
"Caramel uhuy.." pekik Melda membawa segelas cokelat panas di tangannya.
"Berisik Melda" cibir Caramel kembali memasang earphone ke kupingnya menatap sebal Melda.
Tangan Melda terulur mencabut benda di telinga Caramel, "Anak kecil nggak boleh pakai beginian" ucapnya di balas deheman datar Caramel.
"Lo kenapa sih, kok tiba-tiba mellow gini? Ada yang sakit?" Caramel menggeleng kecil menjawab pertanyaan gadis di hadapannya.
"Gapapa"
"Kalau lo bilang gapapa pasti ada apa-apanya"
"Beneran" jawab Caramel menyungging senyum simpul.
"Oya gue lupa, gue kesini bawa coklat lo" Melda meletakkan nampan gelas berisi coklat panas diatas nakas.
"Makasih Mel"
"Gue bosen nih, nonton drakor yuk. Gue punya drama korea baru bentar" Melda meraih tas ranselnya, merogoh mencari CD drama korea.
Sementara Caramel beranjak mengambil laptop di meja belajarnya. Rasanya dia sangat malas, tapi untuk menyenangkan sahabatnya itu jadinya dengan sangat terpaksa dia beranjak dari kasur. Belum lagi mikirin perkataan kakak kelas sialan itu, siapalagi kalau bukan Novi.
***
Selepas mengajar Novi Dave pulang ke apartemennya, mengantuk rasanya mengajar orang yang kurang mengerti mengerti padahal dulu Novi adalah salah satu murid teladan terbukti kelas sepuluh dan sebelas dia bisa naik. Lah ini kelas duabelas pintar tidak bloon iya, batin Dave.
Tok. tok, tok..
"Kak makan yuk. Kak Dave?" tak mendapatkan sahutan, Diva membuka knop pintu. Ah rupanya kakaknya sedang tidur masih lengkap dengan seragamnya, sepertinya Dave sangat lelah.
Diva menutup pintu kamar Dave, tidak ingin mengganggu pemuda itu.
***
"Apaansi kak gaje banget marah-marahnya. Lagipula Caramel udah siap, dan belum jam tujuh kan. Stop nyalahin Caramel, aku berangkat assalamualaikum" celetuk Caramel yang mulai jengah memilih pamit dan pergi menarik tangan Dave.
"Walaikumsalam"
"Udah ngomelnya?" tanya Rara dan Mike hanya manggut-manggut. keduanyapun lekas ke kamar.
Sesampai di kamar Mike merasa ada yang janggal terhadap perutnya, ada paksaan untuk mengeluarkan isinya. Mike dengan terburu-buru masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isinya sampai membuat Rara heran, diapun cepat menghampiri suaminya dan memijit tengkuk Mike.
"Kamu gapapa?" Mike menggeleng.
"Hem gapapa." Mike memeluk Rara dari belakang dan menaruh kepalanya di ceruk leher istrinya manja.
"Itu aku udah bilang, kamu ga usah marah-marah nggak jelas. Lihat akibatnya kamu jadi muntah-muntah."
"Iya, minta maaf yank."
"Mike lepasin ah, aku mau turun kebawah!"
"Biarkan seperti ini sebentar saja," mohon Mike berbisik tepat dekat telinga Rara membuat wanita itu kegelihan.
"Yank kita olahraga pagi yuk?"
Rara membolakan matanya seakan mengerti kata olahraga yang dimaksud Mike "Kamu nggak kerja?"
"Malas, lagian aku pengen di manja-manjaan sama istriku." serunya terus menciumi leher istrinya.
"Jangan gitu ah, tambah geli tau. Ini juga masih jam segini, kok minta ja- eumttt" omelan Rara terpotong ketika Mike cepat-cepat membalikkan tubuhnya, dan langsung menyambar mencium bibir mungil istrinya.
"Please" bisiknya dengan suara serak seperti terhipnotis wanita yang beberapa bulan menjadi istrinya itu mengangguk artinya dia ikut hanyut dalam permainan bruntal suaminya. Sedangkan Mike menyunggingkan senyum seringai tipis, langsung saja pria itu menggendong Rara tanpa aba-aba membuat Rara terkaget bukan main tapi tangannya dengan erat melingkar ke leher Mike.
...----------------...