, membelah jalan siang hari yang nampak kelihatan sepi karena ini jam kerja, hanya beberapa orang berlalu lalang.


Kedua pria itu sudah memasuki kawasan bandara. Mikael membuka sabuk pengaman dan melenggang pergi tanpa menunggu Rasya yang sedang memarkirkan mobilnya, Rasyapun mengikuti Pria yang terlihat panik.


Mikael dan Rasya pun menghampiri resepsionis. Akan tetapi banyak orang yang mengantri panjang, ada beberapa dari mereka dilihat oleh Rasya berpikir bahwa mereka keluarga korban kecelakaan pesawat. Jadi dia menahan sahabatnya untuk melangkah menerobos kerumunan itu.


"Lo tenang dulu,"


"Gimana gue bisa tenang, sedangkan ayah, ibu gue gimana disana," gumam Mikael.


"Iya, gue tau Mik, tapi 'kan lo harus sabar"


kerumunan semakin sedikit, Mikael langsung maju.


"Pak tolong saya, tolong orang tua saya" ucapnya cepat Mikael dengan linangan air mata.


"Tenang ya dek,"


"Pak saya lihat list penumpang garuda" seru Rasya. Resepsionis itu menyerahkan korban jatuhnya pesawat garuda. Dan secara berurutan terdapat nama Tias dan Dody tak lain adalah orang tua dua bersaudara itu.


Bagai di sambar petir disiang bolong, dunia Mikael runtuh, air matanya kembali turun, setelah mendapatkan nama orang tersayang menjadi korban kecelakaan dan lebih parahnya lagi, korban pesawat itu sudah terdeteksi meninggal. Hanya ada beberapa orang yang terselamat.


"Ini ga mungkin" tutur Mikael, dia tertawa kecil. Nampak pria itu tak percaya. Rasya sesegera menopang sahabatnya, dia dapat merasakan betapa hancurnya hidup Mikael dan juga anak sekecil Caramel, kalau tahu soal kedua orang tua mereka.


Hari berikutnya, adalah hari yang membuat Caramel bingung. pasalnya tetangga berlalu lalang mengucapkan belasungkawa, teras depan terdapat bendera kuning. Sebenarnya ada apa???.. Banyak pertanyaan yang muncul dibenak anak berusia tiga tahun itu.


...Flashback off...


10 tahun kemudian


"Kakak" panggil Caramel dengan suara cedelnya kepada Dave, mereka adalah sepasang kekasih. kini gadis itu tumbuh menjadi gadis manja, periang dan cengeng.


"Hm," Dave sibuk melepas tali sepatu Caramel, mereka baru saja pulang sekolah. Tadi Mikael sengaja menitipkan Caramel dengannya, karena calon kakak iparnya sedang pergi keluar negeri, bulan madu bersama istrinya.


"Kakak sayang ga sama Amel?," tanya Caramel.


"Emm....gak sayang," jawabnya tanpa menoleh ke arah gadis itu.


......................